Di Nepal, Menstruasi Berarti Pengasingan

posted on 10/03/2016

    “Tradisi ini pernah merenggut nyawa seorang perempuan bernama Sarmila Bhul.”

Beberapa waktu lalu, GueTau pernah memuat artikel mengenai tradisi menstruasi di berbagai belahan dunia. Kali ini GueTau akan mengupas tradisi menstruasi di Nepal.

Artikel ini terinspirasi dari sebuah dokumenter web karya Dirk Gilson yang dipublikasikan oleh Aljazeera. Dalam dokumenter ini, seorang perempuan asli Nepal yang bernama Sabrina menceritakan pengalamannya menjalankan tradisi pengasingan selama menstruasi.

Sahabat GueTau penasaran kan? Scroll down untuk tahu lebih banyak!

Sama seperti tradisi pengasingan saat menstruasi di wilayah lain, perempuan di Nepal dipaksa keluar dari rumah setiap bulannya. Hal ini dilakukan karena dianggap sedang dalam keadaan yang tidak suci. Tradisi yang berasal dari kepercayaan nenek moyang di Nepal yang bernama Chauppadi (terjemahan sembarang: tidak tersentuh) ini berlaku kepada setiap perempuan, baik yang muda maupun yang tua.

Tradisi ini dilakukan karena pemimpin agama yang dianut Chauppadi tidak dapat menjelaskan siklus menstrausi bulanan pada perempuan, maka disimpulkan bahwa darah menstruasi adalah darah kotor dan dapat mengancam.

Darah menstruasi adalah darah kotor dan dapat mengancam.

Perempuan yang diasingkan ini akan tidur di sebuah gubuk (beberapa gubuk dibuat di bawah tanh) yang dingin selama menstruasi. Mereka tidak diperbolehkan mendekati rumahnya, bahkan menggunakan air. Makanan tetap diberikan oleh warga sekitar, namun dilempar dari jarak yang dianggap ‘aman’ –semacam batas suci.

Sebenarnya, tradisi ini sudah dianggap ilegal oleh pemerintah, namun tetap dilaksanakan di beberapa wilayah. Salah satu wilayah yang terus melaksanakannya adalah dataran tinggi di Nepal, seribu kilometer dari Kathmandu, ibu kota Nepal. Wilayah tersebut cukup terbelakang, jauh dari akses jalan dan pendidikan. Perempuan muda tidak bisa sekolah karena alasan ekonomi.

Sebagai penutup masa pengasingan, perempuan yang sudah selesai menstruasi diwajibkan menjalankan tradisi peenyucian kembali. Caranya? Jangan kaget, mereka harus meminum urin kerbau. Kerbau dianggap suci dan bisa menyucikan najis perempuan sehabis menstruasi. Urin harus diambil oleh perempuan lain yang belum menikah.

Jangan kaget, mereka harus meminum urin kerbau.


Tradisi pengasingan ini pernah merenggut nyawa seorang peremuan bernama Sarmila Bhul. Ia meninggal di gubuk tempatnya diasingkan. Kematian Sarmila disebabkan oleh cauca yang sangat dingin dan kekurangan oksigen.

Pada 2006, pemerintah memusnahkan beberapa gubuk pengasingan. Namun demikian, perempuan di Nepal bagian barat tetap harus menjalankan tradisi ini. Karena tanpa gubuk, perempuan yang sedang menstruasi terpaksa tidur di luar rumah tanpa atap dan perlindungan.

Sedih sekali ya. Padahal, jika sedikit saja menerima pengetahuan tentang apa yang terjadi pada tubuh perempuan setiap bulan, hal semacam ini tidak perlu terjadi. Terbukti bahwa pengetahuan kita tentang tubuh dan apa yang terjadi dengan tubuh kita sangat penting.

Apakah ada tradisi semacam ini yang kamu tahu? Jangan ragu untuk berbagi dengan GueTau via info@guetau.com atau justian@guetau.com ya!

———-
Sumber:

Banished: Why Menstruation Can Mean Exile

related post

Anti Bocor dengan Menstrual Cup

posted on 20/08/2016

“…karena bahan dari menstrual cup yang terbuat dari silikon, alat ini dapat bertahan lebih dari satu kali pakai atau jangka wakt

#TanyaGueTau: Tampon!

posted on 18/08/2016

“Tampon dapat mengikuti gerak tubuh dan memiliki daya serap yang tinggi sehingga kita seperti tidak sedang berada dalam siklus menstru

Penemuan Pembalut Higienis nan Murah di India

posted on 22/03/2016

“Menstruasi adalah proses yang secara biologis memang eksklusif untuk kaum perempuan. Namun, bukan berarti para pria tidak bisa ambil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *