“I’m Not A Tourist Attraction”: Pariwisata dan Eksploitasi Seksual Komersil Anak (ESKA)

posted on 09/10/2013

“ESKA adalah praktek kriminal baru bermodus pariwisata yang merendahkan dan mengancam integritas anak yang dijadikan sebagai objek seksual oleh orang dewasa yang tidak bertanggung jawab.“

 

 

ESKA, Sahabat GueTau masih asing dengan instilah ini? Bingung sebenarnya apa sih ESKA ini? Nah, kali ini GueTau bakalan kupas tuntas masalah “Eksploitasi Seksual Komersil Anak” yang di singkat “ESKA”. dan bagaimana keterkaitannyadengan pariwisata. Yuk kita cari tau Sahabat GueTau.

 

Eksploitasi Seksual Komersil Anak (ESKA)

ESKA merupakan istilah dari sebuah fenomena tingkah laku yang merugikan anak secara seksualitas dan moril sepertieksploitasi seksual berupa prostitusi anak, trafficking untuk tujuan seksual, kawin paksa atau pernikahan dini, dan pariwisata seks anak (PSA) yang di lakukan oleh laki-laki maupun perempuan yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, baik ke negara lain ataupun ke wilayah yang berbeda di negaranya sendiri.

Para pelaku PSA (pariwisata seks anak) bisa berasal dari wisatawan asing, namun bisa juga berasal dari wisatawan lokal yang sengaja melakukan perjalanan wisata di dalam negaranya sendiri. Wisatawan tersebut berasal dari latar belakang yang beragam, misalnya bujangan, laki-laki atau perempuan, kaya atau pas-pasan. Tetapi mari kita petakan menjadi dua jenis wisatawan yang melakukan hubungan seksual dengan anak-anak di daerah wisata, yaitu :

  1. Situasional : awalnya hanya bertujuan untuk wisata, tapi adanya kekuatan hukum yang lemah, didukung banyaknya tempat istirahat yang merangkap sebagai tempat prostitusi yang menawarkan anak-anak, pada akhirnya memberikan kesempatan wisatawan itu untuk melakukan hubungan seks dengan objek anak.
  2. Preferensional : sejak awal perjalanan wisata memang di tujukan untuk melakukan hubungan seksual dengan objek anak. Yang biasanya dipromosikan lewat mulut ke mulut dari wisatawan seks satu ke wisatawan seks lainnya.

 

Negara yang sering di kunjungi wisatawan seks

Negara yang mereka kunjungi tentu sajah negara yang lemah kekuatan hukumnya atau daerah yang memang tidak tersentuh hukum secara tegas. Daerah tujuan wisata seks bisa berubah-ubah tergantung keadaan di negara tujuan tersebut, misalnya karena adanya peningkatan kesadaran hukum yang melindungi hak anak sehingga memperkecil kemungkinan wisatawan seks untuk memperoleh akses di negara tersebut.

Sebuah penelitian yang di lakukan oleh United NationsWorld Tourism Organization (UNWTO) sebagai salah satu organisasi pemerintahan internasional yang ambil bagian dalam menangani masalah pariwisata dunia, salah satunya adalah masalah eksploitasi seksual komersial anak (ESKA) dalam industri pariwisata, yang di adakan di beberapa negara mencatat bahwa Brazil dan Thailand saat ini lebih meningkatkan kewaspadaan dan perhatian mereka dengan issue ESKA hal ini dilihat dari menurunnya kasus PSA di negara tersebut, namun di beberapa negara seperti Ekuador, Vietnam, Kamboja dan Indonesia kasus PSA meningkat. Karena di sinyalir negara berkembang masih lemah dalam mengurus kekuatan hukumnya terlebih masalah eksploitasi anak.

Berdasarkan laporan UNICEF pada tahun 1998, di Indonesia ada sekitar 40.000-150.000 anak atau orang di bawah umur 18 tahun yang melakukan aktifitas seksual baik prostitusi maupun pornografi yang tersebar di beberapa kawasan seperti Pulau Jawa, Sumatera, Batam, Riau, Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Maluku, dan Papua. Laporan ini kembali diperkuat oleh ILO pada tahun 2004, dimana ada sekitar 7.452 anak-anak di kawasan Pulau Jawa seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dan 14.000 anak-anak di sekitar kawasan Jakarta dan Jawa Barat, yang melakukan aktifitas seksual komersil.

