Hal-Hal yang (Mungkin) Belum Kamu Ketahui Tentang Seks

posted on 24/01/2017

 

 

“Mungkin kamu akan penasaran!”

 

Akhirnya sampai juga di episode terakhir seri Vagina Dispatches dari The Guardian ini. Di episode terakhir ini, Vagina Dispatches membahas tentang salah satu hal yang cukup krusial bagi isu kesehatan reproduksi.

Yup, masalah edukasi seksual. Gak hanya di Indonesia, negara yang menganut paham ketimuran, di Amerika Serikat yang notabene-nya adalah negara liberal pun masih mengalami masalah edukasi seksual. Edukasi tentang seksualitas memang seringkali dianggap tidak memadai dan tidak cukup menjelaskan hal-hal yang esensial.

Padahal, edukasi seksual merupakan hal yang cukup penting bagi kehidupan kita. Di episode terakhir ini Mona dan Mae mencoba mencari tahu kenapa sih edukasi seksual selama ini tidak banyak membantu memahami kesehatan reproduksi, dan juga hal-hal apa saja sih yang penting untuk diketahui namun tidak pernah diajarkan dalam edukasi seksual. Simak ulasan GueTau tentang episode terakhir ini.

Rasa canggungmu dan orang tua

Edukasi seksual idealnya dimulai dari level terdekat kita. Yup, edukasi seksual seharusnya mulai diberikan oleh orangtua. Pemahaman akan kesehatan reproduksi dan juga seksualitas seharusnya bisa dimulai dari rumah. Namun pada kenyataannya, banyak sekali orang tua yang tidak memberikan pengetahuan akan seks dan kesehatan reproduksi tersebut pada anaknya.

Berbagai alasan mulai dari ketidaktahuan hingga adat budaya yang dianut, namun alasan yang paling utama mengapa orang tua tidak memberikan edukasi tentang seks adalah rasa canggung mereka. Banyak orang tua yang merasa malu untuk membahas isu ini dan juga ketakutan mereka bahwa sang anak akan bertanya secara mendalam tentang seks. Hayo, ada yang malu tanya tentang seks ke orang tua?

Baca juga: Waspadai Kista Bartholin

Edukasi seksual di sekolah

Edukasi seksual seharusnya mengajarkan bagaimana kita lebih mengenal tentang tubuh kita, namun kebanyakan edukasi seksual yang diberikan di sekolah ataupun level formal lainnya hanyalah menjelaskan sisi negatif dari seks saja.

Seks edukasi umumnya hanya memberikan penjelasan tentang penyakit-penyakit seks menular dan menanamkan paham bahwa pemahaman mengenai seks seharusnya dilakukan ketika setelah menikah saja. Untuk mengetahui hal apa saja yang diberikan dalam kurikulum edukasi seks di Amerika Serikat, Mona dan Mae mengunjungi Urban Retreat di Washington DC.

Urban Retreat merupakan sebuah inisiatif dan didanai oleh Adcovate for Youth.  Inisiatif ini bertujuan untuk mengumpulkan para remaja di Amerika Serikat yang memiliki konsen terhadap masalah kesehatan reproduksi. Berdasarkan pernyataan beberapa peserta Urban Retreat, edukasi seks di sekolah hanya berfokus pada hal negatif saja, seperti memberikan nilai bahwa melakukan seks sebelum menikah itu menjijikkan serta seks bisa menyebabkan penyakit serius dan kematian.

Edukasi seks di sekolah mengajarkan bahwa seks itu berbahaya namun tidak mengajarkan cara untuk mencegah bahaya tersebut dan seks bisa menjadi suatu hal yang aman. Edukasi seks di sekolah terbukti tidak efektif karena jumlah siswa perempuan yang hamil di umur remaja cukup banyak. Jumlah penyebaran penyakit menular seksual pun tetap banyak.

Mona dan Mae juga kemudian mengunjungi sekumpulan remaja di Alabama, negara bagian di Amerika Serikat yang menganut norma pentingnya seks pranikah dan melarang adanya pelajaran tentang LGBTQ. Berdasarkan pengakuan mereka, di lingkungan tempat mereka tinggal cukup memberikan tekanan kepada perilaku seks di luar nikah. Beberapa dari mereka terkadang merasa malu dan bersalah karena melakukan aktifitas seksual pranikah. Hal tersebut tidaklah baik karena seseorang mempunyai hak untuk melakukan apa yang mereka rasa aman dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: Sudah Pernah Ajak Vaginamu Ngobrol?

