Kecanduan Cinta

posted on 06/05/2013

Sahabat GueTau, sebelum kita melangkah lebih lanjut membicarakan kecanduan cinta, mari kita baca artikel berikut terlebih dahulu:  http://guetau.com/cinta/kemampuan-komunikasi/manusia-dan-ragam-kebutuhannya.html

Nah, menurut Abraham Maslow, empat kebutuhan pertama yang seringkali dianggap sebagai kebutuhan dasar itu tergolong ke dalam jenis D-needs. D-needs adalah jenis kebutuhan yang harus dipenuhi agar seorang individu tidak merasa kekurangan dalam hidupnya. Kekurangan inilah yang konon bisa menyebabkan stagnasi pada salah satu kebutuhan hidupnya. Ketika seseorang mengalami stagnasi di kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, di titik inilah seseorang bisa menjadi pecandu cinta.

Ketika stagnasi ini terjadi, maka tidak ada istilah “puas” dalam setiap hubungan yang terjalin. Banyak di antara mereka menjadi sangat posesif dan menginginkan pasangannya agar menjadi seperti yang diinginkan. Banyak pula yang selalu mencari di luar pasangannya sendiri, banyak juga yang merasa harus tetap selalu bertahan di dalam hubungan agar tidak kesepian. Pecandu cinta tidak pernah mampu membagikan cinta secara tulus pada orang lain karena selalu merasa kehausan cinta dan menyalahkan hubungan yang mereka jalani. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak sadar, bahwa sumber masalah justru ada pada diri sendiri.

 

Dampak dari kecanduan cinta tidak lebih baik daripada jenis kecanduan lainnya. Lebih bahaya lagi, kecanduan cinta bisa saja berlangsung seumur hidup karena si pecandu cinta jarang sekali menyadari bahwa apa yang diyakini mengenai cinta ini berbahaya. Pecandu cinta biasanya akan berada dalam kondisi emosi yang labil dan menjadi terlalu sensitif.  Ia menjadi pencuriga pada teman, sahabat, kegiatan, pekerjaan, bahkan keluarga pasangannya karena ia takut ekspektasinya yang tinggi tak terpenuhi dan dikhianati. Tidak sedikit juga pecandu cinta yang didominasi oleh rasa marah dan bahkan agresif demi mendapatkan dan mengendalikan pasangan.

Pecandu cinta pada akhirnya jadi mudah merasa lemah, lelah, dan lemas karena seluruh energinya sudah dipergunakan untuk berfokus mendapatkan dan mempertahankan cinta belaka. Akhirnya, kebutuhan lainnya bisa saja terbengkalai. Karena itu pula, kecanduan cinta sudah banyak menjadi fondasi dari kasus kekerasan dalam hubungan, bunuh diri, atau bahkan pembunuhan yang terjadi tanpa korban maupun pelaku menyadarinya.

Korban dari pecandu cinta bisa jadi merasa tertekan akibat perilaku si pecandu cinta ini namun ia tidak berani/tega/tidak berdaya untuk memutuskan hubungan karena melihat si pecandu begitu membutuhkannya. Hingga akhirnya tiba sebuah titik yang benar-benar tak bisa ditahan lagi, maka sebagian orang bisa mempunyai ketegasan untuk keluar dari hubungan semacam ini (baca ini agar kamu tahu cara menunjukkan ketegasanmu, http://guetau.com/cinta/kemampuan-komunikasi/tegas-untuk-bebas-siap.html). Banyak pula orang yang “memilih” untuk tetap dalam lingkaran demand-supply tersebut karena ternyata dirinya sendiri juga seorang pecandu cinta yang takut akan kesepian jika ia putus dari hubungan itu.

