Karena Hak Itu Milik Semua Orang

posted on 28/09/2013

 

 

 

 

 

 

Memaknai Hak

Hak adalah suatu bentuk yang unik, sering diperjuangkan dan diagung-agungkan. Hak adalah sebentuk kesadaran bahwa kita adalah makhluk sosial dan makhluk bernegara. Sering kali hak menjadi tidak mungkin dan seolah-olah sebuah kejahatan, ketika hak tersebut hanya disuarakan oleh golongan yang kecil. Hak, nikmat istimewa yang tidak dengan mudah didapatkan oleh semua orang.

 

Kesetaraan Gender dan Aborsi

 Beberapa minggu yang lalu, saya memiliki kesempatan berharga untuk menghadiri sebuah training dengan tema safe abortion. Bukan hal baru bagi diri saya mendengar istilah tersebut, namun menjadi sebuah training yang menantang pengetahuan dan keyakinan saya. Landasan saya mengikuti training ini adalah rasa percaya saya  terhadap kesetaraan antara pria dan perempuan. Saya percaya bahwa pada dasarnya tidak ada yang lebih unggul dan tidak ada yang pantas siapa yang menentukan perempuan dan pria ada berada di mana.

Training tersebut dilaksanakan selama lima hari dengan berbagai macam materi. Materi-materi yang diberikan antara lain: Gender dan Patriarki dan hubungannya dengan isu aborsi yang aman, mengapa aborsi aman itu penting dijamin legal di sebuah Negara dan kampanye-kampanye safe abortion di berbagai media. Bukan hal yang mengejutkan memang jika di dalam materi yang disampaikan, ada hubungan patriarki dengan isu aborsi. Friedrich Engels pernah menuliskan di dalam bukunya, Asal Usul Keluarga, bahwa asal mula terjadinya ketimpangan relasi antara perempuan dan pria terjadi ketika manusia tidak lagi nomaden dan memulai kehidupan pertanian. Di sanalah asal mula perempuan menjadi kepemilikan seperti layaknya harta, karena perempuan menjadi salah satu asset yang dianggap dapat menjaga harta atau hasil dari pertanian tersebut. Peran perempuan yang sebelumnya dianggap mulia, lambat laun menurun, karena perannya yang mulai dibatasi. Perempuan tersingkirkan dalam panggung dunia, didudukkan di kursi penonton dan menjadi pemandu sorak jika diperlukan.

Sejarah akan kisah-kisah dewi perempuan, seolah-olah tenggelam di telan arus deras sejarah pria atas kehebatannya menaklukkan suatu wilayah, lautan bahkan padang pasir. Peradaban mengerak di genggaman pria, kesadaran perempuan dibatasi dalam ranah-ranah tertentu salah satunya adalah integritas tubuh. Perempuan disingkirkan dalam pembicaraan kebertubuhan. Hal ini berdampak kepada, seperti apa harusnya perempuan menentukan apa yang terbaik untuk dirinya, termasuk apakah perempuan dapat melakukan aborsi bagi dirinya.

Ketika dihadapkan pada pilihan aborsi dan melanjutkan kandungan, bukan sebuah pilihan yang bisa dengan mudah diambil oleh perempuan. Ada banyak tekanan yang hadir dan menghantui perempuan. Misal, tekanan keluarga, lingkungan bahkan Negara. Jika sebelumnya saya percaya bahwa sudah menjadi tanggung jawab perempuan jika ia mengalami kehamilan maka ia bertanggung jawab untuk meneruskan kandungan tersebut. Namun, jika dihadapi pada masalah kehamilan yang tidak diinginkan, bagaimana posisi perempuan sebaiknya? Jika ia masih sekolah, mengalami pemerkosaan atau dihamili oleh keluarga terdekatnya atau jika memang ia sendiri tidak memahami bahwa kehamilan bisa terjadi pada perempuan yang sudah mengalami menstruasi. Posisi apa yang seharusnya perempuan ambil untuk mengatasi kehamilannya?

 

Menentukan Pilihan

Sejenak saya pernah berfikir, apakah aborsi menjadi pilihan terbaik baginya? Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Tergantung pada kondisi setiap kasus dan kehendak perempuan tersebut yang tentu saja keputusan ini harus diiringi dengan konsultasi dan pemahaman yang mendalam mengapa perempuan dapat mengambil keputusan tersebut. Selain itu, jika dipikirkan kembali akan sangat disayangkan jika ternyata kehamilan tersebut dapat menganggu pendidikannya atau kehidupannya di masa mendatang. Memiliki anak bukan akhir dari segalanya, namun jika ia sendiri tidak siap untuk memiliki anak baik secara psikologis maupun ekonomi. Bukankah akan memberikan dampak terburuk bagi ia dan anaknya di masa mendatang?

Sejenak pula saya pernah berfikir, bagaimana dengan dosa yang nantinya akan dihadapi oleh perempuan yang melakukan aborsi? Lalu saya teringat dengan satu ungkapan bahwa jika kemudharatan yang lebih banyak akan terjadi, maka lebih baik memilih kemudharatan yang sedikit. Artinya, jika sejak awal kehamilan tersebut merupakan suatu hal yang tidak diinginkan, maka akan memberikan dampak pengaruh buruk yang lebih besar jika diteruskan.

Aborsi merupakan hak bagi perempuan. Aborsi yang aman adalah kewajiban bagi Negara untuk menyediakan pelayanannya. Bukan perkara yang mudah dan bisa dipahami dengan baik oleh siapapun di Negara ini. Saya memahami kondisi ini, karena jika orang terdekat saya pun ditanya tentang hal ini, belum tentu akan memiliki pemahaman yang sama seperti saya. Namun satu hal yang saya yakini, bahwa hak adalah milik semua orang dan Negara wajib melindunginya karena itu adalah konsekuensi dari Negara terhadap warganya.

 

Ditulis oleh Faiqoh

related post

Menyaksikan Aksi Women’s March Jakarta Melalui Bidikan Kamera

posted on 05/03/2017

“Aksi ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional.” Sebanyak 700 orang hadir dalam aksi Women’s

Kenapa Aborsi Masuk Dalam Kategori Hak Asasi?

posted on 29/01/2017

“Aborsi selalu jadi kontroversi.” Kontroversi mengenai aborsi sepertinya tidak akan selesai sampai waktu dekat, ya, Sahabat GueT

Hantu Perempuan dan Perkosaan

posted on 14/03/2016

“Perilaku korban pemerkosaan akan berubah, korban akan menarik diri dari lingkungan, dan mengalami gangguan psikis seperti menyalahkan dir

One thought on “Karena Hak Itu Milik Semua Orang

  1. D. says:

    Reproduksi dan sexualitas memang hak semua orang, termasuk perempuan, termasuk di dalamnya hak untuk aborsi, hamil atau tidak hamil, dll. Namanya hak, maka ada kebebasan dr orang tsb untuk mengambilnya/melaksanankannya atau tidak. Bila seorang perempuan memilih untuk aborsi, maka kita harus menghargai pilihan itu, tidak berhak menghakimi, dan Negara sudah sepantasnya melindungi hak setiap warganya. Namun, perrjuangan masih panjang….. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × four =