Warna Kulit: Tak Sekadar Hitam dan Putih

posted on 04/09/2016

    “Berandai-andai jadi bule berkulit putih, eh bulenya berlomba-lomba punya kulit coklat…”

Sahabat GueTau, sebagai anak muda yang tinggal di Indonesia, tentu kita nggak asing dengan iklan produk-produk kecantikan (dan kegantengan) yang menawarkan manfaat memutihkan kulit. Nggak tanggung-tanggung, mulai dari papan baliho sampai layar ponsel kita sendiri, ide bahwa kulit putih adalah kulit paling indah selalu muncul 7 hari 24 jam.

Apakah Sahabat GueTau merasa gerah dengan iklan-iklan itu? Yuk simak artikel berikut ini!

Warna Kulit Ideal itu Apa, Sih?

Ada satu versi yang dapat menjelaskan kenapa masyarakat saat ini cenderung mengidolakan warna kulit yang putih. Inferiority Complex, adalah sebuah kondisi psikologis ketika suatu pihak merasa inferior (lebih rendah, kecil, lemah) dibandingkan pihak lain, atau ketika ia merasa tidak memenuhi suatu standar dalam sebuah sistem. Kondisi ini dapat berujung pada pemujaan yang berlebihan pada suatu pencapaian atau kecenderungan untuk mencari pengakuan dari pihak lain.

Iklan Pemutih Kulit Bisa Menghipnotis

Nah, coba sekarang kita kembali ke dunia nyata. Sering ya kita lihat iklan produk pemutih kulit, di mana modelnya (yang aslinya memang berkulit cerah dari “sananya”) ditampilkan berkulit gelap dan nggak pede. Kemudian, dia mencoba produk pemutih kulit, dan ketika kulitnya udah putih bersinar, dia jadi riang gembira.

Sampai di sini, kita dapat menilai ya, bahwa iklan di atas memberikan sugesti yang sangat kuat bagi kita untuk percaya bahwa kulit putih lebih ideal dari kulit gelap. Maka nggak heran, ya, kalau secara nggak sadar masyarakat cenderung lebih “mengidolakan” teman-teman yang berkulit putih. Jadi penyanyi idola, jadi bintang film idola, bahkan mungkin diam-diam kita pernah berandai-andai ingin berkulit putih juga. Hmm…

Sebenarnya hal ini tidak serta-merta merupakan kesalahan kita. Ingat bahwa bangsa Indonesia pernah dijajah oleh Belanda selama 3 abad lebih (kecuali Aceh), sehingga paham bahwa orang kulit putih lebih “tinggi” dari orang kulit gelap, agaknya memang sudah mendarah-daging. Dan mungkin ini juga yang membuat Inferiority Complex di masyarakat kita begitu kuat.

Warna Kulit Ideal Hanya Ada di Kepala

Tetapi, lagi-lagi, yang namanya warna kulit ideal itu sebenarnya adalah konstruksi sosial. Artinya, masyarakat sudah dibentuk sedemikian rupa melalui sejarah, media, serta nilai yang ada untuk menyimpulkan bahwa kulit putih adalah sebaik-baiknya kulit. Sebagai remaja yang dibekali pengetahuan untuk mengambil pilihan yang bertanggung jawab, tentunya kita perlu sadar akan keadaan ini dan mengambil sikap.

Singkat kata, Sahabat GueTau, setiap orang berhak untuk memiliki ide sendiri tenang warna kulit yang ia anggap ideal. Suka warna kulit putih seperti Chelsea Islan? Monggo. Suka warna kulit sawo matang seperti Adinia Wirasti? Silakan. Suka warna kulit yang gelap seperti Ario Bayu? Sah-sah saja. Apapun itu, selalu ingat bahwa yang terpenting dari kulit adalah bukan terang atau gelap warnanya, akan tetapi sehat atau tidak kulitnya.

Kalau kamu, apa warna kulit ideal di mata kamu? Yuk, berbagi cerita ke tim GueTau di info@guetau.com! Ramaikan juga twitter, facebook, dan instagram GueTau ya 🙂

Oleh Gomat Saragih

Referensi:
1. http://www.kompasiana.com/andiihsandi/inferiority-complex-penyakit-akut-indonesia_552943c5f17e61b6558b456e
2. http://www.munsypedia.com/2016/03/kulit-indonesia-warna-kulit-yang.html

related post

Pola Hidup Sehat untuk Mencegah Risiko Kanker

posted on 10/03/2015

Dalam mencegah kanker kita perlu menerapkan pola hidup yang sehat dan seimbang baik fisik ataupun psikis secara konsisten. Sahabat GueTau, k

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *