Yakin Mau Coba Terapi Ubah Orientasi Seksual?

posted on 12/01/2013

Apakah pernah kamu merasa tertarik ke sesama jenis dan tiba-tiba seluruh dunia serasa runtuh bagimu? Cap abnormal, berdosa, dan bayangan semua orang menghakimi langsung menghantui kepalamu. Orang tua yang kecewa, sahabat yang menjauh, tidak ada yang mau menganggapmu ada lagi nanti. Di dalam lubuk hatimu, kamu pun sangat berharap ada sebuah cara untuk bisa mengubah ketertarikanmu ke lawan jenis.

Berita baiknya, ada banyak sekali cara yang ditawarkan oleh beberapa ahli untuk mengubah orientasi seksualmu!

Jika kamu hidup di abad ke 19 sebagai seseorang yang merasa dirinya lelaki pencinta sesama jenis di Jerman, kamu mungkin akan sangat senang sekali bertemu dengan Baron Albert von Schrenk-Notzing. Beliau akan menawarkanmu untuk “kembali menjadi heteroseksual” dengan mengajakmu minum alkohol hingga mabuk dan membawamu ke sebuah rumah bordil paling berkelas di kotanya agar para wanita pekerja seks di sana bisa memberikan pelayanan terbaik mereka. Lupakan soal infeksi menular seksual, bagi beliau, kenikmatan yang diterima dari perempuan di saat kamu mabuk adalah satu-satunya cara agar kamu bisa menjadi heteroseksual.

Kamu juga tidak perlu khawatir tidak dapat giliran penyembuhan karena rumah bordil yang penuh, Baron memiliki keahlian hipnosis yang tidak kalah canggih dari Rommy Rafael. Dari 32 kasus yang ia tangani, terdapat 12 kasus yang ia klaim “sembuh” di tahun 1892. Pengertian sembuh bagi beliau adalah “pasien benar-benar dapat melawan ide mengenai homoseksualitas, memperdalam rasa bertanggung jawab, pengendalian diri, dan berpikir benar.” Yah, kita nggak akan pernah tahu soal pasiennya bicara dalam keadaan mabuk atau sadar, berbohong atau tidak, jadi yah kita anggap saja klaimnya itu benar adanya.

Agak minggir sedikit dari Jerman. Di Vienna, kamu bisa bertemu dengan seorang ahli biologi bernama Eugen Steinach. Beliau adalah direktur Institut Biologi. Jabatannya tentu tidak meragukan untuk bisa memberikan pengobatan. Beliau bilang homoseksualitas terjadi karena ketidakseimbangan hormonal. Oleh karena itu, beliau menawarkan untuk mentransplantasi testikel pria heteroseksual kepada dirimu dengan harapan kamu bisa kembali maskulin dan mencintai wanita. Jadi, kalau si ahli biologi ini kehabisan stok testikel prianya, kamu tinggal cari saja kira-kira pria heteroseksual mana yang cukup baik hati untuk mendonorkan testikelnya atau mungkin bisa didapatkan juga dari mayat yang belum membusuk?

Untuk yang merasa dirinya lesbian, jangan berkecil hati. Di abad yang sama, kamu bisa bertemu dengan Denslow Lewis yang percaya bahwa homoseksualitasmu itu muncul karena kamu hidup di kalangan borjuis dan mengalami sebuah fenomena bernama “sexual hyperesthia”. Baginya, tidak ada cewek kere yang jadi lesbian. Jadi, anggap saja itu sebuah pujian darinya yang mungkin agak kesulitan untuk diterima cintanya oleh perempuan kaya raya.

Pengobatan yang ditawarkan olehnya adalah memberikanmu larutan kokain, melakukan operasi klitoris dan menyuntikkan strychnine ke dalam dirimu. Ngomong-ngomong, strychnine adalah senyawa kimia yang terkandung dalam pestisida dan bisa menyebabkan kejang-kejang otot. Jika itu tidak cukup mengerikan, mungkin perlu kamu ketahui juga, seorang pasiennya dilaporkan mengalami gangguan mental berat setelah pengobatan ini dan akhirnya meninggal di rumah sakit jiwa.

Hmm, harus diakui cara mereka ini agak barbar dan menakutkan bagimu yah?

Baiklah, mari kita cari cara yang lebih halus. Terapi electrocution alias disetrum di kursi listrik sudah ada sejak dulu hingga sekarang lho. Kalau itu masih menakutkan dan terlalu ajeb-ajeb, mari kita beralih ke ahli-ahli lain.

