Yuk, Kupas Mitos-Fakta Kekerasan Dalam Pacaran!

posted on 25/03/2013

Cinta itu butuh pengorbanan

Begitulah potongan kalimat yang sering kita dengar dalam suatu hubungan yang namanya pacaran. Sahabat GueTau, benar nggak sih cinta itu butuh ‘pengorbanan’? Pengorbanan seperti apa yah yang dimaksud? Apakah termasuk pengorbanan kehilangan privasi, kehilangan waktu dengan keluarga, sampai rela untuk diperlakukan ‘kasar’ demi tetap bersama pasangan? “Cemburu itu wujud perhatian pasangan pada kita”, bener nggak sih? Mitos atau fakta?

Simak jawabannya berikut ini:

Mitos: Cemburu maupun kekerasan dari pacar adalah bentuk perhatian pasangan pada kita. Bisa juga diartikan sebagai tanda bahwa pasangan sangat mencintai kita.

Fakta: Itu BUKAN bukti cinta, tetapi tak lain adalah upaya mengontrol kita agar patuh, tunduk, dan selalu menuruti kemauan pacar. Tindakan kekerasan tidak bisa dibenarkan apapun alasannya karena setiap orang berhak untuk dihargai dan wajib menghargai orang lain yang ditunjukkan dengan perlakuan yang baik.

Mitos: Korban kekerasan juga punya andil memancing pelaku. Jadi, korban sendirilah yang menyebabkan kekerasan itu.

Fakta: Pelaku akan tetap melakukan kekerasan meski korban tidak melakukan apa pun. Dengan menyalahkan korban, si pelaku berupaya membela diri dan melemparkan kesalahannya.

Mitos: Pasangan sering menelepon dan membuka pesan di ponsel maupun media sosial kita dengan alasan si dia khawatir dan perhatian pada kita. Itu bukti bahwa si dia sangat perhatian dengan kita.

Fakta: Setiap manusia butuh privasi dan hak untuk bergaul dengan siapa pun. Perhatian berlebih dan memasuki ranah pribadi seseorang tanpa izin pemiliknya, bagaimana pun alasannya tidak dapat diterima. Sekali pun itu orang terdekat. Ini tercantum dalam Hak-Hak Asasi Manusia, yaitu Hak untuk Privasi.

Mitos: Kalau si dia sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, maka korban sudah ‘aman’ dan boleh percaya dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Fakta: Kekerasan umumnya terjadi seperti siklus atau lingkaran yang akan kembali pada pola lamanya. Sesudah melakukan kekerasan, pelaku sering meminta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Kita harus waspada karena janji-janji itu sulit dipercaya.

Mitos: “Kekerasan dalam pacaran tidak mungkin terjadi pada saya “

Fakta: Kekerasan dalam pacaran bisa terjadi pada siapapun, tidak mengenal usia, gender, dan tingkat sosial. Baik hubungan lawan jenis maupun sesama jenis.

Mitos: Setelah melakukan kekerasan pada kita, si dia akan semakin mesra.

Fakta: Ini salah satu pandangan menyesatkan. Kalau dipikir-pikir, bakal lebih banyak kekerasan yang dialami dibandingkan mesranya.

Mitos: Pacar berhak melakukan apa saja karena kita sudah menjadi miliknya.

Fakta: Tak seorang pun berhak atas diri kita selain kita sendiri. Pacar dan suami pun tidak berhak memperlakukan kita tanpa persetujuan kita yang harus diambil dengan kesadaran penuh tanpa tekanan atau ancaman dari siapapun.

Penting untuk diingat:

ü  Kekerasan bukanlah ekspresi cinta dan sayang. Karena cinta tidak pernah menyakiti, harus penuh kasih sayang

ü  Diri kita berhak atas tubuh dan jiwa kita dan tak seorang pun berhak berkuasa atasnya

ü  Jangan takut untuk  menolak dan berkata ‘TIDAK’ jika si dia mulai melakukan kekerasan

ü  Jangan ragu untuk laporkan ke polisi atau pihak berwenang lain jika kamu mengalami kekerasan fisik dari pacarmu atau orang-orang di sekitarmu

Nah, sekarang jadi tanggung jawab kamu nih buat sebarin info ini ke teman, keluarga, dan orang di sekitar kalian.

Gue Tau, Kalo Loe ? 😀

___

Ditulis oleh: Nikita Dewayani, Kontributor Guetau.com

Sumber: padv.org dan mitrainti.org

 

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 11 =