Anak Bekerja = Eksploitasi Hak Anak?

posted on 01/09/2013

 

 

 

 

 

Sahabat Guetau tahu nggak bahwa

  • Setiap tahunnya, 22 ribu anak meninggal dalam kecelakaan terkait kerja?
  • 73juta anak yang bekerja berusia di bawah 10 tahun?
  • Populasi terbanyak anak yang bekerja berada di wilayah Asia Pasifik, salah satunya Indonesia?

Fenomena pekerja anak memang seperti fenomena gunung es dari permukaan kelihatannya tidak bermasalah, namun ternyata menyimpan gunung yang dalam waktu dekat akan siap menyembul ke luar.

Sahabat GueTau, mungkin nggak menyangka kan kalau ternyata fakta jumlah pekerja anak cukup mencengangkan. Ya, anak-anak yang berusia 6-12 tahun (anak usia sekolah) dan 13-16 (usia remaja) sudah mengalami asam garam dunia bekerja. Usia yang seharusnya masih asik dengan aktivitas sebayanya harus memikul tanggung jawab untuk mencari nafkah. Nafkah yang bukan hanya untuk kebutuhannya sendiri, tapi juga keluarganya. Miris? Tentu saja.

 

Anak Bekerja vs Pekerja Anak

Apa yang salah dengan anak yang bekerja ya? Apa bedanya anak yang bekerja dengan pekerja anak? Apakah anak yang bekerja sama dengan eksploitasi anak? Toh, hak untuk bekerja dan mendapatkan pekerjaan yang layak juga merupakan Hak Asasi Manusia kan? Lantas, apa masalahnya?

Rantai pertanyaan di atas sedikit banyak terlintas di benak sebagian orang dalam menyikapi fenomena anak yang bekerja.

Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebutkan bahwasanya Pekerja Anak sifatnya merugikan anak baik dari segi fisik, mental, sosial, dan moral. Istilah pekerja anak diperuntukkan untuk anak usia 7-14 tahun. Saat ini, tercatat 215 juta anak di dunia kehilangan masa kanak-kanaknya dan pendidikannya akibat terlibat dalam pekerjaan anak. Sebanyak 126juta terikat dalam pekerjaan yang membahayakan, seperti pekerja pabrik. Pada tahun 2009, lembaga Understanding Children’s Work (UCW) mencatat ada 2,3 juta anak di Indonesia yang menjadi pekerja yang sebagian besar berada di daerah Indonesia bagian timur. Ternyata, cukup banyak yah anak-anak di Indonesia yang sudah bekerja di usia dini.

 

Anak Bekerja = Eksploitasi Hak Anak?

Pertanyaan di atas tampaknya dilematis untuk dijawab. Karena tidak semua kasus anak yang bekerja dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi semata. Penelitian yang dilakukan Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) Aceh menemukan beberapa alasan lain yang menyebabkan anak bekerja. Alasan tersebut di antaranya karena rasa tanggung jawab untuk membantu usaha orang tua, keinginan untuk memiliki uang sendiri, dan juga karena faktor banyaknya anak sekitar yang bekerja. Tidak hanya itu, bekerja juga dijadikan sebagai ajang untuk berkumpul dengan teman-teman sebaya. Disadari atau tidak, fenomena pekerja anak juga terjadi di kalangan ekonomi mampu yang dapat diamati lewat maraknya anak yang bekerja sebagai penyanyi, pemain film, sinteron, bintang iklan, dan sosok-sosok selebriti lain. Memang, awal tujuannya adalah untuk mengembangkan bakat dan minat anak, namun kerap malah justru menyita masa kanak-kanak mereka dan  pendidikan pun dinomorduakan.

Fenomena pekerja anak di sekitar kita memang kerap diidentikan dengan istilah eksploitasi anak. Padahal, tidak semua anak yang bekerja atas dasar perintah orang tua atau orang terdekatnya, bisa saja anak tersebut memang ingin mandiri, suka dengan pekerjaan tersebut karena hobi, pengembangan diri, dan beragam alasan lainnya.

Untuk lebih jelasnya, membedakan mana yang termasuk eksploitasi dan yang tidak, yuk kita simak ulasan berikut:

Menurut ILO, pekerja anak dilihat dari kualitas pekerjaaannya ada dua:

1. Pekerjaan ringan

Merujuk pada pekerjaan yang tidak membahayakan kesehatan atau perkembangan anak dan  tidak menghalangi anak tersebut untuk sekolah dan menjalani masa kanak-kanaknya. Pekerjaan ini sifatnya mendidik dan mengarahkan anak untuk mengeksplorasi bakat dan minatnya sehingga kelak ia mampu berdaya secara positif untuk masa depannya.

2. Pekerjaan berat

Merupakan istilah yang lebih umum digunakan untuk kategori ini adalah ‘pekerjaan terburuk’. Pekerjaan terburuk adalah pekerjaan yang menyebabkan terjadinya penganiayaan fisik, psikis atau seksual, pekerjaan di lingkungan yang berbahaya dan tidak sehat, dan pekerjaan yang panjang serta kerja malam. Pekerjaan tipe inilah yang merugikan anak dan menghambat kemajuan anak di masa depannya.

Istilah eksploitasi hak anak layak digunakan pada kategori pekerja anak yang kedua. Anak yang mengalami pekerjaan berat tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai bakat dan minatnya. Mereka terkurung dalam kendali orang di sekitarnya. Undang-undang No. 11 Tahun 2005 tentang Hak Ekonomi, Hak Sosial, dan Hak Budaya pasal 10  menyatakan bahwa negara harus memberikan perlindungan terhadap anak dan kaum muda (remaja) dari eksploitasi ekonomi.

 

Salahkan Anak yang Memutuskan Bekerja?

Tentu tidak, selagi tidak melanggar kriteria yang telah disebutkan di atas, yaitu tidak membahayakan kesehatan anak atau perkembangan dan  tidak menghalangi anak tersebut untuk sekolah atau melatih keterampilannya. UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 71 ayat 1 secara jelas menegaskan bahwa anak dapat melakukan pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Untuk pekerjaan formal yang dilakukan anak, diperbolehkan jika anak minimal berusia 14 tahun. Pekerjaannya pun telah diatur dalam pasal 70, yakni di tempat kerja yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan atau pelatihan yang disahkan oleh pejabat berwenang.

 

Sip deh, Sahabat GueTau. Makin mantap nih informasinya. Semoga kita bisa lebih bijak yah menyikapi fenomena yang ada.

Jadi anak muda yang produktif dan kreatif itu sudah semestinya loh.

Selagi dalam kapasitas wajar kita.

Produktif YES, Eksploitatif NO!

 

Oleh Nikita Dewayani

 

related post

Jurus Menghindari Magang yang Mempekerjakan

posted on 03/09/2013

Program magang merupakan kegiatan intrakurikuler terstruktur berupa kegiatan praktek kerja. Sehabat GueTau yang masih sekolah di SMK atau SM

Meningkatnya Pekerja Anak dan Remaja Akibat Krisis Global Keuangan

posted on 31/08/2013

Saat ini berita tentang tingginya nilai tukar Dolar Amerika terhadap Rupiah Indonesia sedang menjadi perbincangan hangat di media massa. Pem

Manfaat dan Risiko Anak Bekerja

posted on 08/07/2013

Sahabat GueTau pasti sudah sering lihat banyak sekali anak di negeri ini yang sudah mulai bekerja. Bekerja di pasar, sebagai PRT, pekerja pe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 4 =