Penemuan Pembalut Higienis nan Murah di India

posted on 22/03/2016

“Menstruasi adalah proses yang secara biologis memang eksklusif untuk kaum perempuan. Namun, bukan berarti para pria tidak bisa ambil bagian dalam mencari solusi yang berkaitan dengan masalah menstruasi.”

Sahabat GueTau sadar gak sih, kalau kita hidup di dunia di mana menstruasi masih dianggap sebagai sesuatu yang kotor dan tabu. Bahkan di Nepal, perempuan yang sedang menstruasi harus segera diasingkan.

Di negara seperti India, permasalahannya tidak lagi hanya soal diskriminasi atau cap tertentu pada perempuan, melainkan juga tentang minimnya akses perempuan untuk mendapatkan pembalut yang higienis dengan harga terjangkau. Hanya sekitar 10-20 persen perempuan di India mempunyai akses tersebut.

Seorang laki-laki bernama Arunachalam Muruganantham telah berhasil menyelesaikan masalah ini dan memulai sebuah revolusi dalam industri produk pembalut di India.

Semua dimulai ketika Muruga menyadari bahwa istrinya menggunakan kain bekas sebagai pengganti pembalut saat sedang datang bulan karena mereka tidak bisa membeli pembalut komersial yang harganya mahal.


“Jika aku membeli (pembalut) yang di toko, aku harus memotong biaya belanja susu kita,” begitulah penjelasan istri Muruga.

Sejak saat itu, Muruga bertekad untuk membuat pembalut buatan sendiri sebagai hadiah untuk istrinya.


“Aku ingin mengesankan istriku,” ujar Muruga saat berbicara di TedTalk.

Saat itu tahun 1998. Awalnya, Muruga menggunakan kapas sebagai bahan utama pembalut. Pembalut buatan pertamanya pun langsung dicoba oleh sang istri. Sayangnya, pembalut tersebut belum dapat menyerap darah mens dengan baik sampai sang istri lebih memilih menggunakan kain bekas dibandingkan pembalut buatan Muruga. Muruga kembali bereksperimen dengan bahan yang berbeda.

Masalahnya, ia bosan harus menunggu sebulan sekali untuk mencoba pembalut buatannya pada istrinya. Ia pun mendapat ide cemerlang: mengapa tidak minta tolong para mahasiswi di universitas lokal saja? Ternyata, cara ini pun tidak efektif karena para mahasiswi terlalu malu untuk memberikan tanggapan ke Muruga.

Frustrasi karena tidak bisa mendapatkan hasil yang diinginkan, Muruga pun memutuskan untuk mencoba sendiri pembalut buatannya. Ia membuat uterus buatan yang diisi dengan darah hewan dan sebuah selang yang mengalirkan darah tersebut ke pembalut yang ia pasang di celana dalamnya. Ia menempelkan uterus buatan ini ke pinggangnya. Muruga pun secara konstan menekan selang tadi untuk agar darah hewan tersebut mengalir ke pembalutnya.

Karena percobaannya yang ‘aneh’ ini, Muruga dicap sebagai orang cabul, bahkan sakit jiwa, oleh para tetangganya. Lebih buruk lagi, istrinya sampai menceraikan dirinya karena tidak tahan dengan semua aksi Muruga. Hebatnya, Muruga tidak pernah menyerah walaupun banyak rintangan telah menghadang. Ia tetap fokus pada proyeknya dan tidak berhenti sampai mendapatkan produk pembalut yang sempurna.

Butuh waktu hampir tujuh tahun bagi Muruga untuk menemukan bahan yang tepat dan cara memproses pembalut tersebut secara massal. Hasil akhir dari proyek Muruga bukan hanya produk pembalut higienis dengan harga murah, tetapi yang paling penting adalah mesin produksi pembalut tersebut.

Ketika mesin produksi biasa dapat mencapai harga sampai $500.000, mesin buatan Muruga hanya berharga $950. Ia kemudian menjual mesin ini ke komunitas perempuan atau sekolah-sekolah agar mereka dapat menggunakan mesin ini untuk menjual pembalut dan menghasilkan uang.

Secara tidak langsung, apa yang berawal untuk membantu para perempuan mendapatkan pembalut higienis yang murah, sekarang telah menjadi solusi untuk menciptakan lapangan kerja bagi para perempuan terutama di daerah pinggiran dan terbelakang di India.

Apa yang dilakukan Muruga telah membantu jutaan perempuan di India dalam hal kesehatan reproduksi dan juga pemberdayaan perempuan secara sosial dan ekonomi. Kesehatan dan pemberdayaan manusia memang tidak akan pernah tercapai jika kita tidak saling tolong-menolong dalam memecahkan masalah yang ada sekarang.

Apakah Sahabat GueTau punya cerita yang sama? Kirimkan cerita kamu ke info@guetau.com atau justian@guetau.com ya!

Oleh Averina Edwina R.

Sumber dan Referensi:
1. http://interactive.aljazeera.com/aje/shorts/india-menstruation-man/index.html
2. https://www.ted.com/talks/arunachalam_muruganantham_how_i_started_a_sanitary_napkin_revolution?language=en

related post

Anti Bocor dengan Menstrual Cup

posted on 20/08/2016

“…karena bahan dari menstrual cup yang terbuat dari silikon, alat ini dapat bertahan lebih dari satu kali pakai atau jangka wakt

#TanyaGueTau: Tampon!

posted on 18/08/2016

“Tampon dapat mengikuti gerak tubuh dan memiliki daya serap yang tinggi sehingga kita seperti tidak sedang berada dalam siklus menstru

Di Nepal, Menstruasi Berarti Pengasingan

posted on 10/03/2016

“Tradisi ini pernah merenggut nyawa seorang perempuan bernama Sarmila Bhul.” Beberapa waktu lalu, GueTau pernah memuat artikel m

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *