Homophobic Bullying

posted on 01/06/2013

“Banci! Banci! Banci”

“Jadi cewek kok tomboy banget seh!? Pake rok dong sesekali!”

 

Sahabat GueTau, pernah nggak kalian dengar kata-kata seperti ini terlontarkan di sekitar kalian? Biasanya, cowok yang terlihat kemayu akan menjadi korban ledekan dan ejekan teman-temannya. Hal ini biasanya akan semakin parah apabila ada seorang murid di sekolah diketahui bahwa dirinya memiliki orientasi seksual berbeda, seperti menyukai sesama jenis.

Semua tindakan ini bisa didefinisikan sebagai homophobic bullying. Menurut UNESCO, homophobic bullying is a gender-specific type of bullying, based on actual or perceived sexual orientation or gender identity. Orang dengan SOGI yang dianggap berbeda daripada masyarakat kebanyakan memang biasanya akan menjadi target bullying selain orang dengan penampilan fisik berbeda. Homophobic bullying ini menjadi salah satu jenis bullying paling umum di Inggris. Lebih mengejutkan lagi, homophobic bullying dilaporkan terjadi sekitar 68% di antara lesbian, gay, dan biseksual di Chili, 53% di Guatemala, 61% di Mexico dan 66% di Peru. Di Brazil, sekitar 40% gay melaporkan pernah mengalami penganiyaan fisik saat sekolah mereka.

Banyak di antara LGBT ini akhirnya memutuskan untuk keluar dari sekolah akibat bullying. Di Amerika Serikat, 28% dari LGBT yang kena target homophobic bullying  merasa terpaksa keluar dari sekolah. Tercatat bahwa 68% gay dan 42% lesbian pernah merasakan pahitnya hate speech dari lingkungan sekolah mereka. Bahkan 10% di antaranya pernah mengalami kekerasan seksual. Di Irlandia, LGBT bukan hanya diancam oleh teman sebayanya (25%) tapi juga mendapatkan homophobic bullying dari guru dan staff sekolah lainnya (34%). Di sekolah-sekolah berbasiskan agama tertentu, homophobic bullying mencapai angka yang jauh lebih mengkhawatirkan.

Melihat angka yang cukup tinggi seperti ini, kira-kira apa saja sih dampak dari homophobic bullying ini?

LGBT yang mengalami homophobic bullying menjadi 5x lebih ingin untuk membolos sekolah. Prestasi akademik serta motivasi belajarnya juga ikut menurun. Karena terjadi pada tahap pembentukan identitas diri, bullying bisa menjadi berbahaya. Bullying bisa menyebabkan target merasa dirinya pantas untuk di-bully dan konsep diri ini akhirnya terbawa hingga dewasa. Bullying yang diterima terus-menerus sangat berpengaruh terhadap terbentuknya identitas dan konsep diri yang lemah dan negatif. Kebanyakan target dari abusive relationship juga berawal dari bullying ini. Namun, tidak jarang ditemukan pula pelaku abusive relationship ternyata memiliki sejarah menjadi target bullying.

Remaja gay dan lesbian yang jadi target homophobic bullying biasanya akan mengalami kebingungan, kemarahan, rendahnya harga diri, dan perasaan tidak aman terhadap dunia yang akhirnya berbuntut kepada kerentanan hingga 2-3 kali lipat lebih mudah melakukan bunuh diri daripada remaja lainnya. Dalam kasus paling ekstrim, banyak murid yang akhirnya memiliki gagasan untuk bunuh diri dan cukup nekat untuk melakukannya jika mereka tidak mendapatkan dukungan dan perawatan yang tepat. Sebanyak 30% dari kasus bunuh diri remaja LGBT ini disebabkan karena masalah krisis identitas seksual.

