Remaja & ganja. Remaja & alkohol. Remaja & rokok. Remaja, oh remaja

posted on 17/10/2012

Sejak awal, saya tinggal di sekitar dunia yang berbeda dan saling bertabrakan. Satu dunia begitu kuat dengan pandangan konservatif-nya yang menggabungkan pragmatisme sosial dengan hibrida unik norma-norma agama dan budaya, sementara satu dunia dengan siap sedia mencoba untuk mengejar kebebasan dalam bentuk apapun, asal itu tidak disukai oleh dunia yang pertama. Tiga hal, trisula maut yang membuat semua orang kebakaran jenggot: Rokok, alkohol, dan narkoba. Ketiganya begitu erat diasosiasikan dengan konotasi-konotasi negatif, dengan pandangan bahwa siapapun yang bahkan punya pikiran sedikitpun untuk mencicipi ketiga benda ‘haram’ tersebut (secara teknis, hanya alkohol dan narkoba yang dianggap haram. Adanya sebuah mosi fatwa haram pada rokok di negeri yang dominan perokok namun juga kuat agamanya ini akan menjadi satu pertarungan batin yang menghibur bila ditonton) adalah pemberontak – orang gila yang tidak punya harapan dan tidak punya masa depan, para anak-anak bengal yang mempermalukan kedua orang tua mereka. Sudah tidak sekolah, tidak kerja, tampang berantakan, pemabuk, perokok, pengguna narkoba, hidup pula! Sejak awal eksistensi saya di dunia ini, ada sebuah ‘indoktrinasi tidak langsung’ dari lingkungan sosial di sekitar saya bahwa kegilaan yang dilakukan oleh begitu banyak orang di negara kita ini adalah sebuah penyakit sosial yang perlu dientaskan, perlu diinjak-injak dan dibakar sampai mampus. Siapapun yang mempergunakan salah satu, salah dua, apalagi salah tiga dari trisula maut tersebut dipandang dengan curiga dan dilabeli begitu banyak stereotip dan asumsi sembarangan. Namun mereka tidak peduli. Lebih baik kita ambil jalan aman. Lebih baik mencegah daripada mengobati.
Tapi ada satu hal lain yang patut dipertanyakan dari cara mereka memperlakukan persona yang mereka ciptakan itu. Persona ‘anak nakal’, sang pemberontak sosial yang berkutat dengan rokok, narkoba, dan alkohol, adalah sebuah persona yang luar biasa atraktif dan keren. Anda tentunya sudah membayangkan stereotip ini; seorang remaja urakan dengan rambut panjang, celana ketat, tubuh kurus dan tidak sehat, jaket kulit, serta tatapan kosong dari matanya yang merah akibat penggunaan ganja. Pria ini adalah rock and roll, pria ini adalah wajah dari pemberontakan kita melawan mereka, para musuh dan Otoritas yang hendak menculik kita dari tempat tidur kita di tengah malam, lalu mencekcoki kita dengan dongeng-dongeng kapitalis mereka sampai kita bertransformasi menjadi zombie-zombie atau monster-monster yang sama korupnya seperti mereka. Ketiga trisula maut ini mendadak menjadi sebentuk pelarian, simbol dari sebuah pemberontakan masa muda. Pria urakan ini mendadak jadi pahlawan kita.
Ganja adalah sebuah contoh kasus yang cukup menyenangkan. “Rasanya enak, sumpah,” kata teman saya, yang duduk di sebelah saya sambil tersenyum lebar. “Memakai ganja itu kerasa seperti pelarian.” Lanjutnya, menegaskan peran penting ganja. “Biasanya setiap hari lo begitu pusing dengan urusan hidup sehari-hari – dengan sekolah kek, dengan pacar kek, dengan kerjaan kek. Tapi semua itu dilupakan. Saat lo pakai ganja, semuanya jadi slow. Santai, enak, nikmat, tenang. Waktu kerasa lebih pelan, lebih bisa dinikmati dan dianalisa perlahan-lahan. Lo harus coba ganja, Rak. Sumpah, secara statistik ga ada orang yang pernah mati gara-gara ganja. Bukan pertanyaan lagi. Lo harus coba. Muka lo kaya orang stres, Rak. Lo harus coba.”
Teman saya ini, seorang pendukung setia pergerakan melegalisir ganja di Indonesia, menceritakan kisah-kisah dan pengalamannya berganja dengan bersemangat. “Lo pasang lagu, dan lagu itu jadi lebih hidup. Dan lo merasa begitu rileks, sampai-sampai untuk bangun dari tempat tidur dan jalan ke kamar mandi saja rasanya begitu berat.” Namun, di balik fanatisme-nya yang tajam pada ganja, dia sepenuhnya sadar akan resiko-resiko dari pemakaian ganja. “Tapi ya begitu. Kalau lo lagi ada kerjaan, atau lo lagi ada kewajiban, dan lo pakai ganja, ya sudah. Bubar.” Dia tertawa terbahak-bahak, nyaris tersedak. “Karena bukannya kerja, lo malah tiduran sambil senyam-senyum sendiri!”
