Pelayanan Psikoterapi (Tidak) Ramah Homoseks

posted on 12/01/2013

Banyak di antara kita, teman-teman remaja homoseksual, yang merasa tertekan karena memiliki orientasi seksual berbeda. Berusaha untuk bisa meringankan bebannya, mereka akhirnya berusaha mencari bantuan ke psikolog dan psikiater. American Psychiatric Association sendiri telah menyatakan homoseksual keluar dari daftar gangguan jiwa sejak 1974. Dari pihak psikologi, American Psychological Association bahkan juga mendorong para psikolog untuk menghancurkan stigma sakit jiwa yang telah lama diasosiasikan dengan orientasi homoseksual (Conger, 1975).

Tentunya, ini terdengar seperti kabar baik bagi homoseks, bahwa mereka tidak lagi dianggap abnormal. Mereka justru didorong untuk bisa menerima orientasi seksual mereka sebagai bagian dari diri mereka yang tak terpisahkan. Sayangnya, pada kenyataannya, di lapangan masih banyak ditemukan psikoterapi penuh bias dan stigma terhadap klien homoseksual (Garnets, Hancock, Cochran, Goodchilds, Peplau, 1991). American Psychological Association bahkan melihat banyak terapis yang masih menganggap homoseksualitas sebagai penyimpangan seksual, beberapa bahkan ditemukan pernah meremehkan atau menghina homoseksualitas serta beberapa prasangka sosial lainnya. Bias dalam psikoterapi juga disebabkan terapis tidak memiliki informasi perihal kehidupan homoseksual. Sama halnya seperti bias kepada etnis, gender dan difable, bias terhadap orientasi seksual ini tentunya juga mempengaruhi penilaian-penilaian terapis dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh terapis terhadap kliennya (APA, 1975). Karena itu, dibuatlah Satuan Tugas khusus di tahun 1984 untuk meneliti lebih jauh mengenai bias-bias dalam psikoterapi ini di Amerika Serikat.

Meski penelitian ini dilakukan di AS tahun 1980-an, bukan tidak mungkin beberapa teman homoseks di Indonesia yang pernah ke psikolog juga mengalami hal seperti ini lho. Mengingat masih ada beberapa psikolog dan psikiater yang muncul ke publik dan membawakan informasi penuh bias terhadap LGBT hingga belakangan ini. Nah, kira-kira apa saja sih biasanya bias yang muncul selama proses psikoterapi ini?

Salah satu bentuk bias yang paling banyak adalah psikolog meyakini homoseksual sebagai bentuk kelainan, kegagalan di masa berkembang, dan gangguan mental; sehingga psikolog menganggap masalah si klien lebih banyak disebabkan oleh orientasinya bahkan meski tidak ada bukti yang mendukung pernyataan ini. Psikolog juga bisa gagal melihat gejala gangguan yang lebih disebabkan oleh sikap negatif klien terhadap orientasi seksualnya sendiri alias internalized homophobia sehingga malah langsung meletakkan kesalahan ada pada orientasi seksual si klien. Seringkali psikolog juga berpikir bahwa klien adalah seorang heteroseksual dan meremehkan identifikasi diri klien sebagai seorang homoseksual karena menganggap klaim orientasi homoseksual sebagai bentuk mencari perhatian belaka.

Dalam beberapa kasus, psikolog bahkan bisa saja menolak orientasi homoseksual ini sebagai bagian diri klien dan malah berusaha memperbaiki homoseksualitas ini dengan terapi-terapi yang tidak ilmiah dan bisa membahayakan kesehatan mental klien lebih jauh. Tidak jarang juga ditemukan beberapa psikolog mengekspresikan nilai-nilai kepercayaan yang ia yakini untuk merendahkan dan menghina homoseksualitas di depan kliennya. Ada juga beberapa psikolog yang bisa menerima orientasi kliennya dan terapi pun berjalan sebagaimana mestinya, tapi ketika mereka menemukan si klien menyukai mereka, mereka langsung mengungkapkan ketidaksukaan ini dengan sangat frontal kepada kliennya.

Psikolog heteroseksual juga seringkali tidak mengerti berapa sulit dan rumitnya masa-masa perkembangan identitas homoseks dimana klien seringkali harus berjuang melawan sikap negatifnya sendiri terhadap orientasi seksualnya, ketakutan untuk mengakui orientasi seksualnya ke orang lain, dan banyak hal lainnya yang tidak dialami di kehidupan heteroseksual. Dikarenakan hubungan heteroseks juga memiliki dinamika hubungan yang berbeda dengan homoseks, psikolog seringkali meremehkan pentingnya hubungan yang intim antara sesama jenis untuk homoseksual sehingga cenderung untuk menyarankan mengakhiri hubungan sesama jenisnya yang dianggap tidak sehat. Di dalam beberapa kasus, psikolog heteroseksual memiliki kekurangan pengetahuan akan keberagama di dalam hubungan homoseks dan menggunakan kacamata hubungan romansa heteroseksual untuk menangani kasus terkait hubungan romansa klien homoseksnya.

Dugaan ke klien homoseks yang seringkali menjadi bias dalam memberikan psikoterapi bagi psikolog yang lainnya adalah bahwa para homoseks biasanya berasal dari keluarga yang tidak sehat, tidak memiliki hubungan baik dengan orang tua, atau bahkan terlalu melekat ke orang tua yang berlawanan jenis. Beberapa psikolog seringkali juga meremehkan efek prasangka dan diskriminasi yang akan diterima oleh keluarga homoseksual. Bias-bias seperti ini bisa menjadi masalah ketika terapi mengharuskan adanya kehadiran seluruh keluarga klien homoseksual bersangkutan.

Semua masalah ini bisa terjadi jika para psikolog mendapatkan pendidikan yang salah mengenai homoseksualitas di masa kuliah dan juga tidak mendapatkan pendidikan yang lebih detail dan tepat mengenai homoseksualitas. Di artikel berikutnya, saya akan membahas mengenai sebuah terapi yang bisa memberikan pelayanan yang sangat ramah dan mengerti homoseksualitas secara komprehensif. Jadi, untuk teman-teman remaja yang merasa dirinya homoseksual, jangan pula kamu berkecil hati jika ternyata psikolog yang kamu percayai untuk bisa membantumu malah membebanimu dengan lebih banyak stigma dan bias dalam pelayanannya. Kamu tidak abnormal, kamu hanya memiliki selera mencintai yang berbeda dari yang lain. So, be yourself, keep loving the way you want to love and don’t forget to keep loving yourself, gays!

___

Oleh Benny Prawira

Penelitian mengenai bias dalam psikoterapi terhadap lesbian dan gay ini bisa dilihat di: http://www.apa.org/pi/lgbt/resources/issues.aspx

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − seven =