So Sweet Selalu

posted on 23/02/2013

Sahabat GueTau, pernah nggak sih kalian jalan-jalan di suatu tempat dan berpapasan dengan sepasang kekasih yang lagi mesra-mesraan di depan umum? Kalau yang masih seumuran kita-kita mungkin sudah biasa, gimana dengan yang sudah kakek-nenek? Keriput memenuhi wajah mereka, tapi cinta mereka masih begitu segar layaknya anak muda yang pertama kali jatuh cinta. Bergandengan tangan di tempat umum atau bahkan memangku pasangan lainnya. Dalam beberapa kesempatan, saya sendiri sempat lho ketemu dengan pasangan usia senja yang masih mesra seperti ini, baik yang pasangan kakek-nenek maupun yang bahkan pasangan kakek-kakek.

Penasaran dengan apa yang membuat membuat cinta mereka bisa bertahan sejauh itu? Masih dalam suasana penuh cinta di atmosfer Valentine ini, mari kita bahas lebih lanjut. Siapa tau ke depannya kita bisa mengikuti jejak mereka.

Hal pertama yang paling penting untuk diingat adalah ada baiknya kamu tetap ingat pentingnya rasa kasih sayang kepada dirimu (self compassion). Hubungan yang kuat dengan dirimu sendiri perlu dibangun sebelum membangun hubungan dengan orang lain. Banyak sekali orang yang berpikir bahwa ia membutuhkan pacar justru untuk bisa “mengatasi kesepian dan kegalauan” dan segala macam perasaan yang bisa dikonotasikan sebagai akibat dari hubungan yang buruk dengan dirinya sendiri. Padahal pemikiran ini sangatlah salah. John Caccioppo, seorang profesor dari University of Chicago menyatakan bahwa, “As people become lonely, they become less trustful of others, and a cycle develops that makes it harder for them to form relationships.“ Jika kamu tak bisa mengatasi rasa kesepianmu terlebih dahulu, kamu justru akan cenderung merasa kurang bisa percaya pada orang lain sehingga akhirnya malah mempersulit dirimu untuk membuat hubungan yang sehat.

Sekeras apapun orang lain berusaha meyakinkanmu untuk merasa dicintai, jika kamu sendiri tidak mencintai dirimu, maka kamu akan sulit memulai hubungan yang sehat. Perlu diingat juga, penting juga untuk melepaskan beban dan luka di masa lalumu. Menyembuhkan diri sebelum memulai hubungan baru adalah sebuah hadiah terbaik yang bisa kamu berikan untuk dirimu dan hubunganmu yang selanjutnya (Goldsmith 2012).

Kebahagiaanmu adalah kewajibanmu, tidak sepantasnya kamu melemparkannya sebagai tanggung jawab ke pasanganmu. Tidak peduli seberapa kuat hubungan yang kamu bina dengan orang lain, bila kamu tidak menjalin hubungan yang kuat dengan diri sendiri, maka kamu akan terus dihantui dengan kesepian dan ketidakbahagiaan. Selain itu, jika kamu sendiri sudah merasa bahagia dengan dirimu tanpa harus bergantung kepada orang lain, maka tak peduli hal seburuk apa yang terjadi pada hubunganmu, kamu tidak akan terpuruk jauh karena menyerahkan seluruh kebahagiaanmu ke tangan orang yang malah menghancurkannya.

Lalu, jika dengan sendirian saja kita bisa berbahagia, untuk apa pula kita berpacaran? Berpasangan pada dasarnya adalah hak setiap orang untuk melakukan ataupun tidak melakukannya. Namun yang perlu diingat di sini adalah berpasangan bukanlah tentang menemukan kebahagiaanmu di diri orang lain tapi tentang membagikan kebahagiaan itu bersama orang lain yang juga ingin berbahagia bersamamu. Menurut Bruce Chapman dari Deakin University, bukanlah status seseorang berpasangan yang akan menentukan kebahagiaan seseorang, tapi kualitas dari hubungan itu sendiri. Banyak ditemukan orang yang berada dalam hubungan yang buruk justru sangat rendah kebahagiaannya dibandingkan dengan orang yang tidak berpasangan, sementara itu, memang orang yang bisa memiliki hubungan yang sehat dan bahagia ditemukan jauh lebih bahagia dibandingkan kedua kelompok tersebut.

