Seluk Beluk Kesehatan Mental Remaja

posted on 13/09/2014

kesehatan mental remaja

 

Mengenal Lebih Dalam Tentang Arti Kesehatan Mental Pada Remaja

Pada dasarnya,fase remaja adalah tahapan dari sebuah perkembangan sebelum masa dewasa. Secara usia menurut  UNFPA seseorang dikatakan masuk dalam usia remaja adalah antara 10-24 tahun, dan jika sudah melewati dari batas usia tersebut, bisa dikatakan seseorang tersebut sudah memasuki pada masa dewasa awal.

Dalam setiap perjalanannya, tidak jarang remaja mengalami sebuah permasalahandalam proses sebuah pembuktiannya.Hal tersebut juga akan sangat alamiah akan dialami oleh semua remaja atau yang mungkin lebih sering dikenal dengan masa-masa pubertas.

Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Perubahan mood yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja mudah berubah-ubah dengan cepat belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis. Pada masa remaja, terjadi perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri (self-awareness). Sangat rentan terhadap pendapat orang merupakan salah satu contoh kendala yang remaja seperti Sahabat GueTau mungkin alami. Remaja yang cenderung menganggap diri sendiri sangat unik dan bahkan percaya keunikan tersebut akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran.

Pengertian Kesehatan Mental

Dalam psikologi perkembangan remaja,kesehatan mental lebih sering dikenal  sebagai proses sedang dalam fase pencarian jatidiri yang penuh dengan kesukaran dan persoalan. Fase perkembangan remaja iniberlangsung cukup lama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 11-19 tahun pada perempuan dan 12-20 tahun pada laki-laki. Fase perkembangan remaja ini dikatakan fase pencarianjati diri yang penuh dengan kesukaran dan persoalan adalah karena dalam fase iniremaja sedang berada di antara dua persimpangan antara dunia anak-anak dan duniaorang-orang dewasa.

Sedangkan menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Zakiah Daradjat mendefenisikan bahwa mental yang sehat adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh, antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat. Jika mental sehat dicapai, maka individu memiliki integrasi, penyesuaian dan identifikasi positif terhadap orang lain. Dalam hal ini, individu belajar menerima tanggung jawab, menjadi mandiri dan mencapai integrasi tingkah laku.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keadaan kesehatan mental remaja menjadi terganggu, antara lain adalah:

A. Faktor Internal

Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang seperti sifat, bakat, keturunan dan sebagainya. Contoh sifat, yaitu seperti sifat jahat, baik, pemarah, dengki, iri, pemalu, pemberani, dan lain sebagainya. Contoh bakat, yakni misalnya bakat melukis, bermain musik, menciptakan lagu, akting, dan lain-lain. Sedangkan aspek keturunan seperti turunan emosi, intelektualitas, potensi diri, dan sebagainya.
B. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berada di luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi mental seseorang. Lingkungan eksternal yang paling dekat dengan seorang manusia adalah keluarga seperti orang tua, anak, istri, kakak, adik, kakek-nenek, dan masih banyak lagi lainnya.
Faktor luar lain yang berpengaruh yaitu seperti hukum, politik, sosial budaya, agama, pemerintah, pendidikan, pekerjaan, masyarakat, dan sebagainya. Faktor eksternal yang baik dapat menjaga mental seseorang, namun faktor external yang buruk / tidak baik dapat berpotensi menimbulkan mental tidak sehat.

 

Macam-macam Dinamika Kesehatan Mental Remaja

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan topan”, suatu masa di mana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Ciriperkembangan psikologis remaja adalah adanya emosi yang meledak-ledak, sulit dikendalikan, cepat depresi (sedih atau putus asa) dan kemudian melawan dan memberontak.

Emosi tidak terkendali ini disebabkan oleh konflik peran yang sering kali dialami semua remaja. Adanya rasa ketidakpuasan oleh beberapa hal yang dianggap oleh remaja adalah merupakan sebuah sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya, juga sangat akan berpengaruh pada kondisi mental dari remaja tersebut. Seperti hal nya sebagai berikut beberapa masalah yang timbul akibat dari kondisi mental seorang remaja dimana sedang dalam proses pencarian jati dirinya tersebut, seperti:

  1. Perubahan psikoseksual 

Produksi hormon testosteron dan hormon estrogen mempengaruhi fungsi otak, emosi, dorongan seks dan perilaku remaja. Selain timbulnya dorongan seksual yang merupakan manifestasi langsung dari pengaruh hormon tersebut, dapat juga terjadi modifikasi dari dorongan seksual itu dan menjelma dalam bentuk pemujaan terhadap tokoh-tokoh olah raga, musik, penyanyi, bintang film, pahlawan, dan lainnya. Remaja sangat sensitif terhadap pandangan teman sebaya sehingga ia seringkali membandingkan dirinya dengan remaja lain yang sebaya, bila dirinya secara jasmani berbeda dengan teman sebayanya maka hal ini dapat memicu terjadinya perasaan malu atau rendah diri.