Mengenang masa 1960-an ketika homoseksualitas masih dianggap penyimpangan seksual, I. Oswald, seorang psikolog dari Inggris mungkin bisa memberikanmu sebuah terapi yang lebih baik. Ia akan memaksamu menelan obat mual dan berada di dalam sebuah ruangan yang dikelilingi oleh gelas-gelas berisi air seni sembari memperdengarkan suara lelaki berhubungan seksual dengan lelaki lainnya. Terapi overdosis homoseksualitas ini diharapkan akan membuatmu sangat jijik untuk membayangkan hubungan seksual dengan sesama jenis sehingga kamu jadi lebih tertarik kepada perempuan.

Terdengar agak kurang masuk akal yah? Baiklah, kita cari cara yang lebih sehat dan masuk akal. Bagaimana dengan bersepeda? Graeme M. Hammond, seorang pakar neurologi Amerika, akan menyarankanmu untuk bersepeda sebagai obat untuk homoseksualitas. Syaraf-syaraf di daerah pribadimu itu bisa dipulihkan kembali dengan bersepeda. Dengan demikian, kamu akan menjadi heteroseks sekaligus sehat dan mendukung gerakan sepeda sehat! Tapi dengan catatan yah, jangan sampai kamu malah bersepedanya ditemani teman-temanmu yang gemar bersepeda tapi tetap-homo-selalu, nanti bisa nggak sembuh-sembuh kayak mereka, doyan sepedaan kok doyan sesama juga…heran yah.

Oh iya, kalau kamu mau sekalian plesir ke Hong Kong, kamu mungkin bisa ikuti sesi pelatihan terapi dari seorang psikiater bernama Hwong Kwai Wah. Beliau ini sejak tahun 2011 sudah dikenal namanya. Beliau akan menyarankan kamu untuk mandi air dingin, berdoa, dan berpantang. Hwong Kwai Wah ini tampaknya mengambil jurusan psikiatri yang bercampur dengan tradisi mistis timur yah. Siapa tau kamu juga bisa konsultasi feng shui sama dia supaya lebih cepat sembuh dari homoseksualitasmu.

Sebenarnya, masih ada banyak lagi rujukan yang bisa diberikan untuk mengubah orientasi seksualmu. National Association for Research and Therapy of Homosexuality (NARTH) dan Exodus di AS misalnya. Beberapa bahkan ada di dalam negeri sendiri, Indonesia.

Tapi seringkali berita baik datang bersama dengan berita buruk.

Tahu apa yang menjadi berita buruk bagi kamu yang ingin mengubah orientasi seksualmu?

Standard kesuksesan dari terapi reparasi orientasi, terapi konversi orientasi, terapi reorientasi, atau apapun namanya ini seringkali hanya diukur dari menurunnya kemampuanmu untuk terangsang secara seksual kepada sesama jenis. Selain itu, jarang sekali di antara para ahli yang mengecek kembali apakah pasiennya yang menyatakan dirinya sudah “sembuh” ini benar-benar memiliki ketertarikan bukan hanya secara fisik ketika bersentuhan dengan lawan jenisnya, tapi juga secara emosional. Ibaratnya nih, kamu udah dibuat nggak suka makan keju yang biasanya kamu suka, sekarang pun kamu tetap tidak tertarik makan coklat yang memang biasanya kamu juga tidak tertarik.  Bingung kan jadinya mau makan apa? Lama-lama dari bingung ini, bisa stress, kalau kelamaan malah bisa depresi juga lho. Akhirnya kembali makan keju lagi deh biar nggak stres.

Kebanyakan ahli terapi juga biasanya terjebak dalam bias mereka melaporkan kesuksesan yang ada. Saking ambisiusnya, mereka bukan hanya terjebak dalam bias tapi seringkali meletakkan pasien ini di dalam sebuah kondisi yang menekan keadaan psikologis mereka lebih jauh. Bahkan dilaporkan ada beberapa pasien yang terluka akibat terapi-terapi tersebut.

Semua hal ini dikabarkan Satuan Tugas yang diperintahkan oleh American Psychological Association pada tahun 2009. Hingga akhirnya terbentuk sebuah resolusi dari mereka, The American Psychological Association concludes that there is insufficient evidence to support the use of psychological interventions to change sexual orientation.” Tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung manfaat dari intervensi psikologis dalam mengubah orientasi seksual seperti ini.

