Hapus Stigma, Peduli Sesama, Sayangi Jiwa

posted on 04/09/2013

Sahabat GueTau, sudah baca artikel mengenai bunuh diri ini sebelumnya? WHO sejak tahun 2003 telah menganggap issue bunuh diri ini sebagai sebuah issue yang sangat serius, bekerjasama dengan International Association of Suicide Prevention (IASP) maka dimulailah Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada setiap tanggal 10 September. Setiap tahunnya, IASP mengeluarkan tema-tema yang berbeda untuk merayakan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Tema tahun ini sendiri adalah Stigma : Rintangan Besar untuk Pencegahan Bunuh Diri.

 

Berdasarkan data dari WHO, bunuh diri telah menjadi masalah besar bagi kesehatan masyarakat di negara berpenghasilan tinggi dan menjadi masalah yang terus meningkat jumlahnya di negara berpenghasilan rendah dan sedang. Bunuh diri telah menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi, terutama pada anak muda. Hampir satu juta orang meninggal setiap tahunnya akibat bunuh diri. Ini berarti kurang lebih setiap 40 detik terdapat 1 korban bunuh diri. Jumlah ini melebihi daripada jumlah akumulasi kematian akibat pembunuhan dan korban perang. Penulis menemukan setidaknya 22 berita dari berbagai website mengenai aksi bunuh diri yang dilakukan remaja dengan rentang usia 12 – 23 tahun sepanjang Januari hingga November 2012 dan terdapat setidaknya 20 kasus bunuh diri yang dilakukan oleh pelajar dari berbagai daerah di Indonesia dengan rentang usia 15 – 18 tahun sepanjang Januari – Mei 2013. Bayangkan berapa banyak peningkatan yang terjadi di tahun 2013 dan perlu dicatat lagi bahwa ini semua hanyalah data yang didapatkan dari berita yang terekspos oleh media. Jumlah ini belum termasuk semua bunuh diri yang tidak terekspos oleh media dan percobaan bunuh diri yang tidak berakhir kepada kematian.

 

Banyak jumlah orang yang menjadi korban bunuh diri menderita dari gangguan kejiwaan sebelumnya. Perkiraan terkini menunjukkan bahwa beban penyakit yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan akan mencapai 25% dari total penyakit di dunia dalam dua dekade berikutnya, membuatnya akan menjadi memasuki kategori penting, bahkan lebih penting daripada kanker dan penyakit jantung. Sayangnya, banyak jumlah orang yang mengalami gangguan kejiwaan dan meninggal akibat bunuh diri ini tidak menghubungi pelayanan kesehatan terdekat. Hal ini disebabkan karena pelayanan kesehatan jiwa sendiri masih sangatlah terbatas. Kondisi di Indonesia sendiri nih, sahabat GueTau, asumsi jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) se-Indonesia telah mencapai 1 juta orang. Diduga, pada tahun 2007, 14,1% penghuni Jakarta memiliki gangguan jiwa dan angka ini semakin meningkat. Sementara itu, di tahun 2013 ini, 22% penduduk Jawa Barat telah mengalami gangguan jiwa ringan. Trend peningkatan jumlah penghuni panti untuk ODGJ pun mulai menanjak. Penghuni Panti Harapan Sentosa 2 Sosial Bina Laras yang menangani pasien ganggunan jiwa di Jakarta Timur, setiap bulannya meningkat 5 sampai 10 persen. Terlalu banyak kasus gangguan jiwa, namun disinyalir ruang perawatan yang tersedia hanya 90.000 tempat di seluruh Indonesia.

 

Sedikitnya akses pelayanan kesehatan jiwa yang layak ini menjadi salah satu dari sekian banyak faktor yang meningkatkan stigma terkait gangguan jiwa dan perilaku serta gagasan bunuh diri. Stigma sejenis ini berakar di banyak masyarakat dapat muncul untuk banyak alasan berbeda. Salah satunya tentu saja karena kekurangan pengetahuan dan ketidakacuhan kita semua. Stigma sejenis ini dapat diatasi dengan mengadakan program edukasi berbasiskan komunitas yang ditargetkan khusus kepada populasi tertentu di dalam komunitas (misalnya berdasarkan umur, tingkat pendidikan, lembaga keagamaan, orientasi seksual, dan lain sebagainya). Tujuan dari program ini sendiri adalah untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai karakteristik dan perawatan untuk orang dengan gangguan kejiwaan ataupun orang dengan masalah perilaku bunuh diri serta ketersediaan sumber bantu individu dengan masalah sejenis.

 

Prasangka negatif terhadap orang yang melakukan bunuh diri dan gangguan kejiwaan seperti dianggap orang yang berdosa, putus asa, lemah, dan bodoh sangatlah banyak beredar di banyak komunitas. Stigma pada tingkat pemerintahan dan pelayanan kesehatan bahwa orang dengan masalah kejiwaan dan perilaku bunuh diri adalah orang yang tak bisa ditolong dan tak bisa disembuhkan juga dapat menjadi masalah tersendiri, seperti perawatan yang kurang maksimal, kurangnya kebijakan yang berpihak kepada pasien gangguan jiwa, kurangnya alokasi dana untuk kesehatan jiwa, bahkan hingga kriminalisasi kepada korban bunuh diri masih berlaku di beberapa negara hingga saat ini. Sikap negatif seperti ini seringkali tidak banyak berubah dengan edukasi mengenai kesehatan jiwa dan perilaku bunuh diri yang membongkar mitos dan fakta.
Oleh karena itu, banyak ragam aktivitas yang dilakukan oleh berbagai negara di belahan dunia untuk merayakan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, seperti :