Peran Media

Sangat amat disayangkan, situasi inilah yang sering dikaburkan dengan hubungan yang romantis dan cinta buta. Media bisa dibilang banyak berkontribusi kepada kaburnya definisi hubungan romantis dan kecanduan cinta di masa kini. Banyak sekali film, sinetron, atau pun lagu-lagu yang menunjukkan perilaku dan pola pikir obsesif akan cinta sejati. Dari sanalah, akhirnya banyak orang terjebak dalam pengertian yang keliru antara kecanduan cinta dengan cinta sejati. Sebagai contoh, coba deh perhatikan berapa banyak lagu-lagu atau film-film yang menunjukkan betapa tersiksanya seseorang jika hidup sendirian. Padahal secara logis, kita sendiri bisa menelaah bahwa hidup sendirian tidak berarti kesepian dan menderita, orang yang berhubungan pun bisa saja malah merasa lebih tersiksa dan kesepian. Contoh lainnya adalah mengenai kisah cinta yang begitu sempurna, dimana seseorang selalu mendapatkan cintanya dan berakhir bahagia selama-lamanya. Kenyataannya, hubungan romansa tak selalu berakhir sebaik itu. Ini hanya dua dari sekian banyak contoh perilaku yang mendayu-dayu dalam cinta yang disediakan oleh media. Di sisi lain, kita sendiri jarang melihat disediakannya pemaparan akan gambaran cinta yang lebih sehat dari media.

Selain indoktrinasi terus menerus mengenai hubungan cinta yang mendayu-dayu ataupun terlalu sempurna, pecandu cinta tentunya juga memiliki penyebab awal mengapa mereka bisa menjadi begitu haus akan kasih sayang. Banyak pecandu cinta dibesarkan dalam pola asuh yang tidak memenuhi kebutuhan psikologis (seperti kasih sayang, perhatian, kehangatan, dan penerimaan seutuhnya) Di masa kecil, trauma psikologis yang pernah dialami seperti penyiksaan emosional dan fisik pada usia dini atau menyaksikan sikap dan tindakan salah satu orang tua yang agresif dan kasar terhadap pasangan dapat  memicu munculnya kecanduan akan cinta ini.

Kasih sayang berlebihan dari keluarga pun bisa menyebabkan seseorang menjadi manja dan selalu mencari jumlah kasih sayang yang sama dari dunia sekitar. Ketika tak mendapatkannya dari dunia luar, orang tersebut akan semakin kehausan rasa kasih sayang dari orang sekitarnya di saat ia harus perlahan-lahan melepaskan diri dari keluarganya dan bertanggungjawab atas hidupnya sendiri. Rasa rendah diri serta tidak adanya role model untuk hubungan yang sehat di lingkungan sekitar juga mempengaruhi terbentuknya seorang pecandu cinta.

Pola kecanduan akan dimulai di satu masa seseorang mulai berjuang untuk mengendalikan lingkungan atau orang-orang terdekat supaya selalu memperhatikannya, menerimanya, dan mencintainya apa adanya. Dia akan terus mencoba membuat dirinya diterima, memiliki, dan dimiliki oleh orang lain, bahkan jika harus berkhianat atau bahkan harus “mengorbankan” diri. Ia akan takut jika kehilangan orang yang selama ini memiliki dan dimilikinya, karena perasaan “dimiliki dan memiliki” ini identik dengan identitasnya.

Lalu, bagaimana caranya mengatasi ini semua?

Jika Sahabat GueTau sendiri merasa kamu seorang pecandu cinta, berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:

Stop lakukan apapun yang kamu lakukan terkait kecanduan cinta ini dan mulai perhatikan perilakumu. Tulis dengan jujur apa saja yang sekiranya menjadi masalahmu di hubungan sebelumnya, kamu harus melihatnya secara objektif dalam hal ini. Jika memang itu karena kesalahanmu atau ekspektasimu, tuliskan demikian adanya. Jujur tanpa harus menyalahkan orang lain atas pilihan dari tindakan yang telah kamu lakukan. Kecuali kamu sedang berpacaran, cobalah untuk tidak berhubungan dengan niat romansa selama setidaknya enam bulan. Itu berarti mencakupi tidak adanya SMS-an, e-mail, chat, ataupun BBMan, kopdar, dan bentuk kontak lainnya yang memperkenalkanmu ke orang-orang baru (yang berpotensi untuk jadi pacarmu) dari teman ataupun keluargamu.

