Ketegasan yang nggak Kebablasan

posted on 19/03/2013

Sahabat GueTau, sangatlah penting dan wajar bagi kita semua untuk membela diri kita, mengucapkan apa yang kita inginkan dan mempertahankannya dengan tegas di saat diperlukan dan di saat yang tepat juga. Dengan menunjukkan orang lain apa yang Sahabat GueTau inginkan dan rasakan, berarati memperlihatkan harga diri, percaya diri dan hormat.

Orang-orang yang tidak tegas biasanya tidak dan tak bisa mendapatkan kebutuhan dasar dalam berhubungan yang mereka inginkan. Hingga akhirnya mereka merasa frustrasi, disalahmengertikan, dan tak terpenuhi. Di sisi ekstrim lainnya, pada beberapa individu yang lebih agresif dan melewati batas ketegasan, mereka akhirnya malah cenderung merasa terputus dari orang lain daripada menemukan orang lain melakukan yang mereka inginkan. Hal ini terjadi karena orang di sekitar si agresif melihat si agresif jauh lebih memikirkan diri sendiri tanpa pertimbangkan perasaan, keinginan, dan kebutuhan mereka. Tampil sebagai individu yang agresif dan defensif bisa menjadi salah satu jebakan yang tak disadari membuat kita terjatuh saat kita hendak menunjukkan ketegasan di dalam keseharian kita.

Masalahnya, memang ada beberapa cara yang sulit diterima saat menunjukkan ketegasan semacam ini. Cara-cara yang bisa saja malah menyakiti dirimu dan orang yang berinteraksi denganmu di saat itu. Kapanpun saat pernyataan tegasmu ditambahi dengan kata-kata yang terkesan merasa diri sendiri paling benar, maka kamu bisa mengubah pesan ketegasan menjadi terkesan jauh lebih penting daripada mereka. Serasa lebih superior, harus diberikan prioritas karena teriakan ego pribadimu. Dalam keadaan seperti ini, kamu akan menolak mempertimbangkan posisi orang lain, apa yang telah mereka alami dan mereka rasakan sama murninya dengan yang kamu rasakan.

Sementara itu, kamu bisa saja merasa sangat ketakutan, cemas, ataupun insecure untuk melihat kesalahan atau hal negatif yang ada di dalam dirimu sendiri. Bukan tak mungkin pula, hal inilah yang akhirnya mendorongmu untuk melakukan sebuah ketegasan yang kebablasan. Di saat seseorang sulit untuk menerima kritik misalnya, orang tersebut bisa saja akhirnya terus-terusan ngotot membela apa yang menurutnya benar hingga terlihat bodoh ataupun memalukan. Semuanya semata-mata hanya untuk menutupi keburukannya sendiri.

Di saat-saat seperti inilah kamu akhirnya bisa menjadi terdengar memiliki double standard. Dua standard yang berbeda, salah satu standard ditinggikan untuk membela keinginanmu. Merasa teryakinkan sebagai jalan berpikirmu yang paling benar, akhirnya kamu kesulitan melepaskan diri dari pandanganmu dan sulit menghaargai sudut pandang orang lain. Dengan begitu, seluruh perilakumu akhirnya didorong dengan sangat agresif. Sebagai reaksi dari rasa diperlakukan salah oleh mereka, kamu tanpa mempertimbangkan apa-apa lagi akhirnya membuat mereka merasa menyesal sebisa mungkin.

Akibatnya?

Lebih banyak negatifnya.

Kamu bisa saja kehilangan kesempatan untuk bicara dengan lebih tenang dan menghasilkan sesuatu yang positif. Alih-alih menyelesaikan masalah, bisa jadi “ketegasan kebablasan”mu malah menjadi sumber masalah baru. Bahkan bukan tidak mungkin bahwa kamu akan kehilangan apa yang kamu inginkan dengan sikap ini. Kamu bisa saja akhirnya malah kehilangan harga di mata orang lain dan jadi dianggap serba negatif, hanya karena satu momen menunjukkan agresivitasmu.

Oleh karena itu, ada baiknya untuk mempertimbangkan beberapa hal sebelum menunjukkan ketegasanmu. Pertimbangkan bahwa orang lain yang sedang kamu ingin tegaskan tersebut datang darimana. Bisakah kamu menanyakan perasaannya terlebih dahulu saat melakukan sesuatu yang kamu rasa menganggumu? Atau setidaknya, sebelum kamu merespon, pikirkan apa yang sedang mereka alami. Lalu pertimbangkan pula seberapa jauh harus dan bisa membenarkan dirimu ataupun menjelaskan tentang apa yang kamu rasakan? Ketiga, pikirkan sebisa mungkin agar kamu tidak menyerang di saat mengklarifikasi pandanganmu kepada mereka. Bayangkan jika akhirnya kamu menyadari bahwa tidak ada siapapun yang benar di sana, bahwa semuanya terjadi karena salah paham semata, pasti kamu akan malu banget kan kalau ternyata kamu sudah menyerang terlebih dahulu? Terakhir, ingatlah bahwa tanpa persetujuanmu, tidak ada satupun orang memiliki kuasa untuk menindasmu. Hal ini perlu ditekankan, kecuali kamu sedang menyangkal di dalam situasi tersebut. Hak untuk membenarkan pikiran dan perasaanmu hanya terletak pada dirimu sendiri.

Nah, jika Sahabat GueTau sudah mengerti bagaimana caranya agar tidak tegas yang kebablasan, sekarang mulai dipraktikan yah. Agar hubunganmu nggak terlalu timpang karena terlalu mudah dipermainkan orang lain ataupun jadi terlalu kasar dan keras terhadap orang lain.

___

Ditulis oleh Benny Prawira, Kontributor GueTau.com

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 10 =