Yuk Memaknai Harga Diri

posted on 09/09/2013

 

 

 

 

 

“Gue akan tunjukin gue punya harga diri! Gue bisa kalahin mereka.”

“Ih, harga diri gue tercoreng gara-gara gosip itu!”

“Eh, hati-hati yah kalau ngomong, kaitannya sama harga diri gue itu!”

“Saya punya harga diri, perbuatanmu nggak bisa lagi saya maafkan karena telah merusak harga diri saya.”

 

Sering dengar kalimat-kalimat seperti ini, Sahabat GueTau? Ups, kamu lihat nggak sih harga diri itu kok kesannya jadi macam-macam kayak gini? Sebenarnya apa sih harga diri itu? Seberapa penting sih dalam diri kita?

Yuk mari kita bahas satu-satu yah!

“Gue akan tunjukin gue punya harga diri! Gue bisa kalahin mereka.”

Pertama, sahabat GueTau perlu tau bahwa orang yang harga dirinya baik, tidak akan berusaha menyaingi orang lain atau juga tidak mudah tersaingi gara-gara perasaan “insecure”.

“Ih, harga diri gue tercoreng gara-gara gosip itu!”

“Eh, hati-hati yah kalau ngomong, kaitannya sama harga diri gue itu!”

Nah ini juga salah satu bentuk pemahaman harga diri yang salah, Sahabat GueTau. Orang yang mudah tersinggung justru indikator orang yang harga dirinya rendah lho. Kenapa? Karena sebenarnya orang yang harga dirinya baik juga akan memiliki kebahagian emosional yang baik pula sehingga dia tidak akan mudah tersinggung. Orang yang harga dirinya rendah inilah yang justru seringkali kesulitan meregulasi emosinya.

“Saya punya harga diri, perbuatanmu nggak bisa lagi saya maafkan karena telah merusak harga diri saya.”

Ada saja lho orang yang menutup pintu rapat-rapat untuk bisa memahami atau memaafkan orang lain dengan alasan harga diri. Padahal nih, Sahabat GueTau, orang yang harga dirinya baik punya pemahaman yang lebih baik terhadap orang lain, lebih bisa berempati dan punya kemampuan yang lebih baik pula dalam hal memaafkan.

 

Terus pengertian harga diri yang bener itu apa dong?

Nah, dari beberapa definisi yang bisa kita baca, harga diri adalah bagaimana seseorang merasakan dirinya. Kata “bagaimana” di situ mengarah pada adanya kualifikasi rendah dan tinggi atau positif dan negatif (low and high).

Selain itu, kata “merasakan” di sini, menurut Dr. Nathaniel Branden (Nase, 2004) dan lain-lain, mengandung beberapa pengertian yang perlu digaris-bawahi:

  1.  Pengertian “merasakan” di situ bukan sekedar merasa (mere feeling) aja, tetapi lebih merupakan mengalami atau “experiencing”  dan menghadapi atau “dealing with”. Jadi, orang yang harga dirinya positif itu adalah orang yang mengalami proses hubungan yang positif dengan dirinya, punya perasaan positif terhadap dirinya, punya penilaian yang baik terhadap dirinya (self-concept). Pengalaman dan proses hubungan yang positif inilah yang  kemudian melahirkan sikap dan perilaku yang positif. Ini tentu berbeda dengan merasa yang hanya merasa. Belum tentu orang yang merasa dirinya baik itu betul-betul memiliki perasaan positif dan nilai yang baik tentang dirinya. Merasa yang seperti ini justru malah kerap menjadi bukti rendahnya harga diri. Orang yang haus penghormatan dari orang lain, yang teraktualisasikan ke dalam berbagai bentuk sikap negatif, seperti arogansi, kekerdilan, keminderan atau lainnya, justru timbul karena harga diri negatif. Karena punya pengalaman yang negatif terhadap dirinya, maka yang muncul adalah sikap dan tindakan yang negatif atas orang lain.

 

  1. Perasaan itu harus berdasarkan fakta-fakta positif dalam praktek hidup. Itu berarti orang punya perasaan positif hanya ketika mengkonsumsi Napza atau hanya karena berhasil mengalahkan orang lain tidak menjadi bukti adanya harga diri yang baik. Pelampiasan yang demikian justru menjadi indikasi adanya kualitas harga diri yang rendah. Karena dia tidak bisa menciptakan kebahagian dari dalam, akhirnya ia mencari di luar.

 

  1. Perasaan dimiliki sebagai modal untuk menciptakan arus hidup ke arah yang semakin positif. Ini berarti orang yang “feel good” sebagai pelampiasan atas kekalahannya terhadap realitas tidak bisa dijadikan indikator adanya harga diri yang baik. Feel good semacam ini malah menjadi indikator adanya rendahnya harga diri.

 

Jadi, Sahabat GueTau, harga diri itu adalah proses intrinsik, yakni orang merasa perlu  untuk menjaga atau menghormati dirinya dengan cara-cara yang terhormat. Caranya yah  dalam bentuk  melakukan sesuatu yang positif atau dengan menghindari sesuatu yang negatif. Harga diri kamu pada dasarnya tidak bisa dinaikkan atau diturunkan oleh orang lain. Meski orang lain menghina (yang mungkin sering kali terjadi), tapi orang dengan harga diri positif akan tetap bertahan dan tak tergoyahkan sama sekali. Begitu juga sebaliknya, mau berapa banyak orang yang memuji, orang dengan harga diri negatif akan tetap merasa kekurangan akan dirinya. Nah semoga setelah membaca artikel ini, Sahabat GueTau tetap bisa menjadi diri sendiri, meskipun mungkin banyak kritikan atau hinaan dari orang lain ya. Kita adalah apa yang kita pikirkan!

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − one =