Penjelasan Ilmiah Saat Kamu Jatuh Cinta

posted on 09/04/2015



“Karena cinta bukan hanya tentang hati maupun otak, tapi keduanya sama-sama terlibat.”

Orang bilang, cinta itu tak ada logika. Dan semua hanya tentang hati dan perasaan. Tapi, tahukah Sahabat GueTau bahwa banyak ilmuwan yang tertarik meneliti tentang cinta? Ada yang meneliti tentang tahapan cinta, sisi psikologis dari cinta, dan biologis yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh cinta.Nah, di sini, GueTau akan berbagi informasi mengenai pengaruh otak di balik hal-hal yang kita lakukan saat sedang jatuh cinta.

Otak: Tempat Perasaan Cinta itu “Bersarang”

Ada beberapa hormon dan bagian otak yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perasaan cinta yang sedang dirasakan oleh seseorang. Setidaknya, ada 4 hormon diantaranya yang telah diteliti oleh banyak ahli. Yakni cortisol, dopamine, serotonin, dan norepinephrine. Saat seseorang jatuh cinta, tingkat serotonin menurun karena peningkatan cortisol. Dan ini membuat otak menghasilkan dopamine, yang akan memproduksi norepinephrine.

 

  1. Cortisol: Hormon yang “Membuat” Stres

Cortisol adalah hormon yang berperan dalam stres. Saat Sahabat GueTau jatuh cinta, otak meningkatkan produksi cortisol. Ini yang menyebabkan stres mudah datang saat sang pujaan hati tak kunjung merespons perasaan. Tapi justru stres itu yang membuat kita semakin bersemangat untuk mengejar cintanya. Itu pula yang berlaku pada pasangan LDR dan backstreet yang memiliki banyak tantangan dan membuat stres. Mengapa? Karena stres akan meningkatkan perasaan bergairah dan senang. Jadi semakin tinggi kadar cortisol, akan semakin tinggi pula kadar dopamine.

 

  1. Dopamine: Pembuat Perasaan Senang

Dopamine berfungsi dalam perasaan senang. Produksi dopamine meningkat saat kita sedang jatuh cinta. Ini yang membuat kita selalu merasa senang saat mengingat si dia. Hormon ini pula yang bertanggung jawab atas perilaku kita yang tak bisa berhenti memikirkannya, detak jantung yang berdegup cepat seolah akan segera loncat dari dada, perasaan cemas sekaligus senang saat akan bergegas bertemu dengannya. Dan juga bagaimana dia menjadi satu-satunya perhatian kita.

Bersama dengannya jauh lebih penting daripada mengerjakan tugas sekolah, misalnya.

Semua akan kita lakukan dan berikan, asalkan bisa bersamanya. Bahkan hingga lupa caranya makan dan tidur. Singkatnya, karena dopamine-lah kita bisa mengenal adanya “pengorbanan untuk cinta”.

 

  1. Serotonin: Penstabil Mood

Serotonin, berfungsi dalam menstabilkan mood. Hormon ini menurun saat kita jatuh cinta. Itu yang membuat mood kita sering berubah-ubah kalau sudah berhubungan dengan si dia. Kadang bisa marah-marah karena dia tak kunjung membalas chat atau sms, dan langsung berubah 180 derajat saat dia menelpon.

Selain itu, serotonin juga bertanggung jawab atas adanya perasaan cemburu yang kita rasakan. Ini karena menurunnya serotonin berhubungan dengan perasaan obsesi dan kompulsi, seperti pada orang dengan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Begitu pula dengan adanya keinginan untuk memiliki, menjaga semua kondisi tetap sama, serta terobsesi pada salah satu hal (atau dalam hal ini pada seseorang), juga disebabkan oleh rendahnya kadar serotonin di otak.

Serotonin juga penyebab mengapa kita sering mengecek HP apakah dia mengirim SMS, chat, atau menelpon kita.

 

  1. Norepinephrine: Membantu Kita Mengingat Hal Baru

Terakhir, ada norepinephrine yang kadarnya meningkat saat kita jatuh cinta. Hormon ini membuat kita bergairah dan terangsang. Tapi juga membantu kita mengingat berbagai hal baru yang berhubungan dengan si dia. Kadar norepinephrine berhubungan dengan dopamine. Jika dopamine meningkat, maka norepinephrine pun begitu. Mengapa? Karena saat kita merasa senang akan sesuatu, maka akan lebih mudah bagi kita untuk mengingat hal-hal yang berhubungan dengannya. Itu yang membuat kita bisa ingat dengan detail apa hobi si dia, apa warna baju yang dipakainya tadi siang, dan berbagai hal terkait dengannya.

Cinta memang misterius. Dan menjadi hal yang wajar bahwa ia tidak hanya menarik perhatian para penulis roman, ataupun pujangga. Tapi juga oleh para ilmuwan, ahli psikologi, sosiologi, antropologi, serta fisiologi dan otak. Karena cinta bukan hanya tentang hati maupun otak, tapi keduanya sama-sama terlibat. Bagi Sahabat GueTau yang ingin tahu lebih banyak tentang dasar ilmiah dari perasaan jatuh cinta, silahkan kirim pertanyaan ke info@guetau.com.

 

Ditulis oleh Fatimah

 

Referensi:

  1. http://everydayfeminism.com/2012/12/the-neurobiology-behind-all-of-the-ridiculous-things-you-do-when-youre-in-love/
  2. http://intisari-online.com/read/penjelasan-ilmiah-di-balik-kegilaan-yang-terjadi-saat-seseorang-jatuh-cinta

related post

4 Hal yang Membuat Kamu Perlu Melakukan Tes dan Konseling HIV dengan Segera!

posted on 03/11/2016

Halo Sobat GueTau, gak terasa ya kita sudah memasuki bulan November! Kurang dari sebulan lagi, kita akan merayakan Hari AIDS Sedunia yang bi

6 Tips Bersih-Bersih Buat Cowok

posted on 14/12/2015

Sumber “Menurut suatu studi yang melibatkan para mahasiswa di Turki, hanya 47,6% dari mereka yang mengganti celana dalamnya setiap hari.

Indahnya Melihat Gender sebagai Pelangi

posted on 17/11/2015

Sumber “Seperti warna-warna pada pelangi, gender terbentang pada suatu spektrum, bukan hanya dua kategori biner lelaki-perempuan. “ Halo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 4 =