Perbincangan Seksualitas dalam Keluarga? Kenapa Nggak!

posted on 30/11/2012

Saat ini, teman-teman muda sangat beruntung karena bisa tumbuh dan berkembang dimana semua informasi terkait kesehatan seksual bisa didapatkan dengan mudah. Misalnya saja, cukup akses GueTahu.Com dan semua informasi terkait kesehatan seksual sudah tersedia dengan jelasnya (sekalian promosi nih :p). Tapi gimana dengan anak-anak muda yang belum bisa mengakses internet, atau anak-anak muda di daerah terpencil yang bahkan belum bisa membaca? Apakah mereka tidak bisa mendapat pemahaman yang tepat tentang seksualitas? Gimana dengan anak muda yang tinggal di lingkungan dimana seksualitas masih dianggap hal yang taboo untuk dibicarakan? Apakah mereka juga akan memaknai diri mereka ‘berbeda’ atau bahkan melakukan aborsi yang bisa membahayakan hidup mereka ketika mengalami kehamilan yang tidak direncanakan?

Sebagai anak muda, kita bisa berpartisipasi membantu mereka untuk mendapatkan pemahaman yang tepat terkait seksualitas. Oleh karena itu, di acara Global Youth Forum yang akan diadakan pada tanggal 4-6 Desember di Nusa Dua, Bali; seksualitas mendapat tempatnya sendiri untuk diperjuangkan. Setiap orang, termasuk anak muda, berhak atas pemahaman dan informasi yang tepat terkait dengan seksualitas untuk keberlangsungan hidup yang lebih baik.

Seksualitas

Seksualitas sendiri memiliki pemahaman yang sangat luas bukan hanya terpaku pada kegiatan seksual. World Health Organization (WHO) memahami seksualitas sebagai aspek kehidupan yang menyeluruh mencakup seks, gender, orientasi seksual, erotisme, kesenangan (pleasure), keintiman, dan reproduksi. Seksualitas dialami dan diekspresikan dalam pikiran, fantasi, hasrat, kepercayaan/ nilai-nilai, tingkah laku, kebiasaan, peran, dan hubungan. Walaupun seksualitas mencakup keseluruhan dimensi yang disebutkan, tidak semuanya selalu dialami atau diekspresikan. Seksualitas dipengaruhi oleh interaksi faktor-faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, sejarah, agama, dan spiritual.

Sexual Rights and Health Reproduction (SRHR)

Seksualitas juga tidak bisa dipisahkan dengan hak kesehatan seksual dan reproduksi. Kesehatan Seksual dipahami sebagai keadaan fisik, emosi, mental, dan kesejahteraan sosial dalam kaitannya dengan seksualitas. Hal ini bukan melulu hanya soal penyakit, disfungsi atau ketidakmampuan. Kesehatan seksual mensyaratkan pendekatan positif terhadap seksualitas dan hubungan seksual, sekaligus juga kesempatan untuk memiliki pengalaman seksual yang aman, bebas dari paksaan, diksriminasi, dan kekerasan. Untuk tercapainya dan terpeliharanya kesehatan seksual, hak-hak seksual harus dihargai, dilindungi, dan dipenuhi.

Setiap individu, termasuk anak muda, berhak atas hak seksualnya. Hak seksual ini sudah tercakup dalam Hak Asasi Manusia (HAM) dan telah diakui dalam hukum nasional, konvensi HAM internasional, dan kesepakatan internasional lainnya. Artinya, setiap individu, termasuk anak muda, bebas dari paksaan, diskriminasi, kekerasan terhadap kesehatan seksualnya, dan juga mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi; termasuk di dalamnya adalah:

  • mencari, menerima, dan mendapatkan informasi terkait dengan seksualitas,
  • pendidikan seksualitas,
  • penghormatan terhdap integritas tubuh,
  • memilih pasangan dan kesepakatan untuk menikah,
  • memutuskan untuk aktif secara seksual atau tidak,
  • kesepakatan untuk hubungan seksual,
  • memutuskan apakah ya atau tidak , dan kapan, untuk memiliki anak,
  • mencapai kepuasan, aman, dan dapat menikmati kehidupan seksual.

 

Keluarga

Sampai saat ini, keluarga masih dipandang sebagai unit terkecil dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Keluarga juga seringkali menjadi patokan atas nilai-nilai yang dianut oleh teman-teman muda. Keluarga diharapkan menjadi tempat pertama bagi individu memperoleh informasi secara tepat, termasuk informasi terkait hak kesehatan seksual dan reproduksi. Namun, tidak jarang keluarga menjadi ‘pelaku’ pelanggaran hak kesehatan seksual dan reproduksi itu sendiri. Misalnya, orangtua yang melakukan kekerasan terhadap teman-teman muda yang mengalami kehamilan tidak direncanakan, keluarga memaksakan teman-teman untuk menikah di usia yang masih muda karena tuntutan ekonomi, atau anggota keluarga yang melakukan pelecehan seksual kepada anggota keluarga lainnya dan masih banyak lagi.

Semoga pelaksanaan Global Youth Forum 2012 bisa memberikan dampak besar di masa yang akan dating. Semoga mampu mendorong munculnya ruang dan media bagi teman-teman muda untuk bisa mengakses informasi yang tepat dan menciptakan pemahaman yang benar terkait dengan hak kesehatan seksual reproduksi. Siapa tahu, seksualitas nantinya bisa menjadi topik yang diperbincangkan saat santai sore hari bersama keluarga tercinta.

___

 

Ditulis oleh: Larasati, @vklarasati

 

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × five =