Ada Apa dengan Reog Ponorogo?

posted on 28/06/2016

    “…Sebagai gantinya, para warok berhubungan seks dengan anak laki-laki berparas tampan yang berusia 10 sampai dengan 17 tahun yang disebut sebagai gemblak.”

Sahabat GueTau, pernahkan kamu menyaksikan pertunjukan seni tradisional reog?

Pementasan reog terdiri dari banyak pelaku yang memiliki perannya masing-masing, di antaranya adalah warok dan gemblak. Warok adalah pemimpin kelompok reog, sementara gemblak adalah penari jathilan (kuda lumping) pada pertunjukan itu.

Kata warok saat ini sudah jauh berbeda maknanya. Saat ini warok tak lebih sebagai seorang penari. Dulu warok mengacu pada lelaki gagah perkasa yang memimpin kelompok Reog. Mereka adalah tokoh yang disegani masyarakat karena berada di kelas sosial yang tinggi dan juga memiliki kesaktian seperti kebal senjata tajam.

Menurut tradisi, warok diwajibkan untuk melakukan pantangan demi mempertahankan kesaktiannya. Seorang warok dilarang berhubungan seksual dengan perempuan, sekalipun istrinya sendiri. Sebagai gantinya, para warok berhubungan seks dengan anak laki-laki berparas tampan yang berusia 10 sampai dengan 17 tahun yang disebut sebagai gemblak.

Gemblak ini biasanya tinggal bersama dengan para warok dan menjadi bagian dalam rumah tangga warok yang sudah menikah. Warok memang menikah dengan seorang perempuan sebagai istri mereka, tetapi mereka tetap memiliki gemblak untuk memenuhi hasrat seksualnya.

Seorang warok biasanya mencari gemblaknya sendiri atau mengutus orang suruhannya. Gemblak dicari tidak hanya di Ponorogo saja, namun juga dari luar Ponorogo. Setelah calon gemblak dipilih, dilakukan prosesi lamaran atau pinangan kepada orangtuanya. Warok melakukan kontrak selama beberapa tahun untuk “menyewa” sang anak dengan memberikan imbalan berupa hewan ternak atau sawah garapan sebagai kompensasi kepada orangtua anak itu.

Selain merawat dan memberikan tempat tinggal, warok juga memiliki kewajiban untuk membiayai pendidikan sang gemblak. Sedangkan jika gemblak tidak bersekolah, maka tiap tahunnya sang warok harus memberinya seekor sapi. Setelah habis masa kontrak, warok akan mengembalikan gemblak ke rumah orang tuanya atau bisa memperpanjang kembali masa kontraknya.

Gemblak juga diajarkan tentang tata krama dalam berpakaian, bersikap di meja makan, sampai bagaimana melayani waroknya. Mereka umumnya menyebut waroknya dengan panggilan “Bapak”. Selain itu, mereka juga diajarkan kesenian reog sebagai penari jathilan. Gemblak juga menjadi semacam asisten pribadi bagi sang warok.

Mereka harus selalu menemani waroknya pergi ke berbagai acara, seperti saat undangan hajatan perkawinan, yang juga merupakan ajang para warok untuk memamerkan gemblaknya kepada masyarakat dan warok lain yang hadir.

Memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat di kalangan komunitas warok. Warok bisa mempunyai lebih dari satu gemblak. Bagi seorang warok, memiliki gemblak adalah simbol status. Semakin banyak gemblak yang dimiliki, semakin tinggi status sosial seorang warok di masyarakat.

Banyak cara yang harus ditempuh untuk bisa mendapatkan gemblak idaman yang sudah dincarnya. Demi sebuah perhelatan, seorang warok bisa menyewa gemblak dari warok lain selama beberapa jam, untuk dibawa dan dipamerkan dalam hajatan tersebut. Ada juga beberapa kasus perkelahian antar warok untuk memperebutkan seorang gemblak.

Akhirnya desakan nilai-nilai di masyarakat memaksa kesenian reog memodifikasi diri. Saat ini sudah terjadi pergeseran dalam hubungan antara warok dengan gemblakan. Tradisi memelihara gemblak kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jathilan, kini perannya digantikan oleh remaja perempuan. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang penari perempuan.

Para sepuh warok meyakini, kini tidak ada lagi warok sakti karena warok hanya sebatas penari sehingga sudah tidak perlu memelihara gemblak.

Itu dia cerita antara warok dan gemblakan dalam tradisi reog di Ponorogo, Jawa Timur. Bagaimana pendapat Sahabat GueTau? Jika kamu ingin berbagi tentang tradisi di daerah tempat tinggalmu, langsung kirimkan ke info@guetau.com ya!

Oleh Helmi Akbar

Referensi:
1. http://www.merdeka.com/peristiwa/warok-dan-gemblak-kisah-sumbang-kesenian-reog-ponorogo.html
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas_di_Indonesia#Warok_dan_Gemblakan
3. http://www.pawargo.com/
4. http://warokkini.blogspot.co.id/2011/03/kegelisahan-seorang-warok.html

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve + eight =