Pendidikan Seks: Antara Kemunafikan Masyarakat dan Kesehatan Bersama

posted on 02/01/2013

Kenapa pendidikan seks itu penting bagi anak muda?

Karena, jujur saja, anak muda melakukan seks. Di luar pernikahan, di dalam pernikahan, semasa pacaran… Di dalam agama, di luar agama. Sama saja. Impuls seks itu manusiawi, relasinya terhadap nilai moral (agama dan kultural) muncul sembari impuls itu terus berjalan. Namun yang biologis biasanya lebih ambil alih. Ambil sebagai contoh fakta yang dikatakan seorang vegetarian kepada saya: bahwa memakan sepiring daging itu sama dengan mengambil hak puluhan orang untuk makan di Afrika. Namun rasanya seorang yang telah tak makan berhari-hari takkan peduli fakta ini ketika dihadapkan dengan sepiring daging. Begitu juga kenapa orang-orang mencuri sendal di mesjid. Begitu juga kenapa berpacaran di kuburan menjadi sebuah kata lucu-lucuan (begitu seringnya hingga dijadikan lawakan).

Mari kita hadapi fakta bahwa 62% remaja tidak perawan (KPAI, 2012. Indikator keperawanan, meski tak sah sebagai indikator hubungan seksual, merupakan data baru yang tersisa yang bisa saya raih.) sebagai sebuah tanda bahwa mereka melakukan seks. Saya sebagai anak muda merasa sendiri bahwa di kebanyakan kalangan di lapangan, seks masih merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. (Bagi saya sendiri, ini sangat terasa ketika SMA.) Namun sebagaimana ditunjukkan data tersebut, diperkirakan jauh lebih dari setengah remaja telah melakukan hubungan seks. Apa maksudnya ini?

Untuk saya, itu menunjukkan bahwa masih ada semacam stigma terhadap mereka yang telah melakukan hubungan seks pra-nikah, tapi stigma ini direpresi oleh kebutuhan–atau bahkan keinginan–biologis untuk berhubungan badan. Di tengah stigma, di tengah tantrum moral anti-seks pra-nikah, remaja tetap bersenggama dengan asyiknya. Apakah para orang tua gagal? Apakah pendidikan agama gagal? Apakah remaja sekarang mengalami kemerosotan moralitas?

Kurasa, orang tua dan pendidikan agama tidak gagal. Buktinya, stigma itu tetap ada dan seringkali terasa. Fakta bahwa remaja tetap berhubungan seks adalah fakta bahwa “biologisitas” bisa melawan permusuhan di dalam diri sendiri, persis seperti orang yang mencuri sendal di mesjid. Agama merepresi seksualitas dengan menanamkan rasa takut, namun rasanya ini tak efektif untuk menghentikan seks remaja. Seperti vegetarian yang merepresi makan daging dengan menanamkan rasa welas asih dan bersalah di orang lain, akan tetap sulit menghentikan seseorang yang telah berpuasa selama 3 hari 3 malam untuk tak makan daging yang disodorkan gratis di muka dia. Bagaimana prosesnya di otak adalah sebuah scope yang takkan dijangkau tulisan ini dan lebih baik saya tinggalkan ke para psikolog. Namun kurasa itulah faktanya. Diskusi mengenai ini pun akan kutinggalkan dan bukan merupakan tujuan dari tulisan ini.

Tujuan dari tulisan ini, adalah untuk membuat poin bahwa anak muda melakukan seks; seks lebih baik dilaksanakan secara aman; pelaksanaan seks aman bisa difasilitasi dengan pengetahuan yang baik mengenai seks; demikianlah, edukasi seks menjadi penting.

Saya harap saya telah cukup membuat poin pertama. (Jika belum, baca di atas dan cari sendiri datanya.) Poin kedua, seks lebih baik dilaksanakan secara aman, saya rasa cukup jelas. Aman adalah terhindar dari PMS (Penyakit Menular Seksual) dan kehamilan yang tak diinginkan. PMS cukup banyak, di antaranya HIV/AIDS, gonorrhea, sipilis, dan chlamydia.