 

  1. Pengaruh teman sebaya 

Kelompok teman sebaya mempunyai peran dan pengaruh yang besar terhadap kehidupan seorang remaja. Interaksi sosial dan hubungan dengan teman sebaya mempunyai peranan yang besar dalam mendorong terbentuknya berbagai keterampilan sosial. Bagi remaja, rumah adalah landasan dasar sedangkan ‘dunianya’ adalah sekolah. Pada fase perkembangan remaja, anak tidak saja mengagumi orangtuanya, tetapi juga mengagumi figur-figur di luar lingkungan rumah, seperti teman sebaya, guru, orangtua temanya, selebritis, dan lainnya. Dengan demikian, bagi remaja hubungan yang terpenting bagi dirinyaselain orangtua adalah teman-teman sebaya dan seminatnya. Remaja mencoba untuk bersikap independent dari keluarganya akibat peran teman sebayanya. Di lain pihak, pengaruh dan interaksi teman sebaya juga dapat memicu timbulnya perilaku antisosial, seperti mencuri, melanggar hak orang lain, serta membolos, dan lainnya.

 

  1. Stres di masa remaja

Banyak hal dan kondisi yang dapat menimbulkan tekanan (stres) dalam masa remaja. Berhadapan dengan berbagai perubahan yang sedang terjadi dalam dirinya maupun target perkembangan yang harus dicapai sesuai dengan usianya. Di pihak lain, mereka juga berhadapan dengan berbagai tantangan yang berkaitan dengan pubertas, perubahan peran sosial, dan lingkungan dalam usaha untuk mencapai kemandirian. Tantangan ini tentunya berpotensi untuk menimbulkan masalah perilaku dan memicu timbulnya tekanan yang nyata dalam kehidupan remaja jika mereka tidak mampu mengatasi kondisi tantangan tersebut.

 

  1. Perilaku berisiko tinggi 

Remaja kerap berhubungan berbagai perilaku berisiko tinggi sebagai bentuk dari identitas diri. 80% dari remaja berusia 11-15 tahun dikatakan pernah menunjukkan perilaku berisiko tinggi minimal satu kali dalam periode tersebut, seperti berkelakuan buruk di sekolah, penyalahgunaan zat, serta perilaku antisosial (mencuri, berkelahi, atau bolos) dan 50% remaja tersebut juga menunjukkan adanya perilaku berisiko tinggi lainnya seperti mengemudi dalam keadaan mabuk, melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi, dan perilaku kriminal.

Dalam suatu penelitian menunjukkan bahwa 50% remaja pernah menggunakan marijuana, 65% remaja merokok, dan 82% pernah mencoba menggunakan alkohol. Dengan melakukan perbuatan tersebut, remaja mengatakan bahwa ia merasa lebih dapat diterima, menjadi pusat perhatian oleh kelompok sebayanya, dan mengatakan bahwa melakukan perilaku berisiko tinggi merupakan kondisi yang mendatangkan rasa kenikmatan (‘fun’). Walaupun demikian, sebagian remaja juga menyatakan bahwa melakukan perbuatan yang berisiko sebenarnya merupakan cara untuk mengurangi perasaan tidak nyaman dalam dirinyaatau mengurangi rasa ketegangan. Dalam beberapa kasus perilaku berisiko tinggi ini berlanjut hingga individu mencapai usia dewasa.

 

