3 Fakta yang Mengubah Pandangan Kamu Tentang Keluarga LGBTIQ

posted on 19/05/2015

IDAHOT2

“Kemungkinan seorang anak disakiti oleh orang tua mereka, tidak perlu melihat identitas gender dan orientasi seksual yang dimiliki, melainkan bagaimana cara mereka merawat anak-anak mereka.”

 

Saat ini, di beberapa negara sudah melegalkan pernikahan sesama jenis. Namun, di negara-negara lain, termasuk Indonesia, pernikahan yang dilakukan oleh Lesbian, Gay, maupun Transeksual masih dilarang. Ini mungkin dikarenakan mitos-mitos yang ada di masyarakat terkait pernikahan sesama jenis, terutama saat pasangan ini memutuskan untuk mengadopsi anak. Mitos-mitos tersebut tidak hanya ada di negara ini, melainkan hampir di semua negara. Nah, kali ini GueTau akan berbagi informasi terkait mitos dan fakta seputar keluarga yang dibentuk oleh komunitas LGBTIQ.

 

  1. Mitos: Anak-anak yang diadopsi oleh pasangan LGBTIQ akan menjadi LGBTIQ juga.

IDAHOT3

Fakta: Tidak ada bukti yang mendukung mitos tersebut. Bahkan, berbagai data menunjukkan bahwa seorang anak yang dirawat oleh orang tua LGBTIQ tidak memiliki kemungkinan lebih besar daripada anak yang dirawat oleh orang tua heteroseksual untuk menjadi LGBTIQ. Ini dibenarkan oleh salah satu penelitian yang dilakukan oleh psikolog psychologist Charlotte J. Patterson dari University of Virginia menemukan bahwa secara statistik dapat diindikasikan bahwa anak-anak tidak meniru identitas gender dan identitas seksual orang tua mereka.

 

 

  1. Mitos: Berbagai masalah psikologis, perkembangan, dan sosial, akan dialami oleh anak yang dibesarkan oleh pasangan LGBTIQ.

IDAHOT4

Fakta: Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat selama 25 tahun, ditemukan data bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara  risiko yang dimiliki anak yang dibesarkan oleh orang tua heteroseksual ataupun LGBTIQ untuk mengalami berbagai permasalahan psikologis, perkembangan, dan sosial saat mereka besar nanti.

 

  1. Mitos: Diadopsi oleh pasangan LGBTIQ akan menyakiti anak-anak.

IDAHOT5

 

Fakta: Lebih banyak kasus dimana orang tua melakukan tindakan kekerasan terhadap anak-anak mereka. Kita bisa lihat di berbagai pemberitaan di TV, koran, maupun internet. Ini berarti kemungkinan seorang anak disakiti oleh orang tua mereka, tidak perlu melihat identitas gender dan orientasi seksual yang dimiliki, melainkan bagaimana cara mereka merawat anak-anak mereka. Lagipula, daripada tinggal tanpa rumah atau keluarga yang mencintai, akan lebih baik bagi anak-anak untuk tinggal dan hidup dengan orang tua LGBTIQ., karena mereka membutuhkan cinta dan perlindungan dari orang tua, tak peduli orientasi seksual yang dimiliki oleh orang tuanya.

 

Untuk Sahabat GueTau yang ingin tahu lebih banyak tentang mitos dan fakta seputar keluarga LGBTIQ, silahkan kirimkan pertanyaan ke info@guetau.com.

 

Ditulis oleh Fatimah

 

Referensi:

  1. http://people.howstuffworks.com/5-gay-parenting-myths.htm
  2. http://www.lifelongadoptions.com/10-lgbt-adoptive-parents/131-lgbt-adoption-myth-vs-fact
  3. http://www.washingtonpost.com/opinions/five-myths-about-same-sex-marriage/2012/05/11/gIQAtmLoIU_story.html

related post

4 Hal yang Membuat Kamu Perlu Melakukan Tes dan Konseling HIV dengan Segera!

posted on 03/11/2016

Halo Sobat GueTau, gak terasa ya kita sudah memasuki bulan November! Kurang dari sebulan lagi, kita akan merayakan Hari AIDS Sedunia yang bi

6 Tips Bersih-Bersih Buat Cowok

posted on 14/12/2015

Sumber “Menurut suatu studi yang melibatkan para mahasiswa di Turki, hanya 47,6% dari mereka yang mengganti celana dalamnya setiap hari.

Indahnya Melihat Gender sebagai Pelangi

posted on 17/11/2015

Sumber “Seperti warna-warna pada pelangi, gender terbentang pada suatu spektrum, bukan hanya dua kategori biner lelaki-perempuan. “ Halo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + 5 =