Apa itu Perdamaian Berbasis Gender?

posted on 09/10/2013

“Perdamaian akan tercipta jika tidak ada konflik dan kekerasan dengan basis prasangka yang menyeluruh tak hanya didasarkan prasangka suku ras dan agama atau yang ada dalam bayangan dunia kaum lelaki, analisis gender akan membantu memahami konflik yang terjadi di mana korbannya perempuan. Anlisis gender menyempurnakan analisis yang ada akibat ketimpangan suku, ras agama dan orientasi seksual.”

Sahabat GueTau kali ini, GueTau bakalan sedikit menyentil masalah konsep perdamaian menurut Bunda Lies Marcoes, aktifis gender di indonesia yang namanya sudah tidak asing lagi di telingga teman-teman atau LSM yang aktif dalam pembelaan masalah gender. Bukan hanya di Indonesia, nama Bunda Lies sudah terdengar sampai beberapa negara seperti di Malaysia, ia mengambil Master antropologi di negara Kincir Angin Belanda. Orangnya ramah, nyentrik, dan  friendly sehingga nyaman untuk berbincang-bincang.

Kali ini kita dapat kesempatan untuk menambah informasi mengenai konsep damai yang di suguhkan oleh Bunda yang satu ini lewat obrolan santai GueTau dan bunda beberapa waktu lalu di Bandung.

Bun kenapa ada konsep damai dengan menggunakan gender?

Begini, konflik semua hanya dipahami sebagai pertentangan yang terjadi di runag publik, misalnya konflik antara suku, ras, agama. Tapi kok akibatnya bisa beda kepada lelaki, perempuan dan anak-anak.  Semula orang hanya membayangkan konflik hanya terjadi di ranah publik saja, karenanya konsep perdamaian pun hanya melingkupi ruang publik saja. Padahal konflik juga terjadi di ranah domestik, antara suami dan istri atau antara orang dewasa  dan anak-anak. Ini berarti teori yang ada soal konflik dan damai membutuhkan penyempurnaan. Dan analisis gender membantu untuk menutup kekosongan itu.

Pentingnya konsep damai dengan mengunakan gender ini?

Karena konsep perdamaian yang ditawarkan, tidak bisa menyentuh dan mengatasi problem yang di hadapi oleh perempuan, anak atau kelompok minoritas ketika mereka menjadi korban. Contoh ketika terjadi kerusuhan mei 1998 itu yang di bayangkan hanya konflik kaya dan miskin, atau konflik yang di sebabkan dari perbedaan aliran politik. Setelah berhari-hari orang bisa melihat kok dampaknya berbeda kepada perempuan, terutama perempuan dari etnis Tionghoa. Laki-laki dibunuh, dibakar, disiksa, yang perempuan  sebelum disiksa mereka diperkosa terlebih dahulu. Itu membuktikan ada masalah lain yang tidak bisa diatasi oleh pendekatan-pendekatan sebelumnya ketika membicarakan masalah konsep damai. Oleh karena itu, sumbangan analisis gender bisa membantu dalam hal penyempurnaan konsep perdamaian ini.

Kenapa analisis gender?

Yang pertama, analisis gender memberi sumbangan pemikiran baru terhadap konsep tentang konflik dan damai yang sebelumnya tidak membayangkan soal domain baik publik maupun privat. Kedua, tidak membayangkan pengalaman yang berbeda yang di alami oleh kelompok perempuan, anak-anak atau kelompok minoritas lain karena konsep yang ada hanya melingkupi pengalaman lelaki yang  terjadi di ruang publik.

Alasan paling mendasar dari konflik yang sering terjadi sehari-hari

Kenapa analisis gender penting, ya ini untuk memetakan konflik yang ada dalam kehidupan sehari-hari misalnya kekerasan dalam rumah tangga dan atau hubungan seksual sedarah dalam keluarga (inses). Kenapa demikian? Karena adanya relasi yang kurang seimbang antara perempuan dan laki-laki, bapak dan anak, kakak dan adik, atau saudara lelaki dengan yang perempuan. Begitu juga di komunitas LGBT, konflik sehari-hari yang timbul adalah ketidak seimbangan relasi antara orientasi heteroseksual dan homoseksual sehingga analisis gender ini penting untuk memberikan sumbangan pemikiran baru terhadap konsep damai yang sudah ada tapi belum sempurna.

Dengan pemetaan relasi kuasa yang dianalisis  dengan menggunakan analisis gender akan muncul pemahaman yang lengkap  dan dengan begitu ketika kita mendesain upaya perdamaian kita akan mendapati pendekatan yang komprehensif. Bukan melulu memikirkan perdamaian antar lelaki di ruang publik. Analisis ini bisa membangun kesetaraan seperti  antara perempuan dan laki-laki, orang yang berkebutuhan khusus dengan orang biasa, dan juga heretoseksual dengan homoseksual sehingga menjadi relasi yang seimbang maka perdamaian ini akan dicapai.

Demikian penuturan Bunda Lies Marcoes mengenai konsep damai berbasis gender. Sayang pertemuan GueTau dengan beliau terlalu singkat padahal masih banyak ilmu-ilmu lain yang harus GueTau dan Sahabat GueTau gali dari beliau. Mudah-mudahan lain kali jika ada kesempatan bertemu lagi Bunda Lies siap berbagi ilmu dengan Sahabat GueTau, melalui guetau.com

Inti dari percakapan GueTau dengan Bunda Lies adalah “Konsep damai bisa di realisasikan dengan menggunakan analisis gender sehingga tercipta relasi yang seimbang antara gender, ras/suku, dan orientasi seksual sehingga konflik yang ada bisa di tekan atau malah di tiadakan” dan ini pesan moral yang sangat baik dari Bunda Lies untuk kita bangun secara global semuanya dimulai dari diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan sehingga perdamaian itu bukan hanya hiasan bibir saja tetapi menjadi kenyataan Sahabat GueTau! Satu Indonesia bilang amin.

 

Ditulis oleh Danish Mohhad

related post

Indahnya Melihat Gender sebagai Pelangi

posted on 17/11/2015

Sumber “Seperti warna-warna pada pelangi, gender terbentang pada suatu spektrum, bukan hanya dua kategori biner lelaki-perempuan. “ Halo

Negara-negara dengan Kesetaraan Gender Terbaik

posted on 16/05/2015

Dengan keseimbangan dan kesetaraan gender di berbagai bidang kehidupan, maka akan tercipta keserasian dan harmoni kehidupan yang lebih baik.

Ketimpangan Gender: Diskriminasi Perempuan dalam Pekerjaan “Maskulin”

posted on 05/05/2015

“Perempuan maupun pria sama-sama manusia, yang memiliki hak untuk bekerja di bidang apapun. Entah itu pekerjaan ‘feminin’ atau ‘mask

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + 5 =