Serba-serbi Tradisi Pernikahan Unik di Indonesia

posted on 04/03/2014

“Gegarane wong akrami dudu bandha dudu rupo, amung ati pawitane, luput pisan kena pisan, yen angel angel kelangkung tan kena tinumbas arta.”

(Rambu rambu pernikahan bukan soal harta dan bukan karena wajah. Hanyalah hati yang menjadi modal pertimbangannya, Jika sekali salah jika benar pun sekali. Jika telanjur sulit, maka sulitnya luar biasa, tak bisa dibeli dengan harta).

Sumber: http://www.dikbangkes-jatim.com/?p=45

 

Demikian ungkapan atau refleksi pujangga Jawa. Sahabat GueTau, Indonesia adalah negara yang penuh dengan keragaman budaya. Hal inilah yang selalu menjadi kebanggaan bagi kita. Memperingati hari pernikahan sedunia, GueTau akan membagikan salah satu keragaman budaya tersebut lewat cerita tentang tradisi pernikahan unik yang ada di Indonesia.

 

 

Selarian Merarik

nikah 2

Sahabat GueTau, tradisi ini dilakukan oleh Suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menurut adat suku sasak ada beberapa cara perkawinan, yaitu perondongan (perjodohan), kawin lamar (mepadik lamar) dan selarian merarik. Selarian merarik merupakan cara pernikahan yang paling sering digunakan oleh masyakarat suku Sasak, karena dianggap paling terhormat. Merarik adalah proses menculik gadis yang hendak dinikahi dengan alasan menjaga kehormatan gadis. Untuk menculiknya, dicari hari dan bulan baik. Gadis yang diculik tersebut tidak dibawa pulang ke rumah calon suaminya, tetapi ditempatkan di rumah kerabat calon suaminya.

Dari pihak keluarga gadis yang merasa kehilangan, mereka melaporkan kepada kepala kampung atau kepala desa, proses ini disebut mesejati. Pihak lelaki memberi kabar atau nyelabar pada keluarga gadis bahwa anak gadisnya kawin lari. Urusan ini telah menjadi urusan desa, maka kepala desa mempelai laki-laki akan turun tangan memberitahu kepala desa pihak wanita, yang selanjutnya disampaikan kepada keluarga mempelai wanita.

 

Nikah Kromojati

nikah 3

Bagi Sahabat GueTau  yang ingin menikah dengan warga Bohol, Rongkop, Gunung Kidul dan ingin melangsungkan pernikahan di desa tersebut diwajibkan untuk menanam bibit pohon jati.

Sepintas kedengarannya memang unik, sepele, namun berarti. Demi sebuah upaya pelestarian lingkungan hutan yang kini mulai terkikis dengan meluasnya lahan kritis, pemdes Bohol sejak tahun 2007 lalu telah memberlakukan nikah kromojati.

Kromojati berasal dari kata kromo yang dalam istilah bahasa Jawa berarti pernikahan, sedang Jati merupakan nama salah satu jenis tanaman keras. Sehingga nikah kromojati bisa diartikan sebagai sebuah peresmian ikatan hubungan antara pria dan wanita secara sah menurut hukum yang berlaku disertai penanaman bibit pohon jati.

 

Anrio Tallu

nikah 4

Budaya prosesi perkawinan di Sulawesi Selatan memiliki banyak ragam sesuai dengan tradisi turun temurun dan tuntutan adat istiadat masing-masing suku. Meski dalam prosesnya nampak beda namun secara umum tetap memiliki kesamaan dalam pemaknaannya. Di Kabupaten Kepulauan Selayar,  Dusun Baturapa, Desa Polebunging, Kecamatan Bontomanai, menggelar tradisi adat pernikahannya yang menarik dan unik melalui prosesinya, yakni anrio tallu.

Prosesinya diawali dengan tabuhan gendang yang disebut panruppai to battu. Dalam dialek bahasa Selayar, irama gendang ini kerap diistilahkan dengan musik pui’-pui’. Pui’-pui merupakan sejenis alat musik tiup tradisional khas Sulawesi Selatan yang terbuat dari bambu. Bunyinya cempreng dan memekakkan telinga. Iringan musik etnik tersebut dipersembahkan untuk menyambut tamu undangan, baik dari sanak keluarga kedua mempelai, mau pun tamu dari luar lingkungan keluarga.

Selama prosesi anrio tallu, kedua mempelai hanya mengenakan sarung dan kemudian dimandikan dengan air kelapa dan air santan. Sebelum dimandi dengan air kelapa, seutas tali berupa tautan mirip tali sumbu yang dikalungkan di leher kedua mempelai sebagai simbol telah terjalinnya ikatan batin di antara kedua mempelai.  Usai dimandikan dengan air kelapa, dua belas pasangan suami-istri dari lingkungan keluarga masing-masing mempelai dan tokoh masyarakat setempat, secara bergantian memandikan sang pengantin dengan air biasa,  sembari membenturkan kepala keduanya atau yang dalam tradisi Selayar disebut dengan istilah pattuda ulu.

 

Peusijeuk

nikah 5

Sahabat GueTau, secara umum tradisi pernikahan di Aceh terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Nikah Gantung, yaitu pernikahan gadis yang masih kecil belum cukup umur atau masih dalam pendidikan, mereka dinikahkan terlebih dahulu dan akan diresmikan beberapa tahun kemudian. Biasanya, hal ini terjadi pada gadis yang dijodohkan, sebab pada zaman dahulu, agam ngon dara (bujang dan gadis) tabu mencari jodoh sendiri. Penentuan teman hidup menjadi wewenang orang tua; terutama bagi seorang gadis.
  • Nikah Langsung, yaitu pernikahan yang dilakukan langsung seperti biasa, langsung diresmikan dan (wo linto) mempelai pria langsung pulang kerumah dara baro. Pada gadis dewasa yang tidak ada halangan, nikah langsung dilaksanakan di kantor KUA atau rumah mempelai wanita.

Nah, peusijeuk adalah upacara memberi dan menerima restu kepada mempelai dari Aceh. Prosesinya adalah memerciki pengantin dengan menggunakan minimal tiga jenis air yang keluar dari daun seunikeuk, akar naleung, sambo, maneekmano, onseukee pulut, atau ongaca.

 

Wah, demikian kaya keragaman yang ada di Indonesia ya. Semoga informasi diatas menambah wawasan Sahabat GueTau tentang tradisi pernikahan unik yang ada di Indonesia. Sekian artikel GueTau kali ini, jika ada saran atau kritik silahkan kirim email ke info@guetau.com.

 

Ditulis oleh Liona Aprisof

 

Referensi :

1. http://wowheboh.org/tradisi-pernikahan-unik-di-indonesia-2/

 

 

 

 

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen + 2 =