Anak Jalanan: “Aku Ngamen, Ibuku Nyari Kutu.”

posted on 16/11/2013

Salah satu anak jalanan itu mengatakan bahwa dia ingin sekolah, tapi ibunya mendekat dan berkata bahwa untuk apa sekolah kalau ujungnya tetap di jalanan, lebih baik cari uang bantu orang tua.”

Anak jalanan yang menjadi pengamen dan pengemis bukan hal baru di Jakarta, banyak orang yang merasa kasihan, iba, bahkan ada yang melihatnya dengan tatapan sinis dan tidak peduli. Bagaimana menurut Sahabat GueTau? Untuk mengetahui kondisi lebih lanjut mengenai anak jalanan, GueTau akan menguak fakta menarik tentang anak jalanan di Jakarta yang pastinya penting untuk diketahui.

Ada 11 anak jalanan per 1 km2

Dinas Sosial DKI Jakarta mencatat, saat ini ada 7.300 anak jalanan di Jakarta. Jumlah itu meningkat sekitar 10 persen dari tahun lalu. Sahabat, angka itu merupakan angka yang cukup menakjubkan dibandingkan dengan luas wilayah Jakarta yang hanya 661,52 km². Ini berarti terdapat 11 anak jalanan per kilometer persegi,.

Nah, terdapat beberapa tempat yang dijadikan pusat kegiatan anak jalanan di Jakarta untuk mengamen dan mengemis, salah satunya di bawah Fly Over Pasar Rebo Jakarta Timur. Disana terlihat banyak anak jalanan yang mengemis dari pukul 07:00 – 16:00 WIB. Menurut salah satu koordinator anak jalanan di kawasan itu, mereka diperintahkan oleh orang tua mereka mengemis sampai pukul 20:00. Selain mengamen, anak jalanan itu diberi kesempatan untuk belajar keterampilan di rumah singgah yang sudah disediakan. Ada beberapa orang tua anak jalanan itu yang memaksakan anaknya untuk mengamen sampai malam hari dan tidak diberi kesempatan untuk ikut belajar.

Anak Jalanan di Paksa Oleh Ibunya Mencari Uang

Disuruh sama mamah nyari uang, kalo gak ngamen digebukin mamah…” Ujar salah seorang anak jalanan di kawasan Pasar Rebo.

Sahabat tau anak-anak kan  sifat anak-anak yang polos dimanfaatkan oleh orang tua yang tidak bertanggung jawab untuk mengamen atau mengemis di jalanan loh. Kondisi ekonomi yang minim dan kebutuhan hidup yang tinggilah yang membuat orang tua memanfaatkan anaknya untuk kepentingan komersial tersebut. Hal tersebut membuktikan bahwa adanya anak jalanan di Jakarta, disebabkan karena faktor ekonomi.

Anak jalanan tersebut dipaksa oleh orang tuanya untuk mengamen ataupun mengemis demi mencari uang. Sang anak diancam oleh orang tuanya akan dipukuli jika tidak mengamen, padahal paksaan orang tua itu justru melanggar hak-hak anak. Hak-hak anak justru di intervensi oleh kepentingan ekonomi yang seharusnya bukan menjadi beban sang anak.

Ketika anak jalanan itu ditanya, “Dimana mamah kamu De?”. Ia diam dan menunjuk ke arah kerumunan ibu-ibu yang sedang asyik bergumul, ternyata salah satu dari mereka adalah ibu dari anak jalanan ini. Hal yang sangat ironi, seorang anak disuruh mencari uang dengan mengamen, sang ibu justru asik bergumul dengan ibu-ibu lainnya. Parahnya lagi para ibu bergumul sambil mencari kutu di rambut ibu yang lainnya sambil makan-makan loh Sahabat.

Tuh anak saya, biarin aja cari duit, orang dia yang mau…” Ujar seorang ibu di kerumunan itu.

Tapi Sahabat, hal berbeda diungkapkan oleh ibu dari anak jalanan tersebut, ia mengaku anaknya yang mau menjadi pengamen, padahal anak jalanan itu mengungkapkan sendiri keinginannya mengamen karena paksaan dari orang tuanya.

Mereka Mau Sekolah

Ketika ditanya apakah kamu sekolah, dia menjawab dengan polosnya.

“Gak boleh sekolah tapi mau sekolah, biar bisa beli mobil nanti kalo udah gede.”

Ketika ditanya lebih lanjut, ternyata anak-anak jalanan itu tidak diperbolehkan sekolah karena orang tuanya berpikiran untuk apa sekolah jika ujung-ujungnya mereka akan kembali ke jalanan juga. Ini merupakan bentuk dari pelanggaran hak anak untuk sekolah loh, tapi apa daya yang bisa dilakukan anak-anak polos tersebut.

Anak jalanan itu bermimpi jika ia bersekolah, ia akan bisa membeli mobil, entah apa yang ada di pikiran anak tersebut, tapi setelah ditanya lebih lanjut, ia berkata bahwa ia ingin menyetir mobil dan memberikan uang kepada anak jalanan yang banyak biar anak jalanan tidak diomelin ibunya lagi.

Selanjutnya saat anak jalanan itu ditanya apakah ia pernah bersekolah, ia menjawab bahwa ia pernah duduk di bangku Sekolah Dasar dan berhenti bersekolah di kelas 2 SD. Menurut pengakuannya, dia keluar karena dipaksa ibunya yang mengatakan bahwa seorang wanita tidak harus mengenyam bangku sekolah. Ketika sudah tidak bersekolah, justru sang anak disuruh ibunya mencari uang untuk membantu ayahnya.

“Gak punya uang buat sekolah, sekolah mahal…” kata ibu dari anak jalanan itu.

Sekolah mahal? Bukankah sekolah sudah gratis 12 tahun dan ada program Kartu Jakarta Pintar, seharusnya biaya bukanlah masalah utama untuk bersekolah. Lagi-lagi anak menjadi korban kepentingan orang tuanya, alasan biaya digunakan orang tua yang tidak bertanggung jawab untuk melarang anaknya bersekolah dan menyuruhnya mengamen, ironis ya Sahabat.

Tapi yang menjadi masalah lagi adalah, ketika anak jalanan itu ditanya, “Mau sekolah atau ngamen?” dia memilih untuk mengamen, karena menurutnya ketika mengamen dia memiliki banyak teman, memiliki uang sendiri dan bisa membantu orang tua.

Nah sudah taukan bagaimana kondisi anak jalanan sebenarnya. Yuk kalau masih ada yang bingung dan ada yang mau ditanyakan tentang anak jalanan, jangan sungkan menghubungi gue tau di info@guetau.com.

 

Ditulis oleh Achmad Mujoko

 

Referensi

  1. http://jurnas.com

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + three =