Transchool: Waria juga Bisa Berprestasi!

posted on 28/02/2017

 

Transchool: Waria Juga Bisa Berprestasi/Lini Zurlia

“Waria tidak seperti yang ada di bayangan banyak orang. Mereka juga punya kemauan dan kesempatan untuk berprestasi.”

Agustus-Okotber 2016 adalah bulan-bulan yang penuh warna bagiku juga kawan-kawan transpuan Sanggar SWARA. Kami secara kolektif urun rembug berbagi saran dan masukan untuk menyelenggarakan Transchool 2016-2017.

‘Saatnya mahkota miss waria muda dari Nona Rebecca kita lengser dan pindahkan’ canda kami di setiap pertemuan untuk menggagas kegiatan ini sambil meledek Rebecca Miss Waria Muda 20014. Hari demi hari kami terus mematangkan rencana; membungkus rencana kelas dengan kerangka analisis HAM, feminisme dan interseksionalitas issue, mencari dukungan rupiah demi rupiah dari berbagai sumber, mulai dari dukungan individu hingga organisasi dan sedikit lembaga donor akhirnya konsep matang dan akhirnya terselenggaralah sebuah  sekolah alternatif bagi waria muda yang mengkombinasikan proses belajar dalam kelas, luar kelas, magang dan disematkan juga penutup kelas dengan transwoman beauty pageant yang berbeda dengan beauty pageant pada umumnya.

Dimulai pada November 2016, program ini diikuti 25 waria muda dengan batasan usia 18-30 tahun yang berdomisili di wilayah Jabodetabek. Para peserta mengikuti rangkaian kelas serial dan kelas kunjungan lapangan dimana peserta diajak bersama untuk memahami apa itu Sexual Orientation, Gender Identity & Expression – Sex Characteristic (SOGIESC) dan Hak Asasi Manusia (HAM), Bullying, Feminisme, Penerimaan Diri, HIV AIDS & IMS, Islam, Gender & Seksualitas, dll. Usai mengikuti kelas serial peserta dikukuhkan pemahamannya dalam proses satu minggu karantina.

Program ini sesungguhnya telah dibentuk sejak 2010 oleh Perkumpulan Sanggar Swara, Transchool selenggarakan secara berkala oleh Sangar SWARA. Transchool bertujuan untuk meningkatkan posisi tawar waria muda untuk melakukan advokasi hak-haknya sebagai warga negara Indonesia. Bukannya tanpa alasan, waria di Indonesia masih sering mengalami kekerasan dari berbagai pihak.

Selain itu, dari total 224 dampingan, hanya 34% dari mereka yang memiliki KTP, sementara 66% sisanya tidak memiliki KTP, hal ini disebabkan diantaranya karena komunitas waria muda yang berada di Jakarta banyak yang diusir dari rumah atau kabur dari rumah karena tidak nyaman dengan perlakuan yang diterimanya. Sekitar 20% dari komunitas waria muda pernah mengalami kekerasan dari Ormas dan Masyarakat serta 27% dari mereka pernah dirazia oleh Satpol PP.

Secara ekonomi, komunitas waria muda umumnya tidak mempunyai pendapatan tetap dengan rata-rata penghasilan Rp. 500,000- Rp. 1,000,000 per bulan, dimana 96% dari mereka tinggal sendiri (kontrakan dan kosan) dan 4% tinggal dengan Keluarga.

Pada tingkat pendidikan, hanya 47% waria yang menyelesaikan sekolah tingkat SMP, 42% SMA, 9% SD, dan hanya 1 orang yang memiliki ijazah S1. Minimnya pendidikan dan keterampilan pada komunitas waria muda yang diperburuk dengan stigma dan diskriminasi, membuat komunitas waria muda umumnya hanya bisa akses pekerjaan tidak formal, dimana 55% dari mereka bekerja sebagai Pekerja Seks, 27% nya sebagai Pengamen, 10% bekerja di Salon rumahan, 11% dari mereka bekerja sebagai karyawan dan sisanya sebagai karyawan lepas seperti make up dan penghibur di klub malam.

Akhirnya rangkaian program ini diiakhiri dengan perhelatan akbar ‘Malam Inaugurasi Penyematan Miss Transchool 2017’ tadi malam 24 Februari 2017 di Pusat Kebudayaan Belanda di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Dihadiri oleh ratusan orang dari berbagai latar, dihibur dengan lagu-lagu punk oleh Marjinal Band, acara berjalan dengan lancar pastinya. Peserta yang memiliki keinginan yang kuat untuk berjuang bersama akan terpilih menjadi Miss Transchool 2017 yang akan menjadi champion bagi kerja-kerja advokasi untuk waria muda di wilayah Jakarta, Bogor, Depok & Bekasi.

Terpilih Rere Agistya sebagai pemenang Miss Transchool 2017 dan Keirina Hana sebagai runner up 1. Mereka sebagai pemenang bukan berarti 20 finalis lainnya bukan pemenang, ke-22 finalis ini adalah pemenang dari Transchool 2017. Sungguh aku berbangga hati dapat menjadi bagian dari proses belajar dan berbagi bersama mereka.

Aku bangga sekali dengan tim yang telah berkontribusi, beberapa di antaranya adalah Arus Pelangi, SWARA, dan Kalyanashira Foundation. Akan ada sebuah film dokumenter yang pastinya dapat digunakan sebagai alat kami berjuang untuk melawan patriarki dan kekerasan.

Meski tak sempat datang pada malam penganugerahan mahkota Miss Transchool 2017 tadi malam, aku tetap berbahagia , sambil bertitip pesan pada semua; sebab opresi adalah selalu saja terkoneksi, mari kita berjuang dan berlawan bersama!

Smash Patriarchy!

Oleh Lini Zurlia

Lini adalah Queer Feminist Activist yang sehari-hari berjuang bersama kawan-kawan minoritas gender dan seksual di Arus Pelangi sebagai Koordinator Advokasi. Terlibat di banyak kolektif perempuan seperti One Billion Rising (OBR) Indonesia, Komite Aksi Perempuan, PurpleCode Collective dan #SaveOurSisters. Memiliki mimpi untuk terus hidup melawan penindasan dimana pun berada dengan selalu menngunakan feminisme sebagai cara pandang dalam bergerak.

related post

Pasangan Transeksual Ini Akan Segera Punya Bayi!

posted on 26/06/2017

Dalam banyak hal, Trystan Reese dan Biff Chaplow seperti pasangan yang sedang mempersiapkan kelahiran bayi mereka mengumpulkan barang-barang

The Danish Girl: Tentang Perjuangan

posted on 03/03/2016

Kalau Sahabat GueTau pernah mendengar lagu ‘berawal dari tatap’, begitulah film The Danish Girl ini bermula. Dari tatapan timbul

Ramai-Ramai Bicara LGBT: Membahas Transphobia

posted on 03/02/2016

“Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Arus Pelangi–sebuah lembaga swadaya masyarakat yang membela hak-hak kaum lesbian, gay, bisek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − ten =