 

Peran pariwisata

Sebenarnya pariwisata bukan merupakan penyebab eksploitasi seksual anak terjadi, tetapi para pelaku eksploitasi anaklah yang memanfaatkan fasilitas yang ditawarkan oleh perusahaan perjalanan, hotel, penginapan, restoran, perusahaan penerbangan, transportasi, bahkan tour and travel. Dengan adanya tindakan aktif  yang di lakukan organisasi-organisasi yang ada dalam industri pariwisata, maka eksploitasi anak secara seksual ini bisa dicegah, misalnya dengan mengadakan seminar-seminar mengenai eksploitasi seksual dengan objek anak, sosialisasi dampak dari ESKA, memperbaiki sarana pendidikan yang dapat menunjang anak-anak serta orangtua di daerah tersebut untuk berpikir lebih maju bahwa masih ada pekerjaan lain yang lebih baik daripada prostitusi, dan mempublikasikan masalah ini kepada masyarakat luas sehingga masyarakat akan lebih berhati-hati menjaga keluarganya dan membantu ketika issue ini muncul di sekitar lingkungannya.

 

Kontribusi remaja

Sebagai remaja tentu banyak yang bisa kita lakukan untuk mengungkap, dan menyelesaikan masalah ESKA di suatu daerah terlebih daerah yang dekat dengan kita, atau malah daerah kita sendiri dengan cara :

  • Merumuskan akar masalahnya terlebih dahulu, apa ini berakar dari situasi ekonomi daerah tersebut sehingga menjadi budaya yang akhirnya menjadi kebiasaan.
  • Setelah analisa di dapat baru cari Aksi yang akan kita jalankan untuk menekan angka ESKA di daerah tersebut.
  • Membuat aksi yang bisa di realisasikan dan tidak memnuat rumit keadaan daerah tersebut dengan mengadakan sanggar kreatifitas anak sebagai salah satu alternatif peningkatan sektor ekonomi di daerah tersebut. Misalnya dengan mengadakan  sanggar kreatifitas anak, sehingga maka anak-anak di sibukan dengan berbagai kegiatan.
  • Dan pastinya mengadakan mediasi, advokasi, dan sosialisasi mengenai ESKA supaya tidak lagi ada kasus serupa di daerah tersebut.

 

Segala bentuk eksploitasi terhadap anak adalah salah, apalagi eksploitasi secara seksual. Setiap anak mempunyai hak asasi manusia, seperti hak untuk hidup, hak mendapat pendidikan, hak untuk dilindungi, hak bebas dari eksploitasi seksual dan hak-hak lain yang harus dijaga, dilindungi dan dipromosikan agar anak tumbuh menjadi sosok yang hebat sebagai penerus bangsa, bangsa Indonesia.

Nah, Sahabat GueTau gimana udah jelas sekarang apa itu ESKA? PSA? Dan masih banyak istilah lain yang intinya mengeksploitasi anak sebagai objek seksual, miris sih dengernya tapi ini realita yang memang terjadi di lapangan, maka dari itu tugas kita adalah menjaga supaya ESKA ini tidak membudaya dan berani melapor jika ada kasus ESKA di sekitar kita.

 

Ditulis oleh Danis Mohhad

 

Referensi:

  1. http://mychocochips.blogspot.com

related post

Menguak 7 Tradisi Seksual dari Berbagai Belahan Dunia

posted on 10/03/2017

“Ada beberapa yang tidak biasa kita lihat.” Beberapa negara memiliki budaya atau kebiasaan terkait hal seksual yang unik. Ya, ha

Potret Layanan Hukum bagi Korban Kekerasan Seksual di Indonesia

posted on 01/04/2015

“Seringkali hal pertama yang dilakukan oleh korban adalah membersihkan diri dari bekas-bekas “aib” perkosaan daripada melapor

Pemenuhan Hak Perempuan di Dunia Kerja

posted on 02/03/2015

Siapa sih yang mau celaka? Tentu tidak ada seorang pun yang menginginkannya. Namun, risiko kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan dimana saj

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − 4 =