A – Z tentang Pendidikan Seksualitas Komprehensif

posted on 21/11/2013

Situasi Remaja dan anak muda Indoensia

Saat ini populasi remaja dan anak muda berusia 10‐24 tahun mencapai lebih dari seperempat dari total populasi penduduk Indonesia. Namun demikian, meskipun di tingkat global kesadaran akan pentingnya kesehatan reproduksi remaja dan anak muda kini meningkat, nampaknya remaja dan anak muda Indonesia jauh tertinggal dibelakang. UNGASS menyepakati bahwa pada tahun 2010, ditargetkan 95% remaja dan anak muda memiliki pengetahuan, keahlian, dan akses ke pelayanan kesehatan sehingga bisa melindungi mereka terhadap infeksi HIV. Kenyataanya berdasarkan data Survei Kesehatan Reproduksi Remaja dan anak muda tahun 2007 hanya tercapai 16.8%.

 

Pentingnya Pendidikan Seksualitas yang Komprehensif

Fakta‐fakta dibawah ini yang diambil dari Survei Kesehatan Reproduksi Remaja tahun 2007, menunjukkan bahwa remaja dan anak muda Indonesia belum mendapatkan haknya untuk mendapatkan akses terhadap informasi dan pelayanan yang bisa melindungi mereka dari infeksi HIV.

  • Satu dari sepuluh remaja dan anak muda Indonesia tidak mengetahui tanda‐tanda pubertas pada laki‐laki dan perempuan.
  • Satu dari empat remaja dan anak muda Indonesia tidak mengetahui periode subur pada remaja dan anak muda perempuan.
  • Setengah dari remaja dan anak muda Indoensia tidak menganggap bahwa behubungan intim satu kali berisiko kehamilan.
  • Dua hingga tiga remaja dan anak muda Indonesia tidak mengetahui metode kontrasepsi yang akan mereka gunakan.
  • Delapan dari sepuluh remaja dan anak muda Indonesia tidak memiliki pengetahuan komprehensif tentang pencegahan dan penularan HIV yang benar.

B. Latar Belakang Pendidikan Seksualitas yang Komprehensif

Pendidikan seksualitas sangat penting mengingat hal‐hal berikut ini:

  • Seksualitas merupakan bagian fundamental dari makhluk hidup; seksualitas mencakup dimensi fisik, psikologis, spiritual, sosial, ekonomi, pilitik, dan budaya.
  • Pemahaman seksualitas harus dibarengi dengan pemahaman gender
  • Keberagaman merupakan karakteristik dasar dari seksualitas
  • Peraturan yang terkait dengan perilaku seksual berbeda‐beda antar budaya. Pada budaya tertentu, beberapa perilaku dapat diterima sedangkan beberapa perilaku tidak dapat diterima. Namun demikian, tidak berarti perilaku tersebut tidak terjadi, ataupun tidak perlu dibicarakan pada diskusi dalam konteks pendidikan seksual.

 

Terbatasnya jumlah remaja dan anak muda yang memiliki pengetahuan maupun keterampilan yang cukup terkait dengan kehidupan seksualnya, menyebabkan banyak remaja dan anak muda yang berisiko terhadap permasalahan eksploitasi seksual, kehamilan yang tidak direncanakan, infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV, maupun stigma dan diskriminasi. Banyak remaja dan anak muda yang mencapai usia kedewasaan tanpa persiapan sehingga menyebabkan mereka mengalami konflik dan kebingungan terkait dengan seksualitas dan gender. Hal ini dikarenakan topik seksualitas masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan oleh orang dewasa, termasuk orang tua dan guru. Padahal kenyatannya, pada usia tersebut remaja dan anak muda sangat membutuhkan informasi yang benar dan lengkap terkait dengan seksualitas dan gender.

Pada beberapa konteks, remaja dan anak muda sudah menikah pada usia belia, ataupun sudah matang dan aktif secara seksual. Namun pada konteks lainnya, beberapa remaja dan anak muda memutuskan untuk menunda hubungan seksual atau pernikahan sampai usia tertentu. Menyadari keberagaman remaja dan anak muda, maka beberapa negara merasa perlu untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi remaja dan anak muda agar bisa mengambil keputusan terkait dengan kehidupannya. Hal ini sangat penting mengingat pengetahuan remaja dan anak muda usia 15‐25 tahun tentang HIV dan AIDS secara komprehensif masing sangat rendah, dan jauh dari target MDGs maupun UNGASS.

Pendidikan seksualitas yang efektif harus disesuaikan dengan umur remaja dan anak muda, budaya dan konteks kehidupan remaja dan anak muda, serta memberikan informasi yang akurat. Hal tersebut mencakup kesempatan bagi remaja dan anak muda untuk mengeksplorasi sikap dan nilai, serta kemampuan pengambilan keputusan ataupun keterampilan hidup lainnya yang dibutuhkan remaja dan anak muda untuk dapat membuat keputusan terkait dengan kehidupan seksualnya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan seksualitas yang komprehensif dapat bermanfaat:

  • Mengurangi kesalahan konsep
  • Meningkatkan pengetahuan yang benar
  • Mengklarifikasi dan memperkuatkan nilai dan sikap positif
  • Meningkatkan keterampilan dalam pengambilan keputusan
  • Meningkatkan persepsi tentang norma kelompok dan sosial
  • Meningkatkan komunikasi dengan remaja dan anak muda ataupun orang dewasa yang terpercaya

 

Penelitian juga menunjukkan bahwa program yang memilliki manfaat diatas dapat:

  • Menunda hubungan seks
  • Menurunkan frekeunsi hubungan seks tidak aman
  • Menurunkan jumlah partner seks
  • Mengurari risiko kehamilan yang tidak direncanakan serta risiko penularan infeksi menular seksual (IMS) dan HIV.

