Mengenal Jenis-jenis Kontrasepsi

posted on 09/10/2013

Sahabat GueTau, kali ini GueTau akan membahas mengenai kontrasepsi. Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Umumnya cara kerja kontrasepsi berfungsi mencegah terjadinya ovulasi (pematangan sel telur), melumpuhkan sperma dan menghalangi pertemuan sel telur dengan sperma. Ingat ya Sahabat GueTau, kontrasepsi hanya digunakan oleh orang yang sudah aktif secara seksual. Dengan menggunakan alat kontrasepsi, kehamilan yang tidak diinginkan dicegah.


Berdasarkan masa kerjanya, kontrasepsi dibedakan menjadi kontrasepsi sementara dan kontrasepsi permanen. Kontrasepsi dipilih berdasarkan kebutuhan penggunanya. Biasanya kontrasepsi sementara digunakan seseorang untuk mengatur jarak kehamilan, sementara kontrasepsi permanen digunakan untuk mengakhiri masa suburnya agar tidak terjadi kehamilan lagi.

Terdapat beberapa kontrasepsi menurut cara kerjanya yaitu kontrasepsi Hormonal, Mekanik, Sterilisasi dan Teknik.

1.   Kontrasepsi Hormonal

Kontrasepsi hormonal adalah kontrasepsi yang mengatur masa subur perempuan melalui sistem hormonal. Kontrasepsi hormonal mengandung hormon esterogen, progesterone atau campuran keduanya. Dengan menambahkan hormon progesterone contohnya, produksi hormon lain di dalam tubuh akan terganggu seperti terganggunya pembentukan hormon LH karena terlalu banyaknya hormon progesteron di dalam tubuh.

Terdapat tiga (3) bentuk kontrasepsi hormonal, yaitu pil, suntik dan implant. Kontrasepsi hormonal yang umum digunakan adalah kontrasepsi dalam bentuk pil yang banyak dijual di pasaran. Cara penggunaannya dengan mengonsumsi 1 tablet setiap hari selama 21 hari. Kontrasepsi ini bertujuan menghambat pembentukan sel telur sehingga tidak ada sel telur yang menempel di rahim. Tidak dianjurkan mengonsumsi pil ini ketika menstruasi.

Selanjutnya adalah kontrasepsi dengan cara menyuntikkan hormon progestin ke dalam tubuh. Yang biasa digunakan adalah Depo Provera 150 mg, Noristerat 200 mg dan Depoprogestin 150 mg.

Sementara kontrasepsi dalam bentuk implant atau susuk KB adalah kontrasepsi yang ditanam di bawah lapisan kulit dengan menempatkan bahan aktif steroid ke dalam kapsul silastik yang dapat melepaskan hormon ke dalam tubuh secara perlahan-lahan.

Selain pil, suntik dan implant, kontrasepsi hormonal juga dapat berupa IUD, Transdermal Patch (seperti koyo) atau Kontrasepsi Darurat (Kondar).

Kelebihan dari penggunaan kontrasepsi ini adalah meningkatkan gairah seksual perempuan, haid menjadi lebih teratur, dan mengatur pengeluaran darah menstruasi. Efektifitas penggunaan kontrasepsi ini 95-98%, jadi dari 100 orang yang menggunakan kontrasepsi hormonal ada 2-5 orang yang mengalami kehamilan.

Tetapi kekurangan dari kontrasepsi hormonal ini adalah dapat menyebabkan sensitifitas emosional perempuan lebih sensitif dan mudah marah, kaki dan tangan sering kram, liang vagina menjadi sedikit kering dan rasa mual. Sementara efek jangka panjang dapat menekan fungsi ovarium, mengganggu organ ginjal dan mengganggu produksi ASI.

 

2.   Kontrasepsi Mekanik

Kontrasepsi mekanik adalah kontrasepsi dalam bentuk alat yang bisa digunakan untuk mencegah kehamilan dengan cara mencegah masuknya sperma ke dalam rahim.

Kondom: Efektif 75-80%. Umumnya terbuat dari latek. Ada kondom untuk pria maupun perempuan serta berfungsi sebagai pemblokir / barrier sperma. Kegagalan pada umumnya karena kondom tidak dipasang sejak permulaan senggama atau terlambat menarik penis setelah ejakulasi sehingga kondom terlepas dan cairan sperma tumpah di dalam vagina. Kondom merupakan alat kontrasepsi yang paling aman dan tidak memiliki efek negatif apapun. Selain itu, kondom juga mencegah penularan infeksi menular seksual (IMS).

Spermatisida: bahan kimia aktif untuk ‘membunuh’ sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum senggama. Efektivitasnya 70% dan bisa menyebabkan reaksi alergi. Kegagalan sering terjadi karena waktu larut yang belum cukup, jumlah spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam waktu <6 jam setelah senggama.

