Menengok Budaya Sunat Sifon

posted on 02/03/2016

    “Sunat sifon juga dimaksudkan untuk membersihkan diri dan berbagai penyakit dan menebus diri dari berbagai dosa yang telah dibuat sebelumnya”

Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki kebudayaan masing-masing. Kali ini, GueTau akan menceritakan budaya sunat sifon yang ada di Suku Antoni Meto di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.

Prosesi Sunatan Masih Menggunakan Peralatan Tradisional

Sunat sifon dilakukan oleh seorang dukun sunat yang disebut sebagai Ahelet. Ahelet inilah yang akan mengawal sunat sifon dari awal hingga prosesi sunat tersebut berakhir.

Prosesi diawali dengan pemberian mahar kepada Ahelet. Selanjutnya, laki-laki yang akan disunat dibawa ke sungai tempat dilakukannya prosesi penyunatan. Sebelumnya laki-laki akan diminta untuk melakukan proses Nain Fatu, yaitu menghitung batu sejumlah dengan banyaknya perempuan yang pernah disetubuhi sebelumnya.

Konon, jika laki-laki tersebut berbohong, proses penyembuhan akan lama. Proses inilah yang dimaksud dengan pengakuan dosa dengan harapan laki-laki tersebut tidak akan mengulanginya. Selanjutnya, prosesi sunat dilakukan di dalam sungai dan masih menggunakan alat sederhana dari bambu. Alat ini jauh dari kata higienis dan steril.

Dipercaya Dapat Menambah Kejantanan Seorang Laki-laki

Sunat pada umumnya dilakukan pada saat usia anak-anak, sedangkan untuk sunat sifon sendiri dapat dilakukan oleh laki-laki muda, yang sudah dewasa bahkan oleh laki-laki yang sudah beristri dan mempunyai anak.
Sunat sifon dipercaya dapat menambah kejantanan seorang laki-laki dewasa.

Sunat sifon juga dimaksudkan untuk membersihkan diri dan berbagai penyakit dan menebus diri dari berbagai dosa yang telah dibuat sebelumnya. Selain itu, sunat sifon diyakini dapat membuang sifat buruk laki-laki, misalnya, tukang marah, emosi berlebihan, dan perilaku buruk lainnya.

Lagi-lagi Perempuan yang Menjadi Korban

Hal yang paling unik dan mencengangkan adalah laki-laki yang sudah disunat tersebut diharuskan untuk berhubungan
seksual dengan perempuan yang sudah disediakan oleh Ahelet dalam keadaan luka sunat masih setengah kering. Prosesi tersebut bertujuan untuk membuang penyakit daan juga menambah kejantanan laki-laki tersebut. Kebayang gak sih, ngerinya?

Dengan perilaku seksual yang diwajibkan tersebut, tradisi ini dapat dikatakan jauh dari kata aman, terutama dalam hal kesehatan reproduksi.

Penggunaan alat yang masih tradisional dan tanpa obat-obatan modern tentunya berisiko tinggi untuk menularkan HIV dan AIDS serta berbagai penyakit menular seksual lainnya.

Prosesi tersebut juga dinilai tidak menghargai perempuan, terlebih perempuan yang diharuskan melakukan hubungan seksual dengan peserta sunat sifon pastinya akan dipandang buruk oleh masyarakat.

Perempuan-perempuan itu dicap sebagai tempat membuang sial dan sifat buruk. Seorang perempuan korban sunat sifon bahkan pernah diasingkan di hutan, karena dianggap sumber kesialan.

Setelah tahu prosesi dan dampak sunat sifon ini, bagaimana pendapatmu? Adakah tradisi serupa di daerahmu? Ceritakan yuk, ke info@guetau.com!

Oleh Bagus Siswantha

Referensi:
1. johnbiafsoe.wordpress.com
2. Laporan Roadshow Dialog Muda 2015 – Kota Kupang

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × three =