Dampak negatif bukan hanya dialami oleh target homophobic bullying. Pelaku homophobic bullying, sama seperti pelaku bullying lainnya bisa terjadi terjebak ke dalam pola perilaku vandalisme, pencurian, dan lebih rentan kepada penyalahgunaan obat. Beberapa di antara mereka, jika perilaku negatifnya tidak ditangani sebelum umur 18 tahun, maka akan tumbuh dengan kepribadian antisosial yang suka membangkang dan menentang norma sosial. Ditemukan juga bahwa di umur 23 tahun, banyak di antara para pelaku bully ini menjadi pelaku kriminal.

Pelaku homophobic bullying juga bisa jadi merupakan seorang homoseksual/bisexual yang sedang dalam masa kebingungan identitas seksualnya. Dikarenakan kebingungan akan identitas seksualnya dan tuntutan masyarakat untuk menjadi heteroseksual, ia berusaha untuk menunjukkan kebenciannya kepada homoseksual dengan melakukan bullying ke targetnya. Apabila si pelaku homophobic bullying ini merupakan seorang homoseksual yang kebingungan atas identitas seksualnya dan dibiarkan membenci homoseksualitas itu sendiri, maka pelaku homophobic bullying ini dapat berakhir ke kebencian terhadap diri sendiri. Self stigma yang berujung ke self hatred ini bisa berakibat kepada manifestasi perilaku merusak diri dan orang lain yang semakin meningkat.

Jadi, Sahabat GueTau, setelah tahu seberapa dampak negatif yang bisa diterima akibat homophobic bullying ini, mari kita mulai kurangi stigma terhadap LGBT dan juga bullying kepada siapapun dan kapanpun juga. Bullying berbeda dengan bercanda, dimana saat kita bercanda tidak terdapat sebuah timpang kekuasaan dan kedua pihak bisa memahaminya tanpa merasa sakit hati sedikit pun juga. Apabila kamu melihat adanya sebuah pola “korban-pelaku” dimana pelaku jauh lebih sering menyakiti/mengejek/menekan si korban hingga korban tidak berdaya, ada baiknya kamu mulai pertimbangkan hal tersebut sebagai bullying dan melaporkannya kepada pihak sekolah. Homophobia sendiri juga merupakan suatu hal yang telah lama kita tularkan dan pelajari akibat prasangka yang tidak tepat kepada LGBT, sudah saatnya kita mulai membuka mata dan belajar menerima sesama kita terlepas apapun keragaman latar belakang yang ia miliki. Sebagai sesama manusia, bukanlah posisi kita untuk saling menghakimi dan menuding satu sama lain.

 

Let’s Say No to Homophobic Bullying!

Ditulis Oleh: Benny Prawira, kontributor GueTau.com

 

related post

Sedih, Lagi-Lagi Rentetan Kasus Bullying Terjadi di Indonesia

posted on 19/07/2017

Kapan ya kasus bullying ini akan berakhir? Kasus bullying atau perundungan kembali terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil rekapan, dua kasu

Kata Mereka: Dena Rachman Tentang Bullying di Dunia Maya

posted on 11/11/2016

“Mantan bintang cilik yang kini seorang perancang sepatu, Dena Rachman, sangat terbuka dan bangga dengan transformasinya menjadi seora

Perjuangan Demi Lovato Untuk Bebas dari Depresi

posted on 04/11/2016

“Seiring berkembangnya waktu, tindakan bulimia ini kemudian mengantarkan Lovato untuk mengenal minuman keras dan mulai menyayat-nyayat

One thought on “Homophobic Bullying

  1. aan says:

    Wah jadi tau kondisi teman2 yg diistilahkan sbg LGBT yg sering merasa di bully.
    Setuju.. Stop bullying thdp mereka! Karena bullying tidaklah menyelesaikan masalah justru malah memperkeruhnya.
    Btw saya bukan yg termasuk dalam LGBT. Saya masih merasa diri saya adalah seorang laki2 yang menyukai wanita. Kalo boleh tau, biasanya apa yg membuat seorang laki2 atau perempuan bs sampai menyukai sesama jenisnya? Ini fenomena yang menarik menurut saya.
    Terimakasih apabila berkenan menjawab pertanyaan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − twelve =