Bagaimana dengan sikap para psikiatris umumnya? Sejak tahun 1998, American Psychiatric Association telah menolak segala macam bentuk pengobatan psikiatri sejenis terapi ‘reparasi’ atau terapi ‘konversi’ yang biasanya hanya didasarkan bahwa homoseksualitas bagian dari gangguan kejiwaan. American Psychiatric Association menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung efektivitas dari ‘terapi reparatif’ sebagai sebuah pengobatan mengubah orientasi seksual seseorang. Lebih penting lagi, mengubah orientasi seksual seseorang bukanlah tujuan yang pantas untuk sebuah pengobatan psikiatri. Orang-orang yang mencari usaha pengubahan orientasi menjadi heteroseks lebih disebabkan karena kesulitan yang mereka terima akibat stigma dan penilaian lingkungan sekitarnya. Pengalaman juga telah menunjukkan bahwa mereka yang menerima orientasi seksual mereka memiliki gambaran diri yang lebih positif dengan tingkat kesehatan psikologis yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang menolak orientasi mereka.

Dengan tidak valid dan bahaya dari usaha terapi mengubah orientasi seksual ini, masihkah kamu menganggap dirimu abnormal karena mencintai sesama jenis?

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders(DSM)dibuat oleh American Psychiatric Association dan menjadi acuan bagi para psikiater dan psikolog di seluruh dunia dalam menegakkan diagnosa abnormalitas seseorang. Alasan mengapa dahulu banyak ditemukan usaha reparasi terapi orientasi seksual karena memang dahulu DSM I yang diterbitkan di tahun 1952, homoseksualitas masih dianggap sebagai gejala gangguan kepribadian sosiopat yang menentang norma sosial sehingga harus diperbaiki. DSM II yang diterbitkan tahun 1968 pun akhirnya mengubah gangguan kepribadian ke bentuk penyimpangan seksual. Di tahun 1980, publikasi DSM III akhirnya menyatakan bahwa ada dua jenis homoseks. Homoseks ego sintonik dan homoseks ego distonik. Homoseks ego sintonik adalah yang bisa menerima dirinya dan homoseks ego distonik adalah yang tidak bisa menerima dirinya sebagai homoseks. Ego distonik ini yang akhirnya dimasukkan ke dalam DSM karena masih dianggap terganggu.

Penemuan demi penemuan selanjutnya memberikan lebih banyak pencerahan kepada ilmu pengetahuan mengenai homoseks. Diketahui bahwa sebenarnya tidak ada satu pun fungsi kognisi, emosi, sosial, seksual, ataupun sistem psikis lainnya yang salah dengan semua homoseks. Penyebab homoseks membenci dirinya adalah karena stigma yang disebarkan oleh masyarakat bersifat heteronormatif. Homophobia yang terinternalisasi inilah yang akhirnya harus ditangani oleh para psikolog dan psikiater agar klien homoseksual mereka bisa menerima diri mereka terlepas dari buruknya pandangan masyarakat di sekitar. DSM IV hingga DSM V yang rencananya akan diterbitkan Mei nanti ini tidak lagi memasukkan homoseks sebagai gangguan apapun.

Pada saat ini, orientasi seksual ke sesama maupun lawan jenis atau bahkan keduanya, dianggap sama normalnya. Ini hanyalah sebuah variasi dan keberagaman dalam seksualitas. Memang berbeda, tapi tidak abnormal sama sekali. Hanya saja perbedaan inilah yang masih sulit untuk diterima masyarakat, sama saja seperti kasus intoleransi antaragama yang dilakukan oleh orang yang berpikiran sempit dan berhati tertutup misalnya, jadi, wajar saja jika dirimu takut terkena stigma, tudingan, dan tuduhan.

Tapiiiii, inilah kabar yang paling baiknya untuk kamu yang masih ketakutan ditolak masyarakat hanya karena memiliki orientasi seksual yang berbeda; bukan hanya psikolog, psikiater, ataupun kalangan ilmiah saja yang bisa menerima dirimu, tapi sesungguhnya banyak heteroseksual dari berbagai latar belakang di luar sana yang mau mendukungmu apa adanya. Untuk menemukan buktinya, silahkan like page ini facebook.com/BeStraightBeProud dan follow @StraightProudID di twitter. Kamu bahkan bisa berpartisipasi di dalamnya lho. Keep up the spirit of your life, folks!

___

Ditulis oleh: Benny Prawira

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × two =