Selaput Dara: Identitas Keperawanan?

posted on 23/01/2013

Sahabat GueTau, pasti sudah familiar sama salah satu organ tubuh yang satu ini. Meskipun familiar, tapi pasti masih banyak yang merasa tabu untuk membicarakannya. Selaput dara. Bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia, selaput dara identik sebagai indikator apakah seseorang masih disebut perawan atau tidak. Kali ini, GueTau akan coba memaparkan lebih lanjut tentang selaput dara dan mengapa sampai saat ini selalu dikaitkan sebagi lambang kesucian. Simak terus pemaparannya ya.

SELAPUT DARA atau istilah biologisnya hymen adalah lipatan membran yang menutup sebagian luar vagina. Hymen diambil dari nama dewa perkawinan pada jaman Yunani kuno. Di beberapa wilayah dan kebudayaan, keperawanan masih dianggap sebagai nilai penting yang melambangkan kesucian perempuan. Robeknya selaput dara bisa berakibat pengucilan hingga hukuman mati. Di salah satu suku terpencil di Australia terdapat budaya untuk merobek selaput dara calon pengantin 1 minggu sebelum pernikahannya oleh wanita yang dituakan. Bila ternyata ditemukan hymen sudah robek, maka perempuan tersebut menjadi bahan gunjingan, hukuman, bahkan hukuman mati.

Dari data-data yang ada, GueTahu belum menemukan fungsi pasti dari selaput dara. Para ahli berpendapat bahwa membran ini berfungsi melindungi organ intim ketika masih bayi. Karena pada masa bayi, sistem kekebalan tubuh masih sangat lemah sehingga rentan mengalami infeksi. Pada bayi perempuan, selaput dara lebih tebal dan kadang-kadang tidak membentuk lubang sama sekali. Wujudnya berubah seiring bertambahnya usia, menjadi lebih tipis dan memiliki lubang dengan bentuk yang sangat bervariasi pada setiap individu. Meski ada beberapa bayi perempuan yang lahir dengan selaput dara menutup sempurna, bentuknya tidak akan selamanya demikian. Ketika tubuh dewasa, lubang akan terbentuk dengan sendirinya untuk memberi jalan bagi darah menstruasi yang akan keluar ketika mulai masuk masa puber.

Perlu Sahabat GueTahu garisbawahi bahwa kerusakan selaput dara bisa terjadi sejak kanak-kanak, terutama karena aktivitas fisik, misalnya main sepeda. Saat remaja, aktivitas yang memicu rusaknya selaput dara antara lain berkuda, pemakaian produk-produk pembersih organ intim dan tentu saja masturbasi dengan cara memasukkan sesuatu ke vagina. Selain itu, dari penelitian yang dilakukan lebih lanjut tentang kerusakan pada selaput dara menghasilkan bahwa ada selaput dara yang tetap utuh meski melakukan hubungan seksual. Data statistik menunjukan bahwa 1 dari 200 perempuan memiliki selaput dara yang cukup kuat hingga tidak rusak meski beberapa kali ditembus benda tumpul.

Wah? Kalau kayak gini, apakah “keperawanan” masih bisa ditentukan dari selaput dara? Sahabat GueTau bisa menjawabnya sendiri, berdasarkan pemaparan di atas. Pastikan Sahabat GueTau terus setia mengakses GueTau.Com untuk pembelajaran lebih lanjut tentang seksualitas.

See you! 🙂

____

Ditulis Oleh: Vica Larasati

 

related post

2 thoughts on “Selaput Dara: Identitas Keperawanan?

  1. Benny says:

    Saatnya mematahkan mitos pemujaan keperawanan dari selaput dara! 😀

  2. vimax says:

    penemuan terkeren ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − 2 =