Multitasking (Nggak) Selalu Produktif

posted on 10/01/2013

“Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.”

Mungkin ini salah satu kutipan yang bisa mengantarkan kita pada istilah ‘multitasking’. Pernah nggak sih ngerjain UAS, makalah, LPJ kegiatan dikerjakan dalam satu waktu? Mungkin setiap orang pernah alami, tapi mungkin mereka belum sadar dengan istilah ‘multitasking’.

Produktif? Mungkin. Tapi, selalu efisien dan efektifkah untuk segala hal?

Kita mulai dari definisi dari multitasking. ‘Multitasking adalah suatu istilah yang digunakan untuk pekerjaan yang dilakukan bersamaan dalam satu waktu. Hal yang paling sederhana dari multitasking adalah mengerjakan tugas di laptop sambil SMS-an. Itu sudah termasuk dalam kategori multitasking. Tidak hanya itu, multitasking juga dapat berupa beberapa aktivitas dengan perpindahan yang cepat, misalnya menelepon sambil mengetik. Nah, mungkin saat kalian membaca artikel ini kalian juga bersamaan mengerjakan hal lain? Itu juga termasuk multitasking, lho. Jadi, segala hal yang dilakukan secara bersamaan dalam satu waktu sudah dapat dikategorikan multitasking.

Terus, memangnya kenapa dengan multitasking? Bukannya justru lebih efisien dan produktif yah?

Ya, memang terlihat produktif karena hal yang dilakukan secara multitasking akan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Tapi, berdasarkan penelitian para ahli, kebiasaan multitasking yang terus-menerus dapat mengganggu kemampuan otak manusia untuk fokus dan konsentrasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Meyer tentang “Executive Control of Cognitive Processes in Task Switching” dalam Journal of Experimental Psychology, ternyata perilaku multitasking dapat menurunkan produktivitas hingga 40% lho. Penelitian yang dilakukan oleh Robert Rogers dan Stephen Monsell tentang “The Costs of A Predictable Switch Between Simple Cognitive Tasks” dalam Jornal of Experimentasl Psychology terhadap orang yang sering melakukan multitasking diperoleh bahwa mereka yang sering melakukan multitasking lebih lambat saat mengulang pekerjaan yang sama untuk kedua kalinya. Para ilmuwan juga menyatakan kalau kebiasaan melakukan banyak hal dalam satu waktu tidak hanya membuyarkan konsentrasi, tapi juga menurunkan nilai IQ (kecerdasan) seseorang.

Seseorang juga akan mengalami kesulitan, bahkan tidak dapat menangkap informasi baru, ketika melakukan multitasking. Junco dan Cotten juga membuktikan bagaimana multitasking mempengaruhi keberhasilan akademik seseorang dan pelajar yang terikat dengan kebiasaan ini cenderung bermasalah dalam prestasi akademiknya. Saat hendak melakukan kegiatan lebih dari satu, otak akan memilah kegiatan mana yang akan dilakukan terlebih dahulu dan ini akan memakan waktu. Semakin banyak kegiatan yang akan dilakukan bersamaan, maka lebih banyak waktu yang diperlukan.

Perpindahan dari satu kegiatan ke kegiatan lain mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik. Hal ini akan memakan waktu yang lebih banyak jika seseorang berpindah-pindah tugas secara berulang dari tugas saat ini, ke tugas sebelumnya, dan kembali lagi ke tugas saat ini. Dalam perilaku multitasking, situasi memegang peranan penting. Situasi tertentu memungkinkan kita melakukan multitasking. Biasanya pada situasi-situasi senggang yang tidak membutuhkan terlalu banyak konsentrasi dan pikiran, semisal SMS-an sambil menonton film, mungkin tidak terlalu berdampak pada kemampuan fokus kita. Tapi, hal ini tidak bisa ditolerir untuk kegiatan-kegiatan yang membutuhkan fokus tinggi dan distraksi, meski hanya beberapa detik, seperti saat menyetir. Pengecualian berlaku untuk situasi-situasi yang mengutamakan keamanan dan produktivitas. Saat menyetir mobil sambil mencari channel radio yang menarik atau sambil telepon, ini sangat membahayakan.

Berikut beberapa tips dan trik untuk tetap produktif dan efisien sebelum melakukan multitasking:

  1. Buat daftar kegiatan beberapa hari ke depan.
  2. Pilah-pilah kegiatan dan kategorikan menurut urgensinya (waktunya) dan bobot yang memerlukan konsentrasi penuh dan pemikiran yang fokus. Misalnya, membuat paper lebih menyita pikiran dan konsentrasi ketimbang buat artikel di blog pribadi.
  3. Beberapa hal yang ringan dan tidak terlalu menyita konsentrasi dan pikiran dapat kita lakukan bersamaan.
  4. Jangan menunda tugas. Lakukan segera. Karena seringkali perilaku multitasking adalah solusi terakhir yang dilakukan karena deadline sudah dekat (deadliners).
  5. Yang terakhir dan paling penting, lakukan semuanya dengan seimbang. Jangan berlebihan dan terlalu sering multitasking. Karena hal yang berlebihan tidak baik, kan?

Sebagai mahasiswa, sekaligus aktivis muda, penting lho untuk bisa memilah-milah kegiatan yang harus kita lakukan. Multitasking bisa saja jadi solusi, tapi jangan jadikan andalan dalam mengejar target alias asal selesai.

Pada dasarnya, multitasking bisa saja efisien dan efektif untuk dilakukan hanya pada saat-saat tertentu yang memang tidak menuntut konsentrasi penuh dan pemikiran yang matang. Pelan-pelan yang penting selamat  🙂 

___

Oleh: Nikita Dewayani

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 3 =