  • Menyelanggarakan konferensi ilmiah terkait kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri, seminar edukasi, kuliah umum dan diskusi panelis terkait pencegahan bunuh diri
  • Menulis artikel untuk tingkat nasional, regional dan komunitas, di blog hingga majalah.
  • Mengadakan konferensi pers
  • Memberikan informasi pada website yang kamu miliki dan menggunakan banner dari IASP World Suicide Prevention Day sesuai dengan bahasa ibu negara domisili anda. (http://www.iasp.info/wspd/2013_wspd_banner.php)
  • Mengadakan wawancara di radio atau televisi dengan ahli bunuh diri
  • Mengadakan pelayanan memorial, upacara menyalakan lilin, atau berjalan bersama di saat subuh dan gelap menanti matahari terbit untuk mengingat orang-orang yang telah meninggal karena bunuh diri.
  • Mendorong politikus nasional yang bertanggungjawab dalam bidang kesehatan, kesehatan masyarakat, kesehatan jiwa atau pencegahan bunuh diri untuk membuat pengumuman, membuat kebijakan atau menyatakan sebuah pernyataan yang mendukung adanya Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia.
  • Mengadakan event untuk meningkatkan kesadaran depresi dan deteksi depresi.
  • Mengadakan event budaya atau spiritual serta pameran seni terkait
  • Mengadakan jalan bersama menuju ruang publik atau tempat politikus untuk mulai menyoroti pencegahan bunuh diri
  • Menyelanggarakan peluncuran buku, buklet, pamflet dan mendistribusikan leaflets, poster serta informasi tertulis lainnya terkait pencegahan bunuh diri
  • Mengorganisir konser, gala dinner, pesta BBQ, sarapa/makan siang bersama, kontes hingga ragam event hiburan lainnya di tempat umum
  • Menulis untuk jurnal ilmiah terkait penelitian bertopikkan bunuh diri
  • Mengadakan pelatihan dan kursus khusus untuk
  • Membuat video tentang pencegahan bunuh diri
  • Menyalakan lilin, dekat jendela pada pukul 20.00 waktu sekitar setiap 10 September 2013
  • Spesial dimulai tahun ini, juga bisa berpartisipasi dalam gowes World Suicide Prevention Day – Cycle Around the Globe
  • Ikut partisipasi dalam hashtag tweet #WSPD

 

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sendiri, tahun 2013 ini telah dimulai gerakan pertama oleh anak muda untuk issue kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri. Berkerjasama dengan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta LGBTIQ Support Group, Into The Light adalah sebuah gerakan bertemakan “Hapus Stigma, Peduli Sesama, Sayangi Jiwa” yang merancang beberapa jenis promosi untuk peningkatan kesadaran publik terhadap pencegahan bunuh diri, di antaranya adalah :

  • Free hugs campaign yang telah dilakukan di Bunderan HI pada car free day, 1 Agustus 2013 lalu
  • Produksi film berjudulkan Parallel, film ini sendiri bertemakan mengenai homophobic bullying yang bisa berdampak kepada gagasan bunuh diri pada remaja LGBT di Indonesia yang mana Parallel sendiri akan digunakan untuk alat edukasi anti-homophobic bullying ke sekolah-sekolah oleh Arus Pelangi, selaku sponsor utama produksi film ini. Film Parallel ini sendiri bisa kamu tonton di sini : http://www.aruspelangi.or.id/must-watch-pararrel-our-first-ever-anti-homophobic-bullying-campaign-movie/
  • Kultwit mengenai bunuh diri, gambaran umum perilaku dan gejala bunuh diri serta populasi-populasi khusus yang rentan bunuh diri akibat stigma sosial terhadap kelompok mereka, bisa disimak di #WSPD2013ID untuk yang berbahasa Indonesia dan #WSPD2013 untuk yang berbahasa Inggris
  • Puncak acaranya nanti adalah tanggal 7 September 2013, di aula lantai 5 Sekolah Tinggi Teologi Jakarta akan diadakan sebuah acara yang terdiri dari edukasi seminar mengenai bunuh diri dari sudut pandang teologi dan psikologi, performance menarik serta acara ibadah lintas agama untuk mengenang korban bunuh diri. Untuk ikut berpartisipasi dalam acara ini, sahabat GueTau bisa klik join di link ini : https://www.facebook.com/events/423975981055123/ atau bisa juga dengan daftar ke kontak personal yang tersedia
  • Pada tanggal 10 September tepat pada Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, seluruh tim Into The Light akan mengunggah foto seluruh anggota tim ke intothelightid.wordpress.com yang berisikan pesan untuk meningkatkan kesadaran akan pencegahan bunuh diri di Indonesia.

 

Dengan kehadiran rangkain event menyambut Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia ini, semoga semakin banyak pihak terutama anak muda yang menyadari pentingnya kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri di Indonesia. Karena satu nyawa generasi muda penerus bangsa yang hilang berarti terlalu banyak untuk semua.

related post

Ada Apa Dengan Kasus Bunuh Diri?

posted on 23/03/2017

  “Dalam seminggu, ada dua kasus bunuh diri terjadi.” Minggu ini, publik dikejutkan dengan kasus bunuh diri yang terungkap dan

Saatnya Remaja Ambil Bagian Mencegah Penyalahgunaan Napza!

posted on 25/06/2014

Kasus penyalahgunaan Napza di Indonesia tampaknya terus meningkat tiap tahunnya. Pada Tahun 2013, Badan Narkotika Nasional (BNN) mendata seb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − fourteen =