Pendidikan Seksualitas Pernah Adakah di Indonesia?

posted on 25/11/2014

Pada tahun 2009, UNESCO bersama-sama dengan UNAIDS, WHO, UNICEF dan UNFPA menerbitkan dua volume panduan untuk penerapan pendidikan seksualitas komprehensif; International Technical Guidance on Sexuality Education (ITGSE); An evidence-informed approach for schools, teachers and health educators.

Pembuatan ITGSE melibatkan berbagai pihak baik pemerintah maupun LSM di tingkat internasional melalui konsultasi. ITGSE dirancang untuk merespon permasalahan HIV dan AIDS yang cukup banyak terjadi di berbagai dunia dan juga sebagai bentuk jawaban untuk mengatasinya. ITGSE juga dirancang untuk merespon keperluan Pendidikan Seksualitas Komprehensif yang berbasis kepada data, informasi dan kecakapan hidup yang diperlukan bagi anak dan remaja berusia 5-18 tahun.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan seksualitas yang komprehensif dapat bermanfaat untuk beberapa hal, sebagai berikut:

  • Mengurangi kesalahan konsep mengenai seksualitas.
  • Meningkatkan pengetahuan yang benar.
  • Mengklarifikasi dan memperkuatkan nilai dan sikap positif.
  • Meningkatkan keterampilan dalam pengambilan keputusan.
  • Meningkatkan persepsi tentang norma kelompok dan sosial.
  • Meningkatkan komunikasi dengan remaja atau pun orang dewasa yang terpercaya.

 

Penelitian juga menunjukkan bahwa program yang memilliki manfaat di atas dapat berpengaruh pada banyak hal, seperti:

  • Menunda hubungan seks.
  • Menurunkan frekeunsi hubungan seks tidak aman.
  • Menurunkan jumlah partner seks.
  • Mengurari risiko kehamilan yang tidak direncanakan serta risiko penularan infeksi menular seksual (IMS) dan HIV.

                                      

Berapa sih Remaja Indonesia yang Bersekolah?

Pada tahun 2010, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), di Indonesia mencatat bahwa 6,3 juta penduduk berusia 10 – 24 tahun. Hasil Susenas pada tahun 2011 menunjukkan bahwa terdapat 80,29 persen anak berusia 5-17 tahun yang berstatus sekolah. Angka Partisipasi Sekolah yang dihimpun BPS, sejak tahun 1994 hingga 2012, partisipasi sekolah untuk anak berusia 7-12 tahun meningkat dari 94 ke 98 persen. Peningkatan angka partisipasi sekolah juga meningkat di kelompok usia 13-15 tahun yang meningkat dari 72 hingga hampir mencapai 90 persen, dan untuk mereka yang berusia 16-18 tahun, angka meningkat dari 45 menuju 61 persen.

Pendidikan Seksualitas Pernah Adakah di Indonesia?

Mengacu kepada data-data yang terjadi mengenai tren hubungan seksual di usia remaja, prevalensi HIV di kalangan orang muda dan kasus kekerasan yang terjadi di kalangan remaja, membuka mata beberapa LSM di Indonesia untuk menerapkan Pendidikan Seksualitas Komprehensif atau lebih sering dikenal dengan istilah Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual.

Terdapat beberapa modul yang pernah dibuat dan sampai saat ini masih diterapkan di beberapa sekolah di Indonesia. Misalnya, Setara (Semangat Dunia Remaja), DAKU! (Dunia Remajaku Seru!), Pendidikan Kecakapan Hidup di Papua, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja. Serta ada beberapa program-program pemerintah untuk mendukung pendidikan seksualitas, seperti ABAT (Aku Bangga, Aku Tahu), Genre (Generasi Keluarga Berencana), PIK (Pusat Informasi dan Konseling) untuk remaja dan mahasiswa dan PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja). Ada pula kegiatan lainnya yang dilakukan oleh beberapa LSM, yaitu dengan membentuk Anti Bullying Community, yang begerak untuk menolak bullying di sekolah.

 

Ditulis oleh Faiqoh (Aliansi Remaja Independen)

 

 

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × three =