The Greatest Love of All

posted on 05/02/2013

Sahabat GueTau, sebentar lagi udah mau Hari Valentine nih. Kata orang-orang, bulan ini adalah bulan penuh cinta. Kamu udah siapkan apa saja untuk Valentine nanti? Kado, permen, cokelat, kue, pakaian baru untuk nge-date sama doi, atau mungkin sebuah metode penembakan yang bakalan bikin gebetan kamu kelepek-kelepek?

Tapi pernah nggak kamu kebayang kalau kasih sayang itu dimulai dari dan pada dirimu sendiri?

Karena jika kamu sendiri tak bisa menerima dan menyayangi dirimu apa adanya, bagaimana mungkin kamu bisa mencintai orang lain? Bagaimana mungkin pula kamu akan bisa bangkit dari permasalahanmu, menghentikan semua kritik pada dirimu sendiri setelah kamu melakukan kesalahan dan membuat keputusan terbaik di antara semua dilema yang pelik untuk kebahagiaanmu sendiri? Lagipula, dipikir-pikir, siapa sih orang yang paling bisa diandalkan di dunia ini selain dirimu sendiri?

Apa dan seperti apa sih sebenarnya kasih terhadap diri sendiri itu?

Mari kita bahas sama-sama!

Self compassion pertama kali dikemukakan oleh Dr. Kristin Neff. Menurut beliau yang menjadi peneliti di University of Texas, self compassion memiliki tiga komponen utama. Pertama, self-kindess (kebaikan terhadap diri sendiri), dimana kita harus lembut dan pengertian kepada diri kita daripada terus menerus menyalahkan dan menghakimi diri sendiri. Kedua, pengakuan dari kemanusiaan kita, merasa terhubung dengan orang lain dalam pengalaman hidup yang juga mengalami masa naik-turun dan bahagia-derita sama seperti kita daripada merasa terisolasi dan terasing oleh penderitaan. Ketiga, membutuhkan sebuah kesadaran yang seimbang di dalam pengalaman yang kita alami, daripada berusaha tidak mengacuhkan hal buruk yang terjadi atau bersikap berlebihan terhadap hal tersebut. Kita harus bisa memiliki dan memadukan ketiga aspek ini agar bisa menyayangi diri kita seutuhnya.

Menurut Christopher Germer, self compassion itu semata-mata memberikan kebaikan yang sama kepada diri kita sebagaimana kita akan berikan kepada orang lain. Ruth Fishel, penulis buku The Journey Within, mengatakan bahwa self compassion adalah sebuah pengalaman yang sangat indah dengan diri kita sendiri ketika kita sudah mencapai penerimaan seutuhnya. Di saat penerimaan utuh seperti ini, kita akan berhenti melawan penderitaan atau terus menerus didorong oleh kebutuhan untuk menjadi sempurna sehingga kedamaian dalam diri kita akan merekah. Rich Hanson menjelaskan dengan lebih gamblang bahwa self compassion ini berbeda dengan mengasihani diri sendiri, kita hanya perlu menyadari bahwa satu hal itu keras dan menyakitkan bagi kita sementara kita juga memberikan sebuah perasaan hangat agar penderitaan itu mengecil dan berakhir.

Berdasarkan penelitian dari Kristin Neff, self compassion bisa meningkatkan kesejahteraan psikologis individu, kemampuan untuk menyembuhkan diri dari “luka” psikologis secara lebih mudah, dan kualitas hubungan yang jauh lebih baik. Beliau membedakan self compassion dengan self esteem (harga diri) yang membutuhkan rasa berada di atas orang lain sehingga kita akan memiliki kecenderungan untuk berkompetisi untuk bisa merasa “cukup baik”. Self compassion fokus pada kualitas pribadi kita, kita jadi lebih menghargai dan memperlakukan diri kita dengan lebih baik tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain. Sikap inilah yang mampu membantu kita mengenal persamaan dan hubungan kita dengan manusia lain yang seringkali mengalami penderitaan seperti kita juga (Greenberg, 2012). Dengan kata lain, self compassion akan meningkatkan empati kita kepada orang lain, mendorong kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Tapi, kalau kita terlalu sayang pada diri sendiri, apa kita nggak terlalu manja dan lemah nantinya?

Kita tidak memanjakan diri kita dengan menyatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja di saat ada sesuatu yang salah dengan hidup kita. Dalam self compassion, kita tidak menyangkal hal negatif yang terjadi, kita justru mengamati, merasakan, dan menyadarinya tanpa harus bereaksi berlebihan dengan mengkritisi diri kita atau menganggap diri kita tidak cukup baik sehingga hal buruk bisa terjadi.