Selain pengaruh positif dari hubungan yang sehat dengan diri sendiri ke dalam hubungan romansa, tentunya kita juga perlu memperhatikan dinamika dalam hubungan seperti apa yang akan membuatnya bertahan. Dalam hubungan apapun, kita membutuhkan yang namanya kepercayaan. Masalah kepercayaan memang bisa menjadi begitu rumit. Beberapa orang percaya begitu saja dengan membuta kepada pasangannya sehingga terus menerus disakiti karena selalu memberikan kesempatan untuk pasangan yang tak selayaknya untuk dimaafkan, beberapa orang lagi justru sebaliknya, mereka kesulitan untuk percaya dengan semua orang, komitmen ataupun diri mereka sendiri hanya akan menyulitkan proses terbentuknya hubungan romansa yang sehat (Ni, 2012). Jika sekiranya kamu merasa memiliki masalah di antara kedua hal ini, ada baiknya kamu mencoba untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan seorang konselor atau psikolog. Isu kepercayaan menjadi isu paling mendasar untuk sebuah hubungan romansa yang sehat. Tentunya, kamu tak ingin terus-menerus terjebak di dalam hubungan yang menyiksamu karena dosis kepercayaan yang tidak seharusnya, kan?

Sering ada saat-saat dimana kita merasa suntuk, stres, tidak mau diganggu, atau pun negatif ketika ada masalah. Di saat seperti inilah kita harus mengingat untuk tidak menjadi orang yang malah melemparkan emosi negatif kita pada pasangan kita. Menghargai hal-hal kecil yang diberikan oleh pasangan tentunya juga akan menjaga kehangatan. Ucapan terima kasih yang hangat, sebuah pelukan, kecupan, membukakan pintu, atau mengatakan bahwa kamu akan menunggu dan mendengarkannya di saat ia sedang berada dalam masalah adalah hal-hal kecil yang sangat berarti (Goldsmith, 2012).

Dalam hubungan romansa, selain perlu melihat hubungan dengan diri sendiri dan hubungan antar pasangan, kamu juga sangat perlu untuk melihat keadaan di sekitarmu. Yup, sesuatu yang biasa kita sebut si-kon aliasi situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi sangatlah penting untuk dibicarakan pada pasanganmu.

Terbukalah pada pasangan, mungkin ada beberapa hal yang akan membuat hubungan kalian terasa berat, tapi kalian berdua harus bekerjasama untuk mengatasinya. Sama halnya seperti saling membantu untuk menemukan ide dan membicarakan banyak hal agar lebih mesra serta meningkatkan kualitas hubungan kalian. It takes two to tango. Jika hanya salah satu dari kalian yang mau memperjuangkan kondisi yang ada, lebih baik berpikir lagi untuk meneruskan hubungan tersebut. Tentunya, kamu juga perlu perhatikan lagi kapan dan bagaimana cara yang tepat untuk mengkomunikasikannya ke pasangan. Jangan sampai hanya karena menyampaikan dengan kalimat dan pada kondisi yang salah, masalah malah jadi semakin berkobar (Ni, 2012).

Nah, Sahabat GueTau, yang nggak kalah penting dalam hubungan romansa adalah menerima naik-turunnya hubungan itu sendiri. Tidak selamanya kita akan senang dalam suatu hubungan, akan ada saat terpuruk juga yang harus kita hadapi. Dengan adanya kepribadian yang sehat dalam diri kita, hubungan interpersonal yang baik dan kondisi yang mendukung, pastinya hubungan romansa ini akan baik-baik saja. Tapi ketika salah satu dari ketiga aspek ini bermasalah, sangatlah penting bagi Sahabat GueTau untuk menemukan resolusi konflik bersama dengan pasangan.

Pasangan yang memiliki jalinan yang “saling” dalam konotasi positif: saling peduli, saling percaya, saling mendukung, saling menghormati dan yang terutama saling memperjuangkan, niscaya akan bisa mengikuti jejak sepasang kekasih yang kita bahas di awal tulisan tadi. Kita tidak mencari pasangan yang sempurna untuk mencintai kita ataupun pasangan yang mencintai kita dengan sempurna. Menuntut kesempurnaan sangatlah bahaya dalam hubungan, karena pada akhirnya nanti, tak akan pernah ada hubungan yang sempurna, yang ada hanya orang-orang yang mau mempertahankannya. It takes no effort to fall in love, but so much efforts to stay in love forever.

Happy Valentine , everyone and everyday!

__

Oleh: Benny Prawira

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 10 =