  1. Kegagalan pembentukan identitas diri 

Menurut J. Piaget, awal masa remaja terjadi transformasi kognitif yang besar menuju cara berpikir yang lebih abstrak, konseptual, dan berorientasi ke masa depan (future oriented). Remaja mulai menunjukkan minat dan kemampuan di bidang tulisan, seni, musik, olah raga, dan keagamaan. E. Erikson dalam teori perkembangan psikososialnya menyatakan bahwa tugas utama di masa remaja adalah membentuk identitas diri yang mantap yang didefinisikan sebagai kesadaran akan diri sendiri serta tujuan hidup yang lebih terarah. Remaja akan mulai belajar dan menyerap semua masalah yang ada dalam lingkungannya dan mulai menentukan pilihan yang terbaik untuk mereka seperti teman, minat, atau pun sekolah. Di lain pihak, kondisi ini justru seringkali memicu perseteruan dengan orangtua atau lingkungan yang tidak mengerti makna perkembangan di masa remaja dan tetap merasa bahwa mereka belum mampu serta memperlakukan remaja seperti anak yang lebih kecil. Secara perlahan, remaja mulai mencampurkan nilai-nilai moral yang berragam yang berasal dari berbagai sumber ke dalam nilai moral yang dianut, dengan demikian terbentuklah superego yang khas dan akan terjawab pertanyaan ’siapakah aku?’ dan ’kemanakah tujuan hidup saya?’ Bila terjadi kegagalan atau gangguan proses identitas diri ini maka terbentuk kondisi kebingungan peran (role confusion). Role confusion ini sering dinyatakan dalam bentuk negativisme seperti menentang dan perasaan tidak percaya akan kemampuan diri sendiri. Negativisme ini merupakan suatu cara untuk mengekspresikan kemarahan akibat perasaan diri yang tidak adekuat akibat dari gangguan dalam proses pembentukan identitas diri di masa remaja ini.

 

  1. Gangguan perkembangan moral 

Moralitas adalah suatu konformitas terhadap standar, hak, dan kewajiban yang diterima secara bersama. Apabila ads dua standar yang secara sosial diterima bersama tetapi saling konflik, maka umumnya remaja mengambil keputusan untuk memilih apa yang sesuai berdasarkan hati nuraninya. Dalam pembentukan moralitasnya, remaja mengambil nilai etika dari orangtua dalam upaya mengendalikan perilakunya. Selain itu, mereka juga mengambil nilai apa yang terbaik bagi masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, penting bagi orangtua untuk memberi suri teladan yang baik dan bukan hanya menuntut remaja berperilaku baik, tetapi orangtua sendiri tidak berbuat demikian.

Secara moral, seseorang wajib menuruti standar moral yang ada namun sebatas bila hal itu tidak mebahayakan kesehatan, bersifat manusiawi, serta berlandaskan hak asasi manusia. Dengan berakhirnya masa remaja dan memasuki usia dewasa, terbentuklah suatu konsep moralitas yang mantap dalam diri remaja. Jika pembentukan ini terganggu maka remaja dapat menunjukkan berbagai pola perilaku antisosial dan perilaku menentang yang tentunya mengganggu interaksi remaja tersebut dengan lingkungannya, serta dapat memicu berbagai konflik.

 

  1. Tidak Realistis dan Tidak Bertanggung Jawab  

Remaja yang salah dalam menjalani penyesuaian diri terkadang melakukan tindakan-tindakan yang tidak realistis, bahkan cenderung melarikan diri dari tanggung jawabnya. Perilaku mengalihkan masalah yang dihadapi dengan mengkonsumsi minuman beralkohol banyak dilakukan oleh kelompok remaja, bahkan sampai mencapai tingkat ketergantungan penyalahgunaan obat terlarang dan zat adiktif. Berkaitan dengan pelepasan tangung jawab, dikalangan remaja juga sering dijumpai banyak usaha untuk bunuh diri. Di negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, dan Selandia Baru, masalah bunuh diri dikalangan remaja berada pada tingkat yang memprihatinkan. Sedangkan di negara berkembang seperti Indonesia, perilaku tidak sehat remaja yang berisiko kecelakaan juga banyak dilakukan remaja, seperti berkendaraan secara ugal-ugalan. Hal lain yang menjadi persoalan penting dikalangan remaja di semua negara adalah meningkatnya angka delinkuensi. Perilaku tersebut misalnya keterlibatan remaja dalam perkelahian antar sesame, kabur dari rumah, melakukan tindakan kekerasan, dan berbagai pelanggaran hukum adalah umum dilakukan oleh remaja.

 

Nah, demikian informasi yang dapat dibagikan mengenai masalah kesehatan mental yang dialami oleh remaja tersebut. Mulailah untuk turut peduli terhadap kondisi kesehatanmu secara pribadi!Selamat Hari Remaja Internasional 2014!  “Let’s do it for change

Nah buat sahabat GueTau yang punya pertanyaan, saran dan juga kritik lebih lanjut bisa mengirimkan e-mail ke info@Guetau.com.

 

Ditulis oleh Itas

 

Referensi :

  1. http://growupclinic.com/2012/09/25/7-masalah-kesehatan-mental-remaja-yang-harus-diketahui-orangtua/
  2. http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/masalah-kesehatan-mental-remaja-di-era-globalisasi.html
  3. http://dewikusumadian.blogspot.com/2012/11/kesehatan-mental-pada-remaja.html
  4. Hasil Outreach Teman-teman SeBAYA PKBI Jatim 2013-2014

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × five =