Dilema antara Cinta dan Kebebasan

posted on 18/03/2013

Sahabat GueTau, pernah dong mendengar bahwa kita adalah makhluk sosial yang terikat dan membutuhkan satu sama lain? Sebagai makhluk sosial, kita juga menginginkan