Sosok-sosok Kartini di Era Modern

posted on 21/04/2014

Apa kabar, sahabat GueTau? Dalam suasana Hari Kartini tahun 2014 ini, GueTau akan mengupas perempuan–perempuan perkasa yang nampaknya kurang mendapat perhatian masyarakat, namun sebetulnya membawa pengaruh yang besar, khususnya bagi perempuan Indonesia.

Perjuangan perempuan–perempuan ini terasa sangat modern. Mengapa? Karena mereka memanfaatkan teknologi terkini, yang sederhana dan sering digunakan oleh Sahabat GueTau. Yup . . . Media sosial. Seperti website, Facebook dan bahkan e-mail..

Siapa sajakah mereka? Yuk, berkenalan dengan mereka satu per satu!

1.   Lindarti Purwaningsih

Lahir di Sragen, Jawa Tengah, Lindarti adalah Doktor Teknologi Nano, lulusan Universitas di Jerman. Doktor ini menginspirasi kita semua dengan mengembangkan alat yang mampu meneruskan cahaya dengan memanfaatkan teknologi nano. Baginya, gelar doktor yang diterimanya bukanlah suatu hal yang patut dibangga-banggakan, justru diharapkan agar dapat membuat masyarakat Indonesia ingin mengejar pendidikan setinggi-tingignya tanpa harus takut atau minder walaupun dari desa terpencil.

 

2.     Kiswanti

Adalah seorang pendiri perpustakaan keliling atau  yang sekarang dikenal sebagai pengelola Warung Baca Lebak Wangi (WARABAL) di Bogor, Jawa Barat. Ia menginspirasi dengan menggerakkan masyarakat di desanya untuk mau belajar, mulai dari mulai membaca untuk anak-anak, workshop, mengikuti latihan keterampilan hingga berkoperasi, lho. Hal seperti ini harus Sahabat GueTau tiru, ya. Untuk mengembangkan jaringannya, Kiswanti tidak berkeliling lagi, tapi Ia memanfaatkan Facebook dan blog. Walaupun hanya berpendidikan SD, Kiswanti mampu mendapatkan berbagai penghargaan karena tindakannya yang mampu menginspirasi banyak orang, di antaranya adalah Penghargaan Menteri Pendidikan untuk Pemberantasan Buta Huruf pada tahun 2008.

 

3.     Nadia Mutia Rahma

Perempuan yang lahir di Jogjakarta pada 12 Juni 1989 ini membuka usaha dengan memanfaatkan kembali produk asli Indonesia yang sudah mulai dilupakan, yaitu teklek atau orang Jawa menyebutnya bakiak, yang didesain khusus untuk perempuan. Dengan nama toko ‘Kloom Clogs’, Nadia mampu meraup keuntungan hingga ratusan juta per bulan dari transaksi hasil penjualan dalam negeri dan luar negeri. Nadia yang sempat tinggal di Jepang dan belajar Fashion Introduction di Tokyo, memutuskan kembali ke Indonesia untuk membuka usaha tersebut. Mengapa ia dianggap menginspirasi? Dengan minat dan latar belakang pendidikannya, Ia mampu membuka lapangan pekerjaan dan sekaligus mengenalkan budaya Indonesia.

 

4.     Sri Harti Kenik Asmorowati

Merupakan satu-satunya dalang perempuan di Solo. Banyak yang meragukan kemampuan perempuan kelahiran Sukoharjo ini, namun nyatanya toh Ia terus berusaha mengasah ketrampilannya. Sampai saat ini, Sri  telah mengadakan pagelaran sekitar 220 kali dan pernah menggelar acara dengan lima dalang perempuan dari berbeda usia. Panitia yang terlibat dalam acara tersebut semuanya juga perempuan. Berkat keunikannya, acara tersebut mendapatkan anugerah MURI. Prestasi tersebut sangat membanggakan, bukan? Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa yang terpenting bukan hambatan namun keinginan dan cita-cita yang patut diperjuangkan.

 

5.      Aleta Baun

Sahabat GueTau, di zaman yang serba modern ini masih ada desa terpencil yang jauh dari teknologi-teknologi canggih, lho. Salah satunya, yaitu Desa Naususu di Nusa Tenggara Timur. Sosok Mama Aleta adalah orang yang sangat berjasa untuk desa tersebut, karena berani mengusir sebuah Perusahaan pertambangan yang merusak desa sakral di daerah tersebut. Mama Aleta lahir di NTT pada 16 Maret 1963. Sejak kecil sudah kehilangan seorang ibu. Saat ini, Mama Aleta menjabat sebagai anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), yaitu oraganisasi yang bergerak untuk menjaga hutan dan adat istiadat di daerah Timur Tengah Selatan (TTS). Karena tindakannya yang heroik Mama Aleta mendapatkan pernghargaan, salah satunya adalah Goldman Environmental Prize tahun 2013.

 

6.     Dessy Suprihartini

Lain lagi ceritanya dengan Dessy Suprihartini, atau yang sering disapa Bu U’Un. Walaupun di kota besar seperti Bogor, ternyata masih ada juga wilayah yang terpencil dan jauh dari pelayanan kesehatan. Bu U’Un merupakan relawan yang bersedia mendatangi masyarakat di daerah pelosok-pelosok di wilayah barat kabupaten Bogor. Bu U’Un menggunakan social media untuk mencari donatur. Cara ini ternyata berhasil! Sejauh ini, penghargaan yang sudah diterima wanita kelahiran Jogja tahun 1966 ini adalah Tupperware She CAN! dan Anugerah Wanita Inspirasi 2013 dari Koran Bogor.

 

7. Lian Gogali

Ia adalah penggerak yang mampu merekatkan Muslim-Kristen di Poso, sebuah kota yang pernah mengalami konflik. Jasanya juga mengenalkan kesadaran gender di Poso.  Sebuah sekolah perempuan yang bernama Mosintuwu merupakan salah satu karya nyatanya, didasari oleh pemahamannya jika perempuan adalah penjaga kehidupan, di saat laki-laki sibuk mengatur strategi perang. Dengan kata lain, Sahabat GueTau, sosok perempuan sebagai pencegah konflik dan bukan lagi sebagai korban. Lian Gogali di anggap sukses dengan usahanya tersebut. Atas jasanya, anugerah yang ia terima, yaitu dari Coxiest Prize, New York tahun 2012. Lian lahir di Tabarano, pada 24 April 1978.

Dan itulah beberapa Kartini di era saat ini yang GueTau coba perkenalkan kepada Sahabat GueTau. Sahabat mungkin bisa melihat para Kartini lain di IndiHome Woman Awards, yaitu sebuah penghargaan yang khusus untuk perempuan penggerak bangsa, di mana perempuan saat ini tidak lagi digambarkan sebagai perempuan yang hanya berkutat pada dapur, sumur dan kasur. Sahabat GueTau juga bisa vote  untuk kriteria Kartini yang lain. Cek di http://www.indihomewomenawards.com ya, Sahabat GueTau.

 

Demikian Informasi yang bisa GueTau sampaikan. Semoga informasi ini menginspirasiSahabat GueTau, khususnya tentang sosok perempuan. Kalau ada pertanyaan lebih lanjut hubungi info@Guetau.com.

 

Selamat Hari Kartini!

 

Ditulis oleh Apoh

 

Referensi :

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini
  2. http://indihomewomenawards.com
  3. http://female.kompas.com/read/2013/04/30/11515988/21.Perempuan.Raih.Indi.Women.Award.2013

related post

Menyaksikan Aksi Women’s March Jakarta Melalui Bidikan Kamera

posted on 05/03/2017

“Aksi ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional.” Sebanyak 700 orang hadir dalam aksi Women’s

Hantu Perempuan dan Perkosaan

posted on 14/03/2016

“Perilaku korban pemerkosaan akan berubah, korban akan menarik diri dari lingkungan, dan mengalami gangguan psikis seperti menyalahkan dir

Merayakan Tubuhmu, Tubuhku, Tubuh Kita

posted on 13/03/2016

“Berkumpul di sebuah tempat sembari merayakan tubuh, bercerita, dan bernyanyi” Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − eight =