Tara Brach menyatakan bahwa self compassion bukan melarikan diri dari tanggung jawab atas perbuatan kita, self compassion membebaskan kita dari kebencian akan diri sendiri yang mencegah diri kita untuk bisa menanggapi masalah dengan lebih seimbang. Kita berusaha sebisa mungkin untuk menyamankan diri kita dengan menyadari bahwa semua makhluk hidup pasti juga pernah menderita. Kelly Mc Gonigal menyatakan pernyataan yang serupa, bahwa kita semua memiliki kecenderungan untuk meragukan dan mengkritik diri sendiri ketika sebuah hal buruk terjadi, namun mendengarkan keduanya justru tidak akan membuat kita mencapai tujuan. Daripada melihat seperti itu, cobalah melihat sudut pandang baru, diri kita sebagai seorang mentor ataupun sahabat baik yang begitu percaya kepada kita, menginginkan yang terbaik dari kita dan akan terus mendukung kita ketika kita merasa patah arang. Dari titik kesadaran inilah, justru seseorang akan lebih bisa mengenali kelemahannya dan meningkatkan potensi dirinya.

Self compassion merupakan sebuah cara untuk meredakan kecemasan dan meningkatkan kemampuan kita untuk bangkit dari masalah hingga efek negatif dari stres pun bisa teratasi. Dengan demikian, kita dapat melalui tantangan, masalah, dan bahkan memaafkan kesalahan yang kita buat sendiri dengan perasaan lebih damai. Kita juga akan mampu menghadapi serta memperbaiki keadaan dengan jauh lebih baik daripada terus menerus mengkritik dan menghakimi diri sendiri.

Daritadi kita terus membahas bahwa self compassion bisa membuat kita mengatasi hal buruk tanpa harus mengkritik dan menghakimi diri sendiri, serta kita harus terus berbuat baik, menerima, menghargai, peduli, dan menyamankan diri sendiri di masa-masa pelik. Jadi, di saat-saat seperti apa sih kita membutuhkan self compassion?

Menurut Alice Boyes, setidaknya ada 20 saat yang paling tepat untuk menggunakan self compassion alih-alih mengkritisi diri kita sendiri, berikut daftarnya:

  1. Ketika kita berusaha sangat keras tapi hasil yang diinginkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Alih-alih merasa kecewa, kita bisa memberikan sedikit bagi diri kita untuk terus menjadi motivasi.
  2. Ketika kita membandingkan diri dengan orang lain yang lebih hebat dan menyesali keadaan kita sendiri.
  3. Saat membuat kesalahan dan merasa bersalah ataupun malu karena kesalahan tersebut
  4. Saat berusaha sebisa mungkin tampil sempurna dan merasa terjebak dengan tuntutan tersebut.
  5. Saat terjebak dalam kemacetan dan mulai menyalahkan diri sendiri untuk tidak pergi lebih awal sebelumnya.
  6. Ketika kita menyadari bahwa diri kita tidak kuat, tidak mampu, tidak layak dicintai, dan banyak “cacat”.
  7. Ketika menghadapi masalah dan merasa tersesat, bingung, dan terbebani.
  8. Saat tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan sehingga merasa bodoh.
  9. Ketika terlalu banyak mengkritisi diri sendiri agar bisa termotivasi, penelitian telah membuktikan sebaliknya.
  10. Saat kebingungan untuk menggunakan self-compassion itu sendiri.
  11. Ketika kamu melanggar peraturan yang kamu buat sendiri.
  12. Saat kamu menyesal telah menghindari sebuah masalah yang akhirnya menjadi semakin besar karena tidak segera diselesaikan.
  13. Ketika kamu mengkritik dirimu sendiri karena telah marah, iri, cemburu, atau terlalu egois kepada orang lain.
  14. Ketika merasa seharusnya melakukan ini-itu dan terbebani karenanya.
  15. Setelah memperlakukan orang yang paling kamu sayangi dengan sangat buruk sehingga kamu menyesali perbuatanmu.
  16. Setelah menyesal membuat sebuah keputusan yang buruk
  17. Saat kamu memiliki konflik dan bertabrakan dengan nilai moral, tanggung jawab, dan lain sebagainya.
  18. Membuat kesalahan yang sama dua kali padahal telah mendapatkan kesempatan kedua.
  19. Saat kamu berpikir bahwa sudah telat untuk melakukan suatu hal baik ke orang lain.
  20. Ketika kamu merasa tidak yakin dan ragu akan keputusan yang hendak diambil dan malah menyalahkan dirimu sendiri karena keraguan tersebut.

