Belajar Mengatakan TIDAK!

posted on 16/10/2012

Pernahkah kamu menerima ajakan temanmu, namun sebenarnya kamu tidak setuju dengan ajakannya? Pernahkah kamu menyetujui rencana temanmu karena takut dia marah jika kamu tolak? Seberapa seringkah kamu diam saat teman-temanmu mengajakmu untuk melakukan hal yang tidak kamu sukai? Seringkah kamu merasa bersalah seusai mengatakan, ”TIDAK!”?

 

Permasalahan ini merupakan hal yang umum tidak hanya di kalangan remaja, perasaan bersalah seusai menolak. Namun, karena remaja sedang dalam tahap peralihan, maka gejolak emosi di dalam diri kita lebih besar sehingga hal itu menyebabkan kita ingin selalu diterima oleh orang lain. Mari kita lihat beberapa contoh di bawah ini:

  1.  “Hari ini kelasku tidak menyenangkan, kita bolos saja yuk!”.

Pesannya : Saya tidak mau masuk kelas hari ini, kamupun harus begitu.

  1. “Kalau kamu cinta denganku, kamu harus mau tidur denganku”.

Pesannya : Bila kamu tidak melakukan HAL YANG SAYA INGINKAN, maka kamu melukai perasaan saya, jadi kamu merasa bersalah.

  1. “Sebagai anggota tim ini, rokok merupakan suatu hal yang biasa”.

Pesannya : Karena kebanyakan anggota tim merokok, maka kamu juga harus merokok agar bisa diterima oleh kami.

  1. “Kamu harus pergi denganku karena kita sudah berteman lama”.

Pesannya : Kalau kamu tidak mengikuti KEINGINANKU, maka kamu bukanlah teman yang setia.

 

Dalam banyak kasus, orang lain membuat atau menyiratkan suatu keharusan bagi kita. Mereka membuat keputusan yang seolah benar.. “ Kalau kamu teman yang baik, kamu pasti membelikanku, mau tidur dengan denganku, mau membolos, tidak akan marah karena aku merusak handphonemu, mau mencoba narkotika, dll”.

 

Jadilah hakim untuk diri sendiri

Satu-satunya cara untuk menghindar dari upaya orang lain membuat kita merasa bersalah adalah dengan menjadi hakim untuk diri sendiri. Jangan mau terikat pada pendapat benar atau salah menurut orang lain, tetaplah pada pikiran kita dan bersiaplah mengatakannya. Kita bisa menolak permintaan teman kita dengan cara yang asertif (ada pada artikel berjudul “asertif”). Namun, ada beberapa orang yang bersikeras dengan permintaannya, seperti:

 

Kamu    : “Tidak.”

Teman  : ”Kenapa tidak?”

Kamu    : ”Karena saya tidak mau.”

Teman  : ”Kenapa kamu tidak mau? ”

Kamu    : ”Karena aku gak tertarik mencoba narkotika. ”

Teman  : ”Lalu apa artinya persahabatan kita?”

Kamu    : ”Tidak ada hubungannya.”

Teman  : ”Kalau kamu tidak mau, berarti kamu tidak peduli.”

Dan akhirnya kamu mengatakan, “Yaudah deh, saya mau.”

(Misi temanmu berhasil untuk membuatmu mengikuti apa yang mereka inginkan, akhirnya kamu mencobanya dan lama-lama bisa kecanduan)

 

Ada hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini, yaitu dengan menggunakan REKAMAN YANG MEMUTUSKAN. Berikut ini adalah contohnya:

Kamu    : “Tidak.“

Teman  : “Kenapa tidak?“

Kamu    : “Aku menghargai kamu sebagai teman, namun AKU TIDAK MAU MEMAKAI NARKOTIKA.“

Teman  : “Katanya kamu temanku?“

Kamu    : “Iya, kamu memang teman baikku, namun AKU TIDAK MAU MEMAKAI NARKOTIKA.“

Teman  : “Kalau gitu, kita sudah tidak bisa berteman lagi.“

Kamu      : “ Kita masih tetap bisa berteman TANPA AKU MENGGUNAKAN NARKOTIKA dan kamu masih menjadi teman baikku.“

Teman  : “Aku tidak mau, kalau kamu teman baikku, kamu pasti mau mencobanya.“

Kamu      : “Aku menghargai tawaranmu dan kamu sebagai teman, aku berharap kamu juga menghargai keputusanku untuk TIDAK MEMAKAI NARKOTIKA. Kalau memang kamu merasa aku bukan teman yang baik, itu tidak masalah, namun bagiku kamu tetap teman baikku.“

 

Ada beberapa tips dalam menggunakan REKAMAN YANG MEMUTUSKAN:

a)      Jaga suara agar tetap monoton, tenang, dan berkuasa.

b)      Tunjukkan kalau kita tidak menyerang pihak lain. Hargai diri orang tersebut sebagai seorang pribadi, namun tolaklah idenya jika itu bertentangan dengan kamu.

c)       Gunakan kata-kata yang sama.

d)      Bersikaplah tegas.

 

Selain itu, penolakkan juga bisa dilakukan dengan MEMBERIKAN PERTANYAAN kepada temanmu:

Kamu    : Tidak.

Teman  : Kenapa tidak?

Kamu    : Kenapa aku harus mencoba narkotika?

Teman  : Karena kamu temanku.

Kamu    : Apakah sebagai teman aku harus mencoba narkotika?

Teman  : Ya, kan katanya kamu temanku.

Kamu    : Aku mau berteman, tapi aku tidak mau memakai narkotika. Menurut kamu bagaimana?

Teman  : Kalau kamu mau berteman denganku, maka kamu harus memakai narkotika.

Kamu      : Jadi, kalau aku tidak mau memakai narkotika, aku tidak bisa berteman denganmu? Padahal aku sangat menghargai kamu sebagai temanku.

Teman  : (merasa bersalah)

 

Bagaimana kawan? Dalam pertemanan, sebuah konflik itu biasa terjadi dan itu adalah hal yang wajar. Ada saatnya kamu sepakat untuk tidak sepakat dengan pendapat temanmu, jati diri kamu itu yang terpenting. Selamat mencoba ya! 🙂 (Handa)

 

Referensi : Mathew, Andrew. 1996. Making Friends. Jakarta: Gramedia

related post

Menjadi Remaja Asertif

posted on 02/12/2014

    “Bersikap asertif merupakan ketrampilan yang harus dimiliki remaja agar tidak kehilangan hak-hak pribadinya dan tidak mudah

ASERTIF

posted on 16/10/2012

  Pernahkah kamu merasa tidak nyaman dengan perbuatan orang lain namun merasa tidak enak untuk memberitahunya tentang perasaanmu? Perna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 + six =