Perilaku sadar diri ini adalah sebuah kebalikan langsung dari pemikiran umum bahwa apapun yang ada hubungannya dengan ketiga trisula maut tersebut selalu berujung pada perilaku yang edan dan tidak terkendali, seperti hewan yang berteriak-teriak beringas di dalam kandangnya. Pemikiran umum yang tidak hanya menjadi legitimasi masyarakat untuk bersikap takut pada hal-hal ini, namun juga menjadi salah satu alasan kenapa begitu banyak orang tertarik untuk ikut serta dalam fenomena ini. Namun, saya tidak sedang ingin menyorot anomali sosial dalam fenomena ‘anak nakal’ stereotipikal ini.
Terkadang, ada tekanan sosial yang membuat seseorang merasa ‘terpaksa’ mencicipi. “Kalau lo ga minum, katanya ga gaul.” Ujar salah satu teman saya, seorang murid SMA di Jakarta. “Yah, setidaknya itu stereotip yang ada. Kalau ga minum ga gaul, kalau ga makai inex atau seenggaknya pernah cicipin ganja katanya ga keren, dan kalau ga merokok katanya ga trendy.” Dia tampak kalut, seperti seseorang yang dihadapi pada dua pilihan yang sama-sama mustahil ia pilih. “Kalau lo bilang ga, lo bisa dijauhi. Kalau lo bilang iya… Yah, lo tahu sendiri lah resiko barang-barang kaya gitu untuk kesehatan.” Menarik. Namun, untuk berkata bahwa hanya tekanan dari lingkungan saja lah yang membawa mereka ke dalam badai yang aneh dan menarik ini adalah sebuah pemikiran yang, setidaknya menurut saya, naif. Ketertarikan dari diri mereka sendiri bukanlah satu hal yang mustahil. “Pertama kali nyoba ekstasi sih karena penasaran,” kata seorang remaja yang berdomisili di Jakarta. “Katanya party lebih enak kalau pakai ekstasi. Ya sudah, gue cobain. Eh ternyata mantap bro.”
Perilaku yang bisa dibilang berani seperti ini berbanding kontras dengan budaya-budaya dan norma susila lokal yang acap kali disebut ‘konservatif’, ‘kuno’, ‘kolot’, atau ‘ketinggalan jaman’. Saya dulu sering bercanda dengan teman-teman saya, dengan santai mengucapkan lelucon-lelucon yang berbicara tentang heroin, ganja, dan sabu-sabu. Walaupun menimbang fakta bahwa saya mengatakan semua itu dalam konteks bercanda, harusnya dalam konteks sosial seperti sekarang ini saya menyadari bagaimana senda gurau saya itu bisa diplesetkan dan disalahartikan. Maka harusnya saya tidak kaget, ketika kawan-kawan saya mulai menyematkan imej ‘anak nakal’ pada diri saya, meskipun fakta mendikte bahwa saya tidak pernah sekalipun menyentuh rokok, alkohol, ataupun narkoba dalam bentuk apapun juga. Ada satu kesan yang saya dapat dari mereka, bahwa mereka terlalu takut untuk bertanya secara langsung apakah lelucon-lelucon itu memang hanya komedi belaka, atau gerutuan dan retorika yang berbasis kisah nyata. Salah satu dari teman saya di kumpulan itu bercerita tentang pengalaman SMA-nya mengadakan sebuah Pentas Seni: “Waktu itu SMA gue mengundang band-band reggae. Dan semua orang rasta ini datang berbondong-bondong ke dalam SMA. Kita sudah bilang ke mereka, ‘Hey, jangan bawa ganja!’, dan mereka dirazia tim keamanan di sekolah sebelum mereka boleh masuk. Eh dasar orang-orang nekat, begitu konser dimulai mendadak ganja, ganja di mana-mana.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Rupanya biar lolos dari razia, ada yang menyimpan ganja di celana dalam. Setan, niat amat tuh orang!” Yang paling lucu adalah nada dan intonasinya dalam menceritakan anekdot lama ini. Geli bercampur heran bercampur takut bercampur kagum bercampur geram. Apakah itu kombinasi yang paling pas untuk menggambarkan reaksi orang muda Indonesia pada rokok, narkoba, dan alkohol? Seorang aktivis pro-legalisasi ganja di Indonesia pernah berujar bahwa “Soal ganja, Indonesia belum siap menerima kebenaran. Mereka terlalu sibuk dengan stereotip dan asumsi mereka untuk bisa mendengar kebenaran.” Sesederhana itukah?
Remaja masa kini seolah terpecah menjadi tiga fraksi, satu fraksi yang luar biasa tertarik dengan idealisme-idealisme dan ‘kebebasan’ yang ditawarkan oleh rokok, alkohol, dan narkoba, satu lagi fraksi oposisi yang berpegang teguh pada prinsip mereka (apapun dasar prinsip itu) dan memandang curiga fraksi apapun yang tidak setubuh dengan pandangan-pandangan mereka, dan fraksi sentris yang terlalu sibuk menonton fenomena perpecahan sosial ini untuk bisa berbicara terlalu banyak ataupun berpartisipasi secara riil.
Sedikit banyak, saya merasa beruntung bisa berada di fraksi di tengah ini. Selama fraksi kiri dan fraksi kanan masih saling adu pikiran dan otot-ototan, selama stereotip masih menang di atas ilmu baru yang terakumulsi, maka ada perasaan nihilis dan pasrah antara para kawan-kawan yang duduk di tengah. Kami tidak berpartisipasi, tidak banyak bicara. Hanya melihat si A menggila dan menganggap dirnya keren selagi si B menatap ngeri, dan tertawa.
Tertawa terbahak-bahak.

