Belajar Bahasa Isyarat

posted on 16/05/2016

    BISINDO 1
    (Sumber: Dokumentasi pribadi Cintra)
    “Sahabat GueTau pasti nggak asing dengan lagi dengan bahasa isyarat. Metode komunikasi ini biasanya digunakan oleh teman-teman tuli. Namun demikian, teman-teman yang mendengar juga sangat dianjurkan untuk mengenal BISINDO. Kenapa, yah? Yuk simak di bawah ini!”

Menyenangkan untuk Semua

Sahabat GueTau, belajar BISINDO ternyata menyenangkan, loh. Nggak percaya? Cintra (23), mahasiswi Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Kimia, merupakan salah satu peserta kelas BISINDO yang diselenggarakan komunitas Youth for Diffable sejak akhir Januari 2016. “Kelasnya setiap Sabtu pukul 9.00-11.00 WIB di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kita juga rutin buka kelas publik di taman-taman kota dan Car Free Day,” ujarnya (27/4).

Peserta kelas BISINDO diajar oleh guru tuli secara langsung, tanpa didampingi interpreter. “Sama seperti ketika kita belajar bahasa asing langsung dari native speaker-nya, ketika belajar BISINDO dengan guru tuli langsung, maka kita akan terbiasa untuk berisyarat,” jelas Cintra.

Cintra mengikuti kelas BISINDO bersama 20-an peserta lainnya, baik tuli maupun mendengar. Ada yang berstatus mahasiswa, pelatih taekwondo, pekerja sosial, pengacara, pegawai bank, perawat, hingga ibu rumah tangga.

Kenapa Belajar Bahasa Isyarat?

    BISINDO 2
    (Sumber: Dokumentasi pribadi Cintra)

Berdasarkan data dari Gerkatin pada 2008, teman-teman tuli di Indonesia berjumlah sekitar 6 juta jiwa. Keberadaan teman-teman tuli bukan untuk diasingkan, apalagi didiskriminasi. Akses akan layanan dan informasi merupakan hak dasar yang belum dapat mereka peroleh dengan optimal.

Sahabat GueTau, salah satu kebutuhan utama dari teman-teman tuli ternyata adalah akses. Akses yang seperti apa? Misalnya, disediakan subtitle pada acara-acara televisi. Atau, untuk acara berita, disediakan juru bahasa isyarat. Dalam kegiatan perkuliahan atau seminar, perlu disediakan juru bahasa isyarat dan notulen.

“Di kendaraan umum juga ternyata masih kurang ramah terhadap teman-teman tuli,” lanjut Cintra. “Sebagai contoh, di KRL Commuter Line saat malam hari, teman-teman tuli kesulitan memastikan stasiun tujuannya, karena di dalam kereta tidak ada papan pemberitahuan yang secara visual menyampaikan informasi mengenai stasiun yang sedang dilalui. Di sisi lain, papan nama stasiun di peron juga kerap gelap gulita.”

Inilah mengapa teman-teman yang mendengar pun perlu mempelajari BISINDO, yakni untuk membantu teman-teman tuli memperoleh akses yang memang menjadi haknya.

Remaja Tuli Mandiri dan Inspiratif

Cintra mengamini bahwa tidak perlu memandang teman-teman tuli sebagai orang yang ‘aneh’, apalagi perlu dikasihani. Teman-teman tuli justru akan sangat mengapresiasi jika kita mendorong mereka agar bisa semakin mandiri. Tidak percaya bahwa teman-teman tuli bisa mandiri dan berkarya sama seperti teman-teman mendengar? Berikut adalah publik figur, yang karena kemandirian dan bakatnya, menjadi idola para teman-teman tuli:

1. Surya Sahetapy (aktivis tuli, aktor)

    BISINDO 3

    (Sumber: http://media.nationalgeographic.co.id)

2. Angkie Yudistia (None Jakarta Barat 2008, Founder & CEO Thisable Enterprise)

    BISINDO 4
    (Sumber: detik.com)

3. Nyle DiMarco (model, pemenang America’s Next Top Model Cycle 22)

    BISINDO 5
    (Sumber: http://logoonline.mtvnimages.com)

4. Rafi Ridwan (desainer muda)

    BISINDO 6
    (Sumber: http://www.paulatrendsets.com)

Demikian, Sahabat GueTau, ulasan singkat tentang BISINDO. Tertarik untuk tahu lebih lanjut? Silakan hubungi tim GueTau di info@guetau.com.

Oleh Gomat Saragih

Referensi:
http://tunarungu.net76.net

related post

Klinik Masturbasi untuk Difabel

posted on 25/05/2016

“Hasil survey NSPCC (National Society for the Prevention of Cruelty to Children), hampir 63% kasus pelecehan seksual dilaporkan oleh o

One thought on “Belajar Bahasa Isyarat

  1. Halo, redaksi GueTau.. Mohon diralat, bahwa saya tidak mengeluarkan pernyataan “Kita juga rutin buka kelas publik di taman-taman kota dan Car Free Day”..

    Karena, kelas isyarat di Car Free Day dan di perpustakaan Kemendikbud penyelenggaranya beda.

    Kelas di Kemendikbud diadakan oleh youth for diffable – komunitas anak muda yg berfokus pada isu disabilitas, sedangkan di Car Free Day diadakan oleh GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), yang beranggotakan Tuli dari seluruh wilayah Indonesia.

    Terima kasih sebelumnya.
    salam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen + three =