Hidup untuk Bersyukur, Bersyukur untuk Hidup

posted on 30/12/2012

Sudah menjelang akhir tahun, kira-kira apa saja yang sudah terjadi di dalam hidupmu sepanjang tahun ini? Senang, sedih, kecewa, sukses, bangga, malu, dan segala macam perasaan telah kamu lalui tentunya. Hidup bagaikan roda yang terus bergerak tapi di dalam perputaran naik-turun ini, seberapa sering kita bersyukur untuk hal-hal kecil?

Di dalam kehidupan sehari-hari yang “berjalan normal” atau “baik-baik saja” sekalipun, bisa jadi kita malah jarang bersyukur. Ada banyak hal yang kita miliki dan  dikeluhkan dari hidup kita, bahkan di saat hal-hal tersebut tidak sepatutnya untuk dikeluhkan. Ada banyak hal pula yang belum kita miliki tapi tidak dapat diraih sepanjang tahun ini menjadi salah satu sumber keluhan yang ada.

Banyak orang bilang bahwa kita harus bersyukur karena kita tidak mengalami nasib yang lebih buruk. Tapi, apakah ini benar-benar bentuk syukur yang sesungguhnya? I don’t think so. Bagi saya, ini justru pernyataan yang terkesan tidak empatis, kita seolah-olah diajarkan secara tidak langsung untuk bersenang-senang melihat penderitaan orang lain. Selain itu, bukan tidak mungkin kalau orang yang dipersepsikan sebagai orang yang lebih menderita itu justru memiliki apa yang sesungguhnya kita inginkan dalam beberapa aspek.

Bersyukur tidaklah terjadi dengan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Sangat mungkin bahwa kamu merasa lebih beruntung karena memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain, tapi kamu juga harus menghargai apa yang kamu punya agar bisa sungguh-sungguh merasakan syukur di dalam hidupmu (Korb, 2012). Hanya menyadari kamu memiliki sesuatu tanpa menghargainya, tidak serta-merta membuatmu menikmati apa yang ada di dalam hidupmu. Ambil saja contoh seorang ibu yang memiliki banyak anak, dia malah menginginkan anak yang lebih sedikit dan merasa iri di saat melihat ibu-ibu lainnya hanya memiliki sedikit anak serta tidak merasa bersyukur saat mengetahui ada temannya yang mandul.

Seringkali juga, di saat kita sudah tahu apa yang bisa kita syukuri sekalipun, kita tetap tidak merasakan adanya sebuah kenikmatan atas berkah yang diterima di saat kita bersyukur (Maxwell, 2012). Seolah-olah ucapan syukur itu hampa bahkan di saat kita sudah mengucapkannya saat khusyuk berdoa. Untuk mencapai keadaan bersyukur sesungguhnya yang disebut affective emotion oleh Victoria Maxwell ini, kita harus tekun melatih diri kita agar bisa membentuk kebiasaan bersyukur dalam kehidupan sehari-hari.

“Terus gimana caranya dong untuk bersyukur?”

Kate F. Hays mengutarakan tiga cara untuk menumbuhkan kebiasaan bersyukur:

  1. Miliki sebuah “gratitude journal” dimana kamu harus menulis semua hal yang kamu syukuri sepanjang hari. Setiap orang bisa mencoba dalam rentang waktu dan jumlah syukur yang berbeda. Oprah Winfrey, salah satu seleb terkenal dan berpengaruh di A.S misalnya, dia mencatat setidaknya lima hal untuk disyukuri setiap harinya. Nah, silakan kamu mencobanya sendiri di rumah, entah kamu mau memulainya langsung dengan empat hal yang kamu syukuri setiap harinya atau kamu mau mencatatnya seminggu sekali sembari mengumpulkan banyak sekali hal yang kamu syukur dari hari ke hari.
  2. Sangat dianjurkan menetapkan waktu tertentu untuk bersyukur, entah itu kamu mensyukuri hal-hal besar dan menyeluruh ataupun sekedar hal-hal kecil dan dalam waktu singkat.
  3. Cobalah untuk mengucapkan syukur ke orang lain. “terima kasih” adalah salah satu kata dari tiga kata yang sederhana tapi sering dilupakan (dua lainnya adalah “tolong” dan “maaf”). Padahal, jika kamu mengucapkannya secara langsung di depan umum, penghargaan semacam ini pun bisa diberikan dalam bentuk surat. Atau bisa jadi kombinasi keduanya: kamu tulis terlebih dahulu untuk dibaca di depan orang tersebut.

Terdengar cukup mudah untuk melakukannya yah, tapi di saat-saat tertentu hidup terasa begitu pelik. Di saat seperti ini, kita akan lebih sulit juga dalam menemukan hal yang kita pikir patut untuk kita syukuri. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa sebenarnya, kamu sendiri masih memiliki kemampuan untuk memilih tetap melihat hal negatif yang ada atau mulai mengeksplorasi lebih banyak ke luar maupun ke dalam dirimu agar dapat  menemukan hal yang disyukuri. Hal-hal yang kita anggap remeh dan biasa kita lakukan pun bisa jadi pemicu rasa bersyukur kita jika kita mau memulainya.

Alasan kenapa kita harus tetap bersyukur kapanpun juga adalah karena dari rasa bersyukur ini banyak sekali manfaat yang kita dapatkan. Di dalam sebuah studi di Amerika Serikat, orang-orang yang terus menulis “gratitude journal” menunjukkan peningkatan yang lebih baik dalam mengejar tujuan hidup mereka, mempertajam perhatian, memperbesar antusiasme, dan memperbanyak energi dibandingkan orang-orang yang mengeluhkan hidup mereka (Emons dan McCullough, 2003). Dalam studi yang dilakukan oleh ilmuwan Cina, bersyukur juga secara langsung mengurangi efek depresi dalam hidup dan meningkatkan kualitas tidur sehingga mengurangi kadar kecemasan sehari-hari (Ng et al, 2012). Hans Selye yang membahas mengenai stres pertama kali sejak enam puluh tahun lalu pun mengatakan bahwa penawar terbaik untuk stres adalah bersyukur. Dengan menghargai apa yang ada, kita akan membungkus kembali pikiran kita, mengarahkan perhatian, perasaan dan perilaku kita menjadi lebih positif sehingga mampu untuk melawan stres yang menimpa kita. Jadi, justru di saat suram inilah, kita harus lebih banyak bersyukur agar cepat keluar dari tekanannya.

Terlepas dari masa-masa penuh tekanan, di dalam kehidupan sehari-hari pun kita harus tetap menjaga sikap bersyukur ini. Masih banyak efek positif dari sikap bersyukur ini yang dapat kita nikmati dalam keseharian kita. Karena bukan hanya sekedar diperintahkan dalam agama, tapi karena memang sudah terbukti secara ilmiah. Bukan juga hanya di saat akhir tahun ini saja, tapi juga agar diterapkan sepanjang tahun baru ini dan bahkan sepanjang umurmu. Karena hidup itu sendiri adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri: di sanalah kebahagiaan akan menghangatkanmu dan penderitaan mengajarimu hingga akhir usiamu di dunia. Stay grateful and enjoy your life!

___

Benny Prawira, seorang mahasiswa psikologi angkatan 2011 dari Universitas Bunda Mulia. Please follow my Twitter @Ben_Evolence and add my FB account: Benny Prawira Siauw.

 

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − 9 =