Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/guetauco/public_html/wp-content/plugins/speed-booster-pack/inc/core.php on line 472

Ospek Plus-Plus

posted on 15/10/2016

    “Banyak yang sangat menyayangkan kegiatan yang seharusnya memberikan pengenalan lingkungan kampus bagi para mahasiswa baru malah memperkenalkan hal yang kurang baik dan tidak berhubungan dengan tujuan orientasi.”

Pengenalan lingkungan kampus tentu berguna dan menyenangkan bagi para mahasiswa baru. Tapi, di beberapa sekolah atau universitas, agenda ini menjadi momok yang menyeramkan. Bukan tanpa alasan, kegiatan orientasi ini seringkali mengandung bentuk kekerasan. Sejatinya, agenda orientasi siswa/mahasiswa baru adalah mendorong mereka untuk berteman dan mengenal lingkungan barunya.

Di Indonesia, fenomena kekerasan saat masa orientasi berlangsung marak terjadi. Tahun 2013 lalu, kasus orientasi mahasiswa yang kegiatannya menjurus ke pelecehan seksual terjadi di ITN Malang. Beritanya menjadi perbincangan di media sosial.

Ternyata kekerasan pada masa orientasi bukan hanya di Indonesia lho. Di Singapura, negara yang kita kenal sebagai negara maju, terjadi juga bentuk kekerasan pada masa orientasi. Penasaran? Baca lebih lanjut yuk!

Terbantu oleh Media Sosial

Setelah berbagai macam video yang beredar di social media mengenai bagaimana keberlangsungan kemah orientasi atau Orientation Camp yang sudah berawal dari bulan Juni, banyak dari para mahasiswa baru akhirnya berbicara ke media.

Mereka mengatakan bahwa permainan-permainan selama kemah berlangsung seringkali mengarah ke aktivitas yang berkaitan dengan hubungan seks. Beberapa mahasiswa baru yang tidak ingin namanya disebut menjelaskan bahwa setiap permainan dan kegiatan selalu saja berbau seks, seperti pertanyaan cairan tubuh apa yang mau ditelan, siapa yang paling sundal, hingga berbagai kegiatan yang menyerupai adegan pemerkosaan, adegan laki-laki mengejakulasi kepada wajah seseorang perempuan, serta berbagai macam kegiatan lainnya yang membuat banyak mahasiswa baru perempuan merasa tidak nyaman dan ingin berhenti bermain. Tapi, pimpinan kelompok tidak memperbolehkan mereka untuk berhenti sampai permainan terselesaikan.

Kejadian yang terjadi di National University of Singapore’s (NUS) tersebut telah menjadi bahan pembicaraan seantero negeri singa tersebut. Banyak yang sangat menyayangkan kegiatan yang seharusnya memberikan pengenalan lingkungan kampus bagi para mahasiswa baru malah memperkenalkan hal yang kurang baik dan tidak berhubungan dengan tujuan orientasi.

Trauma Setelah Orientasi

Para ahli juga telah menyebutkan bahwa kegiatan dan aktifitas yang berlangsung selama kemah orientasi di NUS dapat menyebabkan berbagai macam trauma terhadap para mahasiswa baru terutama perempuan. Berbagai tindakan yang dilakukan oleh para senior juga mendukung cikal bakal budaya penindasan dan pemerkosaan.

Para pengacara juga menyampaikan pendapatnya bahwa kasus yang terjadi di NUS telah melanggar beberapa peraturan yang berlaku di Singapura mengenai pelecehan, kekerasan seksual, dan berbagai macam hal lainnya.

Beberapa orang tua juga siap untuk melaporkan kepada pihak yang berwajib apabila kegiatan yang dipaparkan oleh media benar-benar terjadi kepada anak perempuannya. Menurut mereka, sekolah adalah tempat di mana seseorang mendapatkan pembelajaran moral yang baik. Apabila sekolah mengajarkan hal-hal seperti ini, maka tempat tersebut sangat buruk untuk memulai pendidikan.

Pembatalan Acara oleh Pihak Kampus

Setelah berbagai permasalahan yang muncul dari kemah orientasi di NUS, pada tanggal 29 Juli 2016 yang lalu pihak kampus memutuskan untuk membatalkan acara orientasi pengenalan terhadap mahasiswa baru. Pihak kampus juga memutuskan untuk menyelesaikan masalah yang telah muncul kepermukaan media massa melalui video yang terunggah di sosial media yang ada.

Bagaimana nih menurut pendapat sahabat GueTau mengenai kasus yang terjadi pada kegiatan orientasi pengenalan mahasiswa baru di Singapura sana? Apakah ada yang pernah mengalami hal serupa? Berbagi bersama GueTau yuk ke info@guetau.com dan justian@guetau.com 🙂

Oleh Emyr Rahadian

Referensi
1. http://www.straitstimes.com/
2. http://www.tnp.sg/
3. http://www.stomp.com.sg/
4. http://www.lensaindonesia.com/2013/12/10/inilah-kronologi-ospek-mesum-itn-malang.html

related post

Pelecehan Terhadap Perempuan di Berbagai Belahan Dunia

posted on 27/04/2016

“Di berbagai belahan dunia, perempuan mengalami pelecehan seksual. Mari kita simak cerita mereka mengatasi perlakuan tidak menyenangka

4 Dampak Pelecehan Seksual pada Anak

posted on 24/11/2015

“Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak (KomNas PA), tercatat sebanyak 21,6 juta kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada anak sepanj

Lady Gaga Melawan Budaya Pemerkosaan Melalui Lagu

posted on 08/11/2015

“Menurut studi yang ada pada Journal of American College Health, satu dari empat wanita pernah diperkosa pada masa perkuliahannya. Sed

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/guetauco/public_html/wp-content/plugins/speed-booster-pack/inc/settings.php on line 118

Warning: array_merge(): Argument #1 is not an array in /home/guetauco/public_html/wp-content/plugins/speed-booster-pack/inc/settings.php on line 123

Warning: array_values() expects parameter 1 to be array, null given in /home/guetauco/public_html/wp-content/plugins/speed-booster-pack/inc/settings.php on line 124

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/guetauco/public_html/wp-content/plugins/speed-booster-pack/inc/settings.php on line 128