Vaginal Diafragma: lingkaran cincin dilapisi karet fleksibel ini akan menutup mulut rahim  bila di pasang dalam liang vagina 6 jam sebelum senggama. Efektivitasnya sangat kecil, karena itu harus digunakan bersama spermatisida untuk mencapai efektivitas 80%. Cara ini bisa gagal bila ukuran diafragma tidak pas, tergeser saat senggama, atau terlalu cepat dilepas (< 8 jam ) setelah senggama.

IUD (Intra Uterine Device) atau spiral: terbuat dari bahan polyethylene yang diberi lilitan logam, umumnya tembaga (Cu) dan dipasang di mulut rahim. Efektivitasnya 92-94%. Kelemahan alat ini yaitu bisa menimbulkan rasa nyeri di perut, infeksi panggul, pendarahan di luar masa menstruasi atau darah menstruasi lebih banyak dari biasanya.

 

3.    Kontrasepsi Sterilisasi

Kontrasepsi sterilisasi merupakan kontrasepsi yang paling efektif karena metode yang digunakan dalam kontrasepsi sterilisasi adalah pencegahan keluarnya sperma atau sel terlur dengan cara memotong atau mengikat saluran keluarnya sperma atau sel telur.

 

Tubektomi, yaitu pemotongan saluran indung telur (tuba falopii) sehingga sel telur tidak bisa memasuki rahim untuk dibuahi. Tubektomi bersifat permanen. Walaupun bisa disambungkan kembali, namun tingkat fertilitasnya tidak akan kembali seperti sedia kala.

Tubektomi

Vasektomi, yaitu memotong saluran sperma yang menghubungkan buah zakar dengan kantong sperma, sehingga tidak dijumpai lagi sperma dalam ejakulasi seorang pria[5].

Vasektomi

4.   Kontrasepsi Teknik

Kontrasepsi ini merupakan kontrasepsi tanpa alat dan bisa dibilang tidak mudah, kontrasepsi teknik pada dasarnya merupakan suatu teknik untuk mencegah kehamilan.

Coitus Interruptus  (senggama terputus): ejakulasi dilakukan di luar vagina. Efektivitasnya 75-80%. Faktor kegagalan biasanya terjadi karena ada sperma yang sudah keluar sebelum ejakulasi, orgasme berulang atau terlambat menarik penis keluar.

Sistem kalender (pantang berkala): tidak melakukan senggama pada masa subur, perlu kedisiplinan dan pengertian antara suami istri karena sperma maupun sel telur (ovum) mampu bertahan hidup s.d 48 jam setelah ejakulasi. Efektivitasnya 75-80%. Faktor kegagalan karena salah menghitung masa subur (saat ovulasi) atau siklus haid tidak teratur sehingga perhitungan tidak akurat.

Prolonged lactation atau menyusui, selama 3 bulan setelah melahirkan saat bayi hanya minum ASI dan menstruasi belum terjadi, otomatis ibu tersebut tidak akan hamil. Tapi begitu sang ibu hanya menyusui < 6 jam / hari, kemungkinan terjadi kehamilan cukup besar.

 

Sahabat GueTau, kontrasepsi ini hanya digunakan untuk orang yang sudah aktif secara seksual. Untuk kamu yang belum aktif secara seksual, informasi ini akan berguna nanti, ketika kamu sudah aktif secara seksual. Sahabat GueTau perlu tau bahwa informasi kontrasepsi adalah hal yang penting agar kamu bisa tau jenis kontrasepsi apa yang kamu butuhkan nanti. Nah untuk sahabat GueTau yang masih bingung dengan kontrasepsi, sahabat GueTau bisa menghubungi kami di info@guetau.com.

 

Ditulis oleh Achmad Mujoko

 

Referensi:

  1. http://bkkbn.go.id
  2. http://majalahkesehatan.com
  3. http://tundakehamilan.com
  4. http://health.detik.com
  5. http://medicastore.com

 

related post

Kontroversi Perayaan Valentine di Indonesia

posted on 25/02/2015

“Alih-alih pencekalan terkait perayaan Valentine dan akses kontrasepsi, remaja justru lebih membutuhkan bekal informasi yang komprehensif.

Pentingnya Akses Kontrasepsi untuk Remaja

posted on 03/02/2015

  “Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses kesehatan dan peraturan ini seharusnya tidak melihat status pernikahan.”

Tubuhku, Tanggung Jawabku

posted on 31/01/2015

  “Sebagai remaja bertanggungjawab, apa yang kamu lakukan harus berbanding lurus dengan pengetahuan yang kamu miliki. Hindari perilaku im

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 2 =