Terus gimana nih caranya supaya Sahabat GueTau bisa meningkatkan self compassion ini? Self compassion harus terus-menerus dilatih. Latihannya seperti aja? Emma M. Seppala menyatakan ada beberapa jenis latihan untuk bisa meningkatkan self compassion.

  1. Tulislah sebuah surat untuk dirimu dari sebuah perspektif seorang teman yang sangat mengasihi dirimu sendiri. Bayangkan bahwa dirimu adalah orang lain ini. Apa yang akan sekiranya ia katakan untukmu? Bacalah surat ini beberapa saat kemudian.
  2. Tuliskan apa yang kamu katakan mengenai dirimu sendiri, jika kamu terus mengkritisi dirimu akan suatu hal, tulislah semua kritik yang ada dalam pikiranmu itu dan bertanyalah kepada dirimu sendiri apakah kamu pernah mengatakan itu semua kepada seorang temanmu? Apa yang akan dikatakan oleh seorang teman?
  3. Buatlah sebuah kalimat yang bertemakan self compassion. Neff menganjurkan sebuah kalimat yang mudah diingat sehingga di saat hal buruk terjadi, kamu bisa mengingatnya kembali. Kalimat ini bukanlah sebuah afirmasi positif tapi sebuah pengingat. Contoh yang dibuat oleh Nef: ”Saat ini adalah saat penderitaan, penderitaan adalah bagian dari hidup, semoga aku menjadi baik kepada diriku di saat ini sehingga aku bisa memberikan kasih sayang yang dibutuhkan untuk diriku.”
  4. Meditasi adalah sebuah proses yang dipenuhi dengan kontemplasi sekaligus relaksasi. Kita bisa melepaskan pemikiran dan emosi negatif ketika kritik kepada diri sendiri yang berlebihan. Banyak sekali jenis meditasi yang bisa digunakan dan jangan sekedar terpaku kepada satu metode. Temukan metode yang paling tepat untukmu menciptakan ketenangan dan pikiranmu.

Jadi, Sahabat GueTau, di Valentine Day tahun ini, selain udah siapkan segala sesuatunya yang spesial untuk orang yang kamu sayangi, sudahkah kamu siapkan dirimu untuk mencintai dirimu sendiri? Kira-kira apa yang akan kamu berikan pada dirimu di hari penuh kasih sayang ini? Gimana kalo ikutan menunjukkan keunikan dan kebanggan akan dirimu sendiri di http://blessburden.com/? Caranya gampang lho. Cukup kirimkan sebuah tulisan tangan berisi nama, umur, dan asalmu, serta apa yang membuatmu unik, berbeda, dan bahkan mungkin dianggap aneh oleh orang lain beserta dua buah foto ke: blessburden@yahoo.com. Dengan berpartisipasi, kamu berarti telah berusaha untuk menerima dirimu dan menunjukkan kasih sayangmu kepada dirimu.

Untuk penutup tulisan kali ini, izinkan saya mengutip lirik lagu “Greatest Love of All” yang pernah dinyanyikan oleh mendiang Whitney Houston. Semoga bisa menyentuh dan mengingatkan kita akan kasih yang terpenting adalah untuk diri kita sendiri.

I decided long ago, never to walk in anyone’s shadows
If I fail, if I succeed, a
t least I’ll live as I believe
No matter wha
t they take from me, they can’t take away my dignity
Because the greatest love of all
is happening to me
I found the greatest love of all
inside of me
The greatest love of all
is easy to achieve
Learning to love yourself
, it is the greatest love of all

___

Ditulis Oleh: Benny Prawira 

related post

2 thoughts on “The Greatest Love of All

  1. Benny says:

    Self acceptance di dalam self compassion jg sangat diperlukan, karena tak mgkn kita bisa mencintai diri kita tanpa menerimanya terlebih dahulu
    Untuk mengetahui penerimaan diri sebagai langkah awal self compassion lebih lanjut, bisa dibaca di sini : http://blog.blessburden.com/post/41616417618/benny-prawira-mengapa-penerimaan-diri-penting

  2. Cynthia says:

    kak, boleh minta daftar pustakanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 7 =