 

C. Tujuan

Tujuan utama dari pendidikan seksualitas adalah mempersiapkan remaja dan anak muda dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai untuk membuat keputusan terkait dengan kehidupan sosial dan seksualnya untuk mencegah perilaku berisiko.

 

D. Batasan umur

Topik dan tujuan pembelajaran menyasar ke empat kelompok umur:

1. Umur 5‐8 tahun (Tingkat I)

2. Umur 9‐12 tahun (Tingkat II)

3. Umur 12‐15 tahun (Tingkat III)

4. Umur 15‐18 tahun lebih (Tingkat IV)

 

E. Sasaran

Sasaran dari pendidikan seksualitas yang komprehensif adalah remaja dan anak muda usia mulai dari 5 tahun hingga lebih 18 tahun yang berada di lingkungan sekolah/perguruan tinggi ataupun remaja dan anak muda yang tidak mendapatkan kesempatan sekolah. Sangat penting untuk mengakomodasi semua remaja dan anak muda karena masing‐masing memiliki kebutuhan dasar yang sama untuk pendidikan seksualitas yang komprehensif, namun dengan pendekatan yang berbeda.

 

F. Komponen pembelajaran

Topik dan tujuan pembelajaran mencakup empat komponen proses pembelajaran, antara lain:

  1. Informasi: pendidikan seksualitas memberikan informasi yang akurat tentang seksualitas  manusia, termasuk: pertumbuhan dan perkembangan, anatomi dan fisiologi seksual, reproduksi, kontrasepsi, kehamilan dan persalinan, HIV dan AIDS, infeksi Menular Seksual  (IMS), kehidupan keluarga dan hubungan interpersonal, budaya dan seksualitas, HAM dan pemberdayaan, non‐diskriminasi, kesetaraan dan keberagaman peran gender, perilaku seksual, keberagaman seksual, kekerasan seksual, kekerasan berbasis gender, praktek/ ritual berisiko.
  2. Nilai, sikap, dan norma sosial: pendidikan seksualitas memberikan kesempatan kepada remaja dan anak muda untuk mengeksplorasi nilai, sikap, dan norma (pribadi, keluarga, teman sebaya, dan komunitas) yang terkait dengan perilaku seksual, kesehatan, dan tindakan berisiko, pengambilan keputusan, dengan memperhatikan prinsip toleransi, penghargaan, kesetaraan dan keberagaman gender, HAM, dan keadilan sosial.
  3. Keterampilan interpersonal dan hubungan: pendidkan seksualitas dapat mengembangkan keterampilan remaja dan anak muda dalam hal pengambilan keputusan; komunikasi asertif, negosiasi, dan melakukan penolakan. Perilaku ini dapat berkontribusi pada hubungan kekeluargaan, persahabatan, maupun romansa cinta yang lebih baik dan produktif.
  4. Tanggung jawab: pendidikan seksualitas dapat mendorong remaja dan anak muda untuk bertanggung jawab atas segala tindakannya dengan cara penghargaan, penerimaan, toleransi, dan empati terhadap orang lain, tanpa melihat status kesehatan, status sosial ekonomi, peranan gender, maupun orientasi seksual. Pendidikan seks juga mendoring remaja dan anak muda untuk memahami tentang kesetaraan gender, menolak kekerasan dalam pacaran atau seks dengan paksaan, sex yang lebih aman termasuk penggunaan kondom dan kontrasepsi yang benar.
  5. Peer educartor, peran sebaya dalam memberikan informasikan

 

G. Struktur materi

Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah disebutkan sebelumnya, maka materi

pendidikan seksualitas dibagi ke dalam enam topik:

1. Hubungan dengan orang lain

2. Nilai, sikap, dan keterampilan

3. Budaya, masyarakat, dah HAM

4. Perkembengan dan pertumbuhan manusia

5. Perilaku seksual

6. Kesehatan seksual dan reproduksi

 

H. Gambaran Konsep Dasar dan Topik

Tabel berikut merupakan gambaran konsep dasar dan topik yang bisa menjadi rekomendasi bagi

pengembangan kurikulum pendidikan seksualitas yang komprehensif.

 

Ditulis oleh Fita Rizki Utami

Referensi:

  1. Aliansi Remaja Independen (2010). Fact sheet Status Kesehatan Reproduksi Remaja  Indonesia. Jakarta.
  2. BPS, BKKBN, Depkes (2008). Survei Kesehatan Reproduksi Remaja 2007. Jakarta.
  3. Komisi Penanggulan AIDS Nasional (2009). Country Report on the Follow up to the Declaration of Commitment On HIV/AIDS (UNGASS): Reporting Period 2008 2009. Jakarta.
  4. UNESCO, UNAIDS, UNAIDS, UNICEF, WHO (2009). International Technical Guidance on Sexuality Education. Prancis.

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 4 =