Tawuran, Jangan Coba-Coba!

posted on 03/08/2014

tawuran

Tawuran sudah menjadi tindakan yang tidak asing lagi untuk kita dengar. Sudah banyak remaja yang terlibat dalam perbuatan yang tidak baik ini. Tawuran sendiri berasa dari kata tawur yang berati perkelahian beramai-ramai atau perkelahian massal. Sebetulnya, apa asiknya sih tawuran ini? Kenapa bisa terus terjadi dari generasi ke generasi?

Tercatatada 225 kasus dalam lingkup Indonesia sepanjang tahun 2013 dengan menewaskan 20 remaja. Data ini dikatakan meningkat karena pada tahun 2012 telah terjadi 147 kasus.

Jika bicara tentangfaktor penyebab, tentu beraneka ragam. Terkadang tawuran hanya dimulai dari hal sepele seperti salah bicara atau salah paham yang lalu diartikan dengan berlebihan dari pihak lain. Ada lagi karena batas wilayah,seperti yang terjadi antara SMA 6 dan SMA 70 Jakarta, karena terdapat indikasi bahwa ada 4 siswa SMA 6 yang melewati daerah Bulungan yang menjadi daerah kekuasaan SMA 70. Selain itu, ada pula aksi saling ejek atau juga karena kekalahan dalam pertandingan yang tidak bisa diterima oleh pihak yang kalah. Seperti yang terjadi pada SMA 6, SMK 3 dan SMA 4 Jambi. Hampir setiap tahun mereka saling serang karena hasil LPI (Liga Pelajar Indonesia). Sering kali SMA 6 diserang karena juga sering menang, namunterkadang bukan hanya perihal kalah menang, tetapi juga karena pendukung yang menyandungkan batu pada pendukung lawan sehingga suasana makin memanas.

Tanpa disadari, aksi tawuran ini sudah menjadi budaya ‘turun-temurun’. Aneh dan miris,  mengapa bisa ada warisan sangat merugikan, seperti tawuran, dan terus dibiarkan terjadi dan tidak ada yang sadar untuk tidak ikut-ikutan. Padahal, tentu saja, dampak negatif yang terjadi sangat banyak dan merugikan berbagai pihak, misalnya saja, rusaknya fasilitas sekitar area terjadinya tawuran mengganggu stabilitas jalan raya; membuat malu orang tua, guru dan sekolah; memakan korban jiwa; merusak moral bangsa; dan menjadi tontonan yang buruk untuk generasi penerus.

Tawuran ini tidak boleh dibiarkan terjadi terus-menerus. Perlu ada upaya nyata yang efektif dan sekaligus preventif agar kasus ini tidak semakin bertambah. Sekurang-kurangnya, membuat pondasi moral yang kuat dan positif pada generasi selanjutnya.

Upaya ini juga harus dilakukan oleh banyak pihak, dari orang tua, guru, masyarakat bahkan media. Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Tentu di dalam keluarga, seharusnya anak-anak sudah dicontohkan hal-hal yang baik-baik dan menjauhkan dari hal yang buruk. Anak-anak cenderung mengerti dan mengikuti apa yang kita ajarkan apa bila kita contohkan, sehingga lebih efektif.

Begitu pula halnya dengan guru. Pendidikan karakter harus betul-betul tertanam dengan baik pada pelajar. Mencontohkan sikap yang baik pada pelajar juga merupakan salah satu solusi. Menghilangkan praktek hukum-menghukum yang terkadang menjadi contoh tindakan bullying di sekolah barangkali bisa membuat perubahan. Terkadang dari hal buruk yang kecil itu, pelajar bisa melakukan hal yang lebih buruk lagi.

Lalu masyarakat dan media. Konteksnya masih sama, mencontohkan. Bagaimana media mengapresiasi perilaku seseorang yang positif dapat berpengaruh pada pola pandang masyarakat. Jadi, jika masyarakat Indonesia sendiri tentram, damai, dan sejahtera tanpa ada kekacau-balauan, tentu generasi baru pun belajar untuk meneruskan nilai-nilai positif yang sudah terjaga dengan solid. Media diharapkan mampu memilah berita yang disiarkan. Jika media selalu menyiarkan berita-berita negatif, tentu saja yang menonton, khususnya remaja, cenderung melakukan hal yang negatif juga.

Kerja sama yang baik dari berbagai pihak tentu saja dapat menekan angka kasus tawuran. Bagaimana pun caranya, budaya tawuran yang tak ada untungnya sama sekali untuk kita harus segera lenyap. Jadi, Sahabat GueTau, jangan dekat-dekat sama yang namanya tawuran, banyak ruginya!

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tawuran di kalangan remaja Indonesia, Sahabat GueTau bisa langsung mengirimkan email keinfo@guetau.com

 

Ditulis oleh Suci Wulandari

 

Referensi:

  1. http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/01/18062186/Ini.Pemicu.Tawuran.SMA.6.dan.SMA.70
  2. http://kbbi.web.id/tawur
  3. http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/12/22/kasus-tawuran-pelajar-jakarta-terus-meningkat-tahun-ini
  4. http://www.fikarhomeschooling.net/index.php/86-news/123-penyebab-terjadinya-tawuran-antar-pelajar
  5. http://www.tempo.co/read/news/2012/09/24/064431613/Begini-Kronologi-Tawuran-Siswa-SMA-6-Versus-SMA-70
  6. http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/2082/1/tawuran.pelajar.memprihatinkan

related post

4 Hal yang Membuat Kamu Perlu Melakukan Tes dan Konseling HIV dengan Segera!

posted on 03/11/2016

Halo Sobat GueTau, gak terasa ya kita sudah memasuki bulan November! Kurang dari sebulan lagi, kita akan merayakan Hari AIDS Sedunia yang bi

Aborsi Ilegal: Apa Saja Risikonya?

posted on 10/11/2015

Source “Jumlah kasus aborsi di Indonesia setiap tahun mencapai 2,3 juta, 30 persen di antaranya dilakukan oleh remaja.” Berdasarkan kuti

5 Manfaat Masturbasi

posted on 27/05/2015

“Pengenalan akan anatomi tubuh ini mampu meningkatkan rasa percaya diri dan membangun body image yang positif.” Mastrubasi kerap diangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + 19 =