Pentingnya Akses Kontrasepsi untuk Remaja

posted on 03/02/2015

 

“Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses kesehatan dan peraturan ini seharusnya tidak melihat status pernikahan.”

Adanya akses kontrasepsi bagi remaja di Indonesia saat ini masih menimbulkan kontroversi. Masyarakat yang berada di pihak kontra beralasan bahwa adanya akses tersebut akan membuat remaja menjadi permisif atau mudah untuk melakukan premarital seks (seks di luar nikah). Nah, bertolakbelakang dengan alasan pihak kontra yang dilandasi kekhawatiran penyalahgunaan hak tersebut, pihak pro justru melihat akses kontrasepsi ini sebagai bukti pemenuhan hak individu.

 

Akses Kontrasepsi adalah Hak Remaja

Remaja memiliki hak untuk mendapatkan hidup yang sehat. Mereka memerlukan akses terhadap alat yang dapat melindungi kesehatannya, seperti kondom, alat kontrasepsi dan layanan kesehatan ramah remaja yang komprehensif. Hal ini telah tertuang pada UU no. 36/2009 pasal 4 dan 5 yang menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses kesehatan dan peraturan ini tidak melihat status pernikahan.

Meski sudah jelas dalam UU, pada kenyataannya saat ini PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) tidak memberikan kontrasepsi bagi remaja yang tidak menikah. Di sinilah letak perubahan yang harus dilakukan, PKPR perlu menyadari bahwa akses kesehatan dan kontrasepsi ini bersifat universal, mencakup semua remaja. Untuk akses kontrasepsi, yang PKPR perlu ketahui lebih lanjut adalah segmentasi remaja, yakni belum aktif seksual, seksual aktif, dan seksual berisiko agar dapat memberikan pelayanan tepat sasaran.

 

Kenapa Akses Kontrasepsi bagi Remaja itu Penting?

Fakta di lapangan yang menunjukan tingginya faktor risiko KTD (kehamilan tidak diinginkan), penularan HIV serta IMS (infeksi menular seksual) juga telah membayangi remaja seksual aktif. Penggunaan alat kontrasepsi beserta pemberian informasi melalui konseling dinilai dapat menjadi pertimbangan untuk tindakan preventif dari berbagai risiko seksual tersebut.

Sebagai remaja, Sahabat GueTau perlu mendapat informasi mengenai kontrasepsi yang baik ini justru sebelum menjadi aktif secara seksual. Kamu perlu memahami mengenai bagaimana beragamnya metode kontrol kelahiran ini bekerja, serta manfaat dan tantangannya, dan di mana mendapatkannya. Orangtua, pendidik, petugas kesehatan, serta LSM yang peduli di bidang ini pun memegang peranan penting untuk membuat remaja belajar, mendapatkan, dan menggunakan kontrasepsi secara efektif.

Berikut peran yang bisa dilakukan oleh pengambil kebijakan dan petugas kesehatan:

  1. Mengkaji ulang peraturan dan undang-undang yang ada (UU No. 23 tentang kesehatan, UU No. 10 tentang kependudukan, dan isi KUHP), aspek sosial, adat, serta budaya masyarakat yang kerapkali menghambat pemberian pelayanan bagi remaja.
  2. Petugas kesehatan (baik pemerintah, swasta, maupun LSM) yang berkomitmen terhadap kesehatan remaja perlu memahami bahasa serta perilaku remaja agar dapat memberikan pelayanan yang tepat, sesuai dengan karakteristik serta keinginan remaja.
  3. Memberikan pelayanan konseling sebelum memberikan pelayanan kepada remaja sebagai pemenuhan hak mereka untuk mendapatkan informasi dan pelayanan. Konseling memegang peranan sangat penting untuk membantu remaja agar memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang bertanggung jawab dalam kehidupan seksual mereka.

 

 

 

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan

Dalam pemberian layanan kontrasepsi pada remaja, beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:

  1. Pelajari perilaku seksual remaja tersebut. Misalnya mengenai apakah ia telah berhubungan seksual sejak masih sangat muda, apakah ia berganti-ganti pasangan, adakah riwayat IMS, adakah riwayat kehamilan dan aborsi, serta lain sebagainya.
  2. Dasar pemberian kontrasepsi pada remaja adalah untuk pencegahan kehamilan dan pencegahan IMS, sebelum remaja siap untuk merubah pola perilaku seksualnya pada fase abstinensi atau sebelum mereka siap membentuk sebuah keluarga dan mempunyai anak.
  3. Kontrasepsi pada remaja bersifat temporer dan harus tidak memberikan efek samping dan kesulitan pada pengembalian kesuburan.
  4. Pelayanan pap smear dan pemeriksaan laboratorium untuk skrining IMS perlu dilakukan, terutama bagi remaja yang sudah aktif berhubungan seksual lebih dari setahun dan ada riwayat berganti-ganti pasangan.

Nah, jika Sahabat GueTau ingin tahu lebih jelas tentang akses kontrasepsi remaja, langsung saja sampaikan di info@guetau.com.

 

Ditulis oleh Eunike Ally Sushmita

 

Referensi:

  1. http://www.advocatesforyouth.org/contraceptive-access-and-info-home
  2. http://www.ypi.or.id/informasi/berita/66-xpresikan-hakmu.html
  3. https://healthpolicys2ugm.wordpress.com/2012/11/28/kebijakan-akses-kontrasepsi-kondom-pada-remaja-sebagai-pencegahan-hiv-aids/

related post

4 Hal yang Membuat Kamu Perlu Melakukan Tes dan Konseling HIV dengan Segera!

posted on 03/11/2016

Halo Sobat GueTau, gak terasa ya kita sudah memasuki bulan November! Kurang dari sebulan lagi, kita akan merayakan Hari AIDS Sedunia yang bi

Aborsi Ilegal: Apa Saja Risikonya?

posted on 10/11/2015

Source “Jumlah kasus aborsi di Indonesia setiap tahun mencapai 2,3 juta, 30 persen di antaranya dilakukan oleh remaja.” Berdasarkan kuti

5 Manfaat Masturbasi

posted on 27/05/2015

“Pengenalan akan anatomi tubuh ini mampu meningkatkan rasa percaya diri dan membangun body image yang positif.” Mastrubasi kerap diangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + 16 =