 

Ditulis oleh : Raka

related post

Ada yang Menarik dari Foto-Foto Instagram Perempuan Muda Ini

posted on 19/02/2017

“Alkohol sudah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda masa kini.” Bulan Agustus 2016, seorang perempuan muda bernama Louise me

4 Hal yang Membuat Kamu Perlu Melakukan Tes dan Konseling HIV dengan Segera!

posted on 03/11/2016

Halo Sobat GueTau, gak terasa ya kita sudah memasuki bulan November! Kurang dari sebulan lagi, kita akan merayakan Hari AIDS Sedunia yang bi

Baik Buruk Minuman Beralkohol Buat Kamu

posted on 27/09/2016

“Hidup sehat adalah pilihan.” Apakah sahabat GueTau.com pernah berpikiran untuk mencoba mengonsumsi minuman beralkohol? Atau mun

2 thoughts on “Remaja & ganja. Remaja & alkohol. Remaja & rokok. Remaja, oh remaja

  1. bayu says:

    Ujung ketiga hal tersebut (hingga saat ini) hanya ada 1 yaitu self destruction. kalo yg lambat ya rokok, setengah cepet ya alkohol dan yg cepet banget ya ganja. Nah self destruction tsb dapat dihubungkan dengan sisi hukum, sosial, politik, kesehatan,budaya,dll. Intinya adalah gunakan kesadaran diri setinggi2nya utk memilih dalam keberpihakan ketiga NAPZA tersebut. Sehingga bila diri sendiri atau orang lain memilih maka kita yakinkan bahwa itu adalah pilihan sadar se sadar2nya plus akibatnya ya…Selamat Memilih. BERGERAK UTK PERUBAHAN

  2. Raka says:

    Ya, bang Bayu, saya setuju.

    Nah, saya sendiri (meski mendukung) tidak berpartisipasi aktif dalam pergerakan tersebut. Tapi, saya percaya pada pilihan dan pendidikan. Dan sebenarnya itu dasar argumentasi yang banyak dipergunakan, terutama bila kita berbicara soal pergerakan legalisasi ganja. Secara teknis, saya tidak bilang bahwa ganja itu baik bagi kesehatan (toh itu masih diperdebatkan), namun kebanyakan konsensus medis menyebutkan bahwa ganja tidak lebih buruk bagi kesehatan daripada miras ataupun rokok. Itu argumentasinya: “Kalau miras dan rokok legal, kenapa ganja tidak? Toh sama saja efek-nya? Biarkan kami memilih.”

    Tapi kembali ke awal. Ada stigma di sini. Bukan cuma stigma pada ganja. Jangankan itu – ada stigma pada pilihan juga. Kita, sebagai masyarakat, kelihatannya belum bisa mempercayai diri kita dan orang lain untuk menentukan pilihan-nya sendiri. Akhirnya satu pihak jatuh ke panik moral, pihak lain frustasi dan memberontak.

    CMIIW ya hehehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 + 13 =