Si Cantik yang Enerjik: Dulu dan Kini

posted on 30/04/2013

“Kamu cantik, cantik, dari hatimuuu..”

Hayo, siapa nih Sobat GueTau yang nggak familiar dengan lagu ini?

Yu, potongan kalimat di atas diambil dari lirik lagu Cherrybelle. Tapi, bukannya Cherrybelle yang akan kita bicarakan kali ini, melainkan sosok perempuan.

Ada apa dengan perempuan?

Sobat GueTau yang makin kece, bertepatan dengan momen Hari Kartini di bulan April ini kita akan mengupas sosok seorang wanita, sisi-sisinya, serta kiprahnya dulu dan kini.

Perempuan adalah sosok yang identik dengan kata ‘cantik’. Lantas, apa yang ada di benak sobat GueTau saat ditanya soal apa yang dimaksud ‘cantik’? Pasti mayoritas jawaban yang muncul berkaitan dengan hal fisik; seperti berkulit putih, bertubuh ramping, berambut panjang dan lurus, dan deskripsi lainnya. Padahal, sobat GueTau, yang namanya cantik itu dilihat dari dua sisi lho, fisik dan non-fisik.

Dalam dunianya, Si Cantik (perempuan) mengalami dua era yang berbeda. Kedua era ini menunjukkan metamorfosis hak dan kiprah perempuan dalam dunianya yang cukup signifikan. Era Kartini dan Era Globalisasi. Jika kita telaah, kedua era tersebut sangatlah bertolak belakang, namun di sisi lain saling mendukung satu sama lain.

Si Cantik di Era Kartini

Raden Ajeng Kartini namanya sudah tidak asing di telinga kita. Era Kartini berlangsung pada akhir abad ke-19 hingga awal abad 20. Selama era ini, sosok perempuan sangatlah menyedihkan. Menyedihkan karena mereka tidak memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri, hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, hak untuk berkarya, hak untuk berpendapat, hingga hak untuk memperoleh informasi. Hanya perempuan dari kalangan tertentu, seperti bangsawan, yang dapat mengenyam pendidikan formal. Itu pun hanya sampai tingkat Sekolah Dasar. Kartini adalah salah satu yang merasakan pendidikan formal tersebut. Berbekal kemampuannya membaca, ia banyak memperoleh informasi dari buku dan surat kabar lokal.

Lalu, bagaimana dengan nasib perempuan lain yang berada pada rentang kelas sosial bawah? Sudah dipastikan mereka akan terus terkurung pada ketidaktahuannya dan hidup dalam keterbelakangan kemampuan. Perempuan hanya sebagai obyek budaya konservatif turun-temurun. Beruntung Indonesia memiliki Kartini yang dengan rasa keingintahuannya yang tinggi disertai kepekaannya akan isu gender di sekitarnya mendorongnya untuk melakukan ‘pemberontakan’ hak-hak perempuan yang populer dengan emansipasi perempuan. ‘Pemberontakan’ yang dilakukan Kartini tidak menggunakan kekerasan, melainkan pendidikan. Kartini menyulap ruangan kecil di rumahnya menjadi sekolah bagi perempuan-perempuan di sekitarnya.

Perhatian Kartini tidak hanya soal emansipasi perempuan, tetapi juga melingkupi masalah sosial umum; seperti kebebasan dari ‘pingitan’ dan perjodohan, otonomi dalam menentukan pilihan hidup, dan persamaan hukum sebagai bagian dari ‘pemberontakan’ yang lebih luas. Sayangnya, usia beliau tidak sepanjang cita-citanya. Beliau meninggal pada usia 25 tahun saat melahirkan putra pertamanya. Pelopor emansipasi perempuan lainnya adalah Roehana Kudus dan S.K Trimurti.

Si Cantik di Era Globalisasi

Saat ini, perempuan patut berbahagia dan bersyukur akan kemajuan pesat yang dialami perempuan Indonesia. Kalau dahulu sumber informasi hanya terbatas pada buku dan surat kabar lokal, lain halnya dengan era modern seperti saat ini. Sumber informasi sangat beragam dan tidak terbatas.

Kesetaraan yang sempat diimpikan Kartini nampaknya satu per satu menjadi nyata. Kesempatan kerja dan berkarir, kesempatan pendidikan, kesempatan dalam lembaga-lembaga publik dan politik yang dimiliki perempuan hampir sama besar dengan kesempatan yang dipunyai warga laki-laki. Perempuan kini tidak hanya sekedar mampu membaca, banyak perempuan yang juga melampaui jenjang S3, bahkan profesor.

Perempuan kini tidak lagi hanya berkecimpung dalam urusan domestik rumah tangga, mereka mampu berkontribusi lebih dalam bidangnya. Sri Mulyani, tokoh ekonom Indonesia yang juga mantan Menteri Perekonomian Indonesia merupakan figur perempuan yang ahli di bidang ekonomi. Ibu Tri Mumpuni yang berkiprah dalam bidang pembangkit energi, Agnes Monica di bidang menyanyi dan akting, hingga Dewi ‘Dee’ Lestari dalam bidang sastra.

Emansipasi era ini tidak berhenti sampai disitu, berbagai kebijakan yang mendukung pemenuhan hak-hak perempuan dan keadilan gender juga mulai berkembang. Sebut saja Inpres No. 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender, UU No. 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), dan lainnya. Untuk kasus pelanggaran hak perempuan dan advokasi secara hukum, maka dibentuklah lembaga-lembaga khusus yang memiliki program pemberdayaan dan penguatan hak-hak perempuan, baik lembaga negara maupun non-negara, tumbuh dan berkembang pesat; seperti Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Emansipasi juga memicu tumbuhnya pergerakkan anak muda. Anak muda yang dalam hal ini perempuan semakin vokal dan proaktif menyuarakan isu-isu sosial di masyarakat melalui sosial media, pembentukan komunitas, hingga organisasi. Pergerakkan ini menghapus gender dari persyaratan untuk turut serta menjadi partisipan maupun inisiator gagasan.

Sebagai penutup bahasan kita kali ini, ada baiknya kita resapi kutipan surat Kartini untuk temannya, Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899 berikut.

“Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata emansipasi belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi di kala itu telah hidup di dalam hati sanubari saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. “

Perempuan diciptakan indah, karenanya isilah hari-harimu dengan keindahan aktivitas dan kontribusimu.

Perempuan kini, sekarang, dan nanti harus tetap jadi Si Cantik yang enerjik, positif, dan kontributif.

Karena Cantik itu Kamu.

Gue Tahu, Kalo Lo?

___

Ditulis Oleh; Nikita Dewayani, Kontributor GueTau.com

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 1 =