Hal-hal yang (mungkin) belum kamu ketahui tentang seks

Mona dan Mae beserta beberapa temannya berkumpul untuk membuat sebuah sesi pelajaran seks dimana mereka membahas beberapa hal penting namun belum banyak diketahui oleh kita. Apa saja yang dibahas? Cek yuk!

  1. Mencuci

Jangan gunakan sabun mandi ataupun sabun lainnya untuk mencuci vagina. Sabun dapat membuat vagina terinfeksi. Vagina mempunyai sifat untuk menyembuhkan sendiri, jadi kamu cukup membasuhnya dengan air, atau mengelap dengan handup lembut.

  1. Proses keluarnya cairan dari vagina

Kelenjar di dalam vagina dan serviks memproduksi cairan yang meleburkan sel-sel mati dan bakteria. Cairan tersebut berwarna putih dan sekilas seperti susu ataupun bening, namun jika cairan tersebut berwarna kehijauan atau kecoklatan dan bertekstur tebal maka berarti kamu memiliki gangguan kesehatan.

  1. Rambut kemaluan

Rambut atau bulu yang tumbuh di sekitar kemaluan baiknya dibiarkan tumbuh saja. Memotongnya atau trimming akan lebih baik ketimbang mencukur atau mencabut (waxing). Mencukur dan melakukan wax pada rambut kemaluan dapat menyebabkan adanya rambut yang tidak tumbuh dan menjadi infeksi.

  1. Menstruasi

Rasa keram ketika menstruasi memang cukup sakit dan menyiksa, namun hal tersebut normal.

  1. UTIs (Urinary Tract Infection)

Beberapa perempuan mengalami masalah ini. UTIs seringkali disebabkan karena bakteri dari anus mengalir ke uretra. Akibatnya adalah seperti merasakan rasa panas, rasa sakit, dan juga demam. Cara pencegahannya adalah ketika membasuh kemaluan lakukan secara dari depan ke belakang.

  1. Persetujuan

Ketika melakukan seks, tanyalah pasanganmu apa yang dia mau dan apa yang tidak.

  1. Rasa Senang

Ketika seks kamu berhak mendapatkan apa yang kamu inginkan, maka berkomunikasi lah dengan pasanganmu tentang apa yang kalian sukai.

  1. Proses melahirkan

Ketika melahirkan, lubang vagina pada perempuan dapat membesar melebihi kapasitasnya secara normal. Setelah proses melahirkan umumnya vagina akan kembali ke ukurannya semula. Namun proses melahirkan dapat merobek perenium yang kemudian akan dijahit lagi setelah melahirkan.

  1. Menopause

Menopause merupakan sebuah kondisi dimana tubuh sudah tidak lagi memproduksi hormone estrogen dan progesterone. Rata-rata perempuan mengalami menopause ketika berusia 51 tahun. Ketika menopause, vagina pun berubah, dindingnya menjadi tebal dan pelumasnya pun tidak lagi banyak sehingga seringkali seks terasa menyakitkan.

Nah akhirnya usai juga seri Vagina Dispatches dari The Guardian.  Sekian ulasan GueTau tentang Vagina Dispatches, semoga dapat membantu dan bermanfaat bagi kalian. Untuk informasi lebih lanjut, kirimkan email kamu ke info@guetau.com.

Oleh Meila Ghaisani

Sumber:

https://www.theguardian.com/lifeandstyle/series/vagina-dispatches

 

 

 

related post

Kenali Warna Cairan Vaginamu

posted on 18/03/2017

  Cairan vagina adalah sesuatu yang normal, tetapi perlu diperhatikan warna dan teksturnya. Cairan vagina bisa jadi hal yang mengkhawat

#TanyaGueTau Tentang Mimpi Basah Pada Perempuan

posted on 12/03/2017

    Dear GueTau, Apakah peremuan mengalami Mimpi Basah? Kalau ya, apakah hal itu normal? -Anonim   Dear anonim, Ya. Ada beber

Sengaja Berhenti Menstruasi, Memang Bisa?

posted on 13/01/2017

  “Ternyata menstruasi bisa diberhentikan dengan sengaja!” Bagi para perempuan di usia produktif, tentunya kalian semua men

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − 10 =