Bias Gender di Kalangan Remaja, Salah Siapa?

posted on 18/03/2013

Remaja perempuan sekarang sebenarnya sudah harus berbangga karena bisa mendapatkan pendidikan yang sama rata dengan remaja laki-laki. Coba kita tengok ke belakang sebelum ibu R.A Kartini memperjuangkan kesetaraan gender bagi perempuan. Di kala itu, perempuan selalu dibatasi untuk banyak hal, mulai dari pendidikan, pergaulan, sampai perbuatan serta tingkah lakunya.

Meskipun begitu, nyatanya hingga hari ini, di wilayah-wilayah dan konteks tertentu, kesetaraan antara perempuan dan laki-laki masih menjadi ganjalan. Contohnya dalam akses pendidikan. Misalnya, di suatu daerah tingkat pendidikannya hanya sampai SMP, tingkat SMA-nya ada di daerah lain. Maka mau tidak mau, harus menempuh jarak jauh untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Bagi anak laki-laki, hal tersebut tidak menjadi masalah, tapi berbeda dengan anak perempuan. Orang tua yang masih ‘kolot’ cenderung segan melepaskan anak perempuannya ke sekolah yang jauh jaraknya walaupun lebih bagus fasilitasnya, sehingga terpaksa anak perempuan cenderung putus sekolah. Jika pun ada sekolah di daerahnya tetapi fasilitasnya minim, anak perempuan lebih dibolehkan melanjutkan ke sekolah tersebut. Padahal ia juga memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan yang lebih baik sama seperti laki-laki tanpa terhalang oleh gendernya, seperti yang dijelaskan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1, “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”.

Belum lagi sikap dan tingkah laku remaja yang bias gender, misalnya remaja laki laki (bahkan termasuk perempuannya sendiri) selalu menganggap lemah remaja perempuan. Lalu,siapa sebenarnya yang membentuk remaja menjadi bias gender? Tentunya, ini merupakan turunan dari budaya patriarki yang memang sudah mendasar dan menyebar di berbagai bidang, tak terkecuali keluarga dan pendidikan.

Coba Sahabat GueTau lihat masing-masing orang tua. Sebagian besar orang tua tanpa sadar mencontohkan sikap bias gender kepada anak anaknya tanpa mereka sadari. Misalnya, ibu selalu diprioritaskan mengerjakan pekerjaan rumah dan bapak bekerja di luar rumah.

Sementara itu, pendidikan juga merupakan satu tempat yang tidak kalah pentingnya dalam menumbuhkan nilai-nilai. Contohnya, ketika di sekolah ada anak laki-laki menangis, seorang guru tidak jarang memarahi dan melarang dengan berkata, “masa anak laki-laki menangis, anak laki-laki tidak boleh cengeng”. Selain itu, jika menemui anak perempuan yang memanjat pagar, memanjat pohon, naik ke meja, tidak jarang guru akan bilang itu tidak sopan, perempuan harus berperangai lemah lembut tidak pecicilan.

Jadi, sekarang Sahabat GueTau sudah tahu dong kenapa bias gender terjadi di kalangan remaja. Salah satu kunci yang bisa dilakukan untuk mengatasi dan bahkan memutus lingkaran setan ini adalah pemerintah mengayakan pendidikan yang komprehensif tentang ini.

___

Ditulis oleh Deni, Kontributor Guetau.com

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − 5 =