Saat kamu membuat catatan mengenai masalahmu di dalam hubungan yang pernah ada sebelumnya, coba lihat, apakah ada sebuah kemiripan di sana? Apakah sekiranya ada kemiripan yang bisa dihubungkan ke masalah masa kanak-kanak?

 

Coba pertimbangkan juga evaluasi dirimu ini dengan bantuan seorang ahli kesehatan mental. Bukan hanya orang dengan masalah kejiwaan kok yang pergi ke psikolog, psikiater, ataupun konselor. Semua orang yang memiliki masalah bisa pergi ke mereka untuk mendapatkan bimbingan dalam membentuk perilaku yang lebih baik. Dalam hal ini berarti kamu harus percayai seorang psikolog atau konselor untuk bisa membimbingmu keluar dari pola kecanduan cinta. Jika kamu dalam keadaan berpacaran (kecuali kamu disiksa pasanganmu), jangan buat tuntutan berlebihan atau membuat keputusan besar apapun dalam hubunganmu (misalnya lagi pacaran, jadi ingin buru-buru menikah) hingga kamu bisa melihat secara jujur, jernih, dan objektif mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu.

Tanyakan kepada dirimu sendiri, akan seperti apakah hidupmu jika kamu bertanggung jawab untuk kebahagiaanmu, kegagalan, serta keberhasilanmu, dan yang terutama adalah bertanggung untuk mencintai dirimu sendiri sebagaimana kamu ingin dicintai. Self acceptance (http://blog.blessburden.com/post/41616417618/benny-prawira-mengapa-penerimaan-diri-penting) dan self compassion (http://guetau.com/cinta/the-greatest-love-of-all.html) adalah salah satu aspek penting yang harus kita miliki dalam hidup kita agar bisa menjalani hubungan yang lebih sehat (http://guetau.com/cinta/hubungan-percintaan/so-sweet-selalu.html). Tentunya saat kamu mulai menyadari bahwa kebahagiaanmu, kesuksesanmu, dan kegagalanmu adalah tanggung jawabmu, maka kamu akan berhenti mencari orang lain di luar dirimu yang bertanggung jawab untuk memenuhi semua itu.

Buatlah sebuah rencana untuk mengembangkan semua potensi yang kamu miliki dan ikuti semua rencanamu yang tak terkait dengan cinta sama sekali. Kamu bisa saja merasa kesepian, sedih, dan frustrasi di masa awal pelepasan dari kecanduan cintamu tapi pada akhirnya nanti kamu akan mendapatkan hadiah terindah bagi dirimu sendiri. Kamu akan mengenali dan mencintai dirimu sendiri.

Sebagaimana cinta seharusnya berakhir untuk seumur hidup, maka cintailah dirimu sendiri dan orang yang kamu cintai sebagaimana adanya. Sulit memang untuk melakukan hal ini saat kita memiliki bayangan yang ideal. Tapi kamu sedang mencintai seorang manusia di sini, bukan bayangan pikiranmu sendiri. Terimalah ketidaksempurnaan mereka sebagaimana kamu harus menerima ketidaksempurnaanmu.

Kecanduan cinta bagaimanapun juga adalah bentuk kecanduan yang membawa efek negatif bagi pecandu dan orang sekitarnya. Cinta pada dasarnya tidak berawal dari rasa kekurangan, rasa kekurangan hanya akan berakhir pada keserakahan dan keserakahan tidaklah identik dengan cinta. Dengan kata lain, kecanduan akan cinta tak akan pernah menjadi sama dengan cinta, keduanya berbeda dan menghasilkan efek berbeda tak peduli seberapa kabur garis batas di antara keduanya. Sangatlah baik bagi kita untuk menyadari garis tipis ini, agar kita bisa mencintai dengan bijaksana dan dicintai dengan layak.

 ___

Ditulis Oleh: Benny Prawira, Kontributor GueTau.com

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 5 =