Dengan berdasar pada rahasia umum bahwa remaja melakukan seks, pendidikan seks agar seks yang mereka lakukan menjadi aman menjadi penting. Anak-anak muda kita harus terlindung dari penyakit-penyakit menular seksual dan kehamilan yang tak diinginkan. Pendidikan seks adalah salah satu caranya: diajarkan tipe-tipe kontrasepsi yang melindungi, apa itu hubungan seks dan bagaimana menanggapi ajakan seks. Kemunafikan atas fakta bahwa remaja melakukan seks sama sekali tidak membantu dan justru kontraproduktif dalam membangun masyarakat yang lebih sehat (dan keinginan membangun masyarakat remaja yang mengurangi seks pra-nikah).

Sayangnya, masih banyak orang yang munafik dan menganggap pendidikan seks adalah buah khuldi yang ketika dimakan akan mengantarkan anak-anak ke dalam jurang seksual yang dalam dan tak tertolong lagi. Mereka biasanya berargumen bahwa pendidikan seks akan merayu remaja untuk melakukan seks. Salah satu yang paling disayangkan adalah pernyataan Menteri Pendidikan Republik Indonesia, M Nuh:

“Soal seks setiap masyarakat tentunya akan memiliki pengetahuan secara alamiah tanpa harus ada yang mengajarkan. Jadi saya tidak setuju dengan keinginan pendidikan seks di sekolah,”

Ada setidaknya tiga kesalahan dari kemunafikan-kemunafikan ini. Di antaranya, pertama, jika kita merujuk kepada pernyataan M Nuh, dia tampaknya justru malah meresmikan perilaku seks di luar nikah daripada mengajarkan bagaimana remaja harus bersikap ketika pilihan mereka adalah absen dari seks. Sudah jadi rahasia umum di kalangan remaja: proses pacaran itu sifatnya “alamiah”, pegangan tangan, ciuman, grepe-grepe, hingga akhirnya lingga dan yoni bersatu. Jika penghilangan perilaku seks di luar nikah adalah apa yang ingin dicapai oleh M Nuh, maka pernyataan itu justru kontradiktif dengan apa yang ingin disampaikan.

Anggapan bahwa pendidikan seks akan merayu anak-anak remaja melakukan seks di luar nikah sama tak berdasarnya dengan anggapan bahwa pengetahuan mengenai seat belt akan merayu para pengemudi untuk menabrak. Analogiku tepat, toh? Pengetahuan mengenai seat belt dan seks dua-duanya merupakan pendidikan preventif atas sebuah hal yang tak diinginkan. Seks di luar nikah dan menabrak dua-duanya merupakan hal yang tak diinginkan pula. Tampaknya tak ada yang salah dari logika ini kecuali bahwa banyak orang yang belum tahu dan tidak mau tahu.

Kesalahan ketiga adalah mengecap bahwa pendidikan seks merupakan sesuatu yang tak sejalan dengan pendidikan agama. Hal ini kadangkala ditunjukkan masyarakat ketika isu yang berbau seks keluar dan orang-orang mulai berteriak bahwa pendidikan agama di Indonesia sungguh kurang dan tak memadai. Itukah alasannya? Mungkin ya. Tapi coba kembali ke awal wacana ini. Kurasa manusia adalah manusia dan seks adalah impuls manusia terlepas dari pendapat moral agama. (Sebagai catatan pinggir, ada juga agama-agama yang justru melaksanakan seks sebagai ritual. Bayangkan situasi yang terbalik jika Indonesia dibanjiri dogma itu.)

Pendidikan seks dapat berlangsung sejalan dengan pendidikan agama, karena termasuk di dalam pendidikan seks adalah bagaimana menanggapi impuls-impuls seks secara rasional. Tentu saja pendidikan agama mengajarkan abstinence, absensi dari seks. Tapi itu tak berarti bahwa anak-anak muda tak harus mengenal penis-vagina mereka sendiri. Kontras dengan opini publik, pendidikan seks dapat sejalan dengan pendidikan agama. Jika kita memberitahu anak-anak bahwa seks pra-nikah itu tidak dibolehkan, tentu saja kita harus memberitahu apa itu seks.

Di akhir saya hanya bisa katakan, marilah kita ambil posisi yang lebih tak munafik mengenai seks. Manusia bisa melakukan seks apapun kondisinya, dan seks yang lebih aman ialah seks yang lebih baik dibanding seks yang tak tahu apa-apa. Marilah kita jadi kurang munafik dan mulai menerima hal-hal yang rasanya sulit diterima dan mencernanya dengan kepala yang dingin.

___

Disarikan dari sini ke ke Guetau.com, atas izin penulisnya : Arkan.

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × three =