Yuk Stop Slut Shaming dan Victim Blaming!

posted on 10/01/2014

Hai Sahabat GueTau, pernah dengar tentang “slut shaming”? sebagian dari kita mungkin masih asing dengan kata ini tapi terjadi setiap hari loh! Slut shaming atau dalam bahasa Indonesia kita sebut sebagai setiap kata yang di ucapkan dengan tujuan menghina, merendahkan, mengolok, mempermalukan, melecehkan dan sebagainya kepada objeknya yang kebanyakan adalah perempuan karena sikap tertentu yang tidak sesuai dengan nilai gender atau kepercayaan yang berlaku di lingkungan tempat tinggalnya yang masih konservatif atau tidak mampu menerima nilai-nilai baru yang hadir dalam lingkungan yang ditinggali.

 

Sahabat GueTau, slut shaming termasuk kedalam pelecehan seksual loh karena sifatnya yang tidak diinginkan. Ingat kata “tidak diinginkan” merupakan kata kunci untuk kita memahami setiap bentuk pelecehan seksual. Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita pun pernah menjadi korban karena ketidaktahuan kita mengenai hal ini. Nah apa saja bentuk slut shaming? Yuk kita cari tahu!

  1. Slut shaming dalam bentuk verbal. Pelecehan dalam bentuk ini berupa ucapan atau panggilan tidak menyenangkan dan tidak diinginkan. Misalnya memanggil perempuan yang memakai rok mini dengan panggilan “pelacur”, “cabe-cabean,” dan sebagainya. Kebebasan untuk mengekspresikan diri dalam bentuk pakaian yang kita pakai merupakan hak masing-masing individu dan tidak ada seorang pun yang boleh mencampuri apalagi melecehkan, hak ini tertuang dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusi Internasional yang apabila dilanggar berarti kita melanggar hak asasi manusia.
  2. Slut shaming non-verbal. Misalnya memperlihatkan gambar atau video porno yang menimbulkan perasaan tidak nyaman dan tidak diinginkan, mengedipkan mata atau menunjukkan bagian tubuh tertentu kepada subjek sebagai isyarat untuk melakukan  hal yang tidak di inginkan.
  3. Slut shaming dalam bentuk sentuhan. Bentuk inilah yang disebut sebagai pelecehan seksual. Sentuhan yang dimaksud adalah sentuhan yang tidak di inginkan dan menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan trauma yang mengganggu fisik dan psikologis korban. Contohnya ialah meraba dada, pantat, atau bagian tubuh lainnya. Jika dibiarkan sentuhan ini akan berujung pada kekerasan seksual misalnya pemukulan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan.

 

Seringkali slut shaming yang terjadi diiringi dengan victim blaming. Victim blaming atau menyalahkan korban sebagai penyebab terjadinya pelecehan yang terjadi. Misalnya stigma kepada korban perkosaan yang terjadi dalam budaya dengan adat yang kuat dan tabu mengenai seksualitas. Korban perkosaan dianggap “rusak” karena sebelumnya perawan kemudian tidak perawan lagi. Penyebab terjadinya perkosaan adalah perempuan itu sendiri yang berpakaian “seksi” dan tidak mampu menjaga dirinya.

Dalam kasus ini korban perkosaan kemungkingan diasingkan, tidak diterima oleh teman bahkan keluarga, dilarang menikah, bercerai ketika menikah bahkan dibunuh. Fenomena ini disebut sebagai “korban sekunder” karena korban yang sudah menjadi korban perkosaan kembali menjadi korban peminggiran sosial yang dilakukan oleh lingkungannya yang masih konservatif. Hal ini akan menimbulkan efek jangka panjang kepada korban yang kemungkinan besar mempengaruhi kualitas hidup dan hubungannya dengan lingkungan sosial.

  1. Ketakutan yang bercampur dengan kemarahan. Ketakutan jika ia akan kembali dijadikan objek dan perasaan marah kepada pelaku.

  1. Menunjukkan sikap bermusuhan. Sikap ini muncul karena berkurangnya kepercayaan kepada orang lain.

slut3

  1. Merasa malu dan bersalah, perasaan cemas yang berlebihan harga diri yang rendah.

  1. Gangguan perilaku. Misalnya lari dari rumah, tidak masuk sekolah, jarang berbicara dan sebagainya.

slut5

 

Korban pelecehan akan mudah depresi dan mengasingkan diri dari lingkungan karena perasaan malu dan rendah diri dan beresiko menjadi korban pelecehan kembali karena pandangan yang terbangun adalah korban lemah dan tidak mampu melawan sehingga cenderung menjadi target pelecehan.

Sahabat GueTau, korban slut shaming memiliki hak kehidupan yang sama dengan kita yaitu hak untuk hidup bahagia dan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Jika kamu mempunyai teman atua anggota keluarga yang pernah menjadi korban yuk kita bantu proses penyembuhan trauma dan depresi yang di alaminya. Sebagai referensi Sahabat GueTau bisa membaca artikel GueTau di  http://guetau.com/cinta/pelecehan-dan-kekerasan/cari-tau-cara-mengatasi-trauma-kekerasan-dan-membantu-korban-yuk.html.

 

Demikian artikel kali ini semoga menjadi informasi yang bermanfaat dan jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman-teman kamu melalui media sosial ya agar semakin banyak yang tau dan semakin harmonis kehidupan yang kita jalani. Jika ada saran dan kritik silahkan kirim ke info@guetau.com.

 

Ditulis oleh Maria Yuno

 

Referensi:

1. http://en.wikipedia.org/wiki/Slut_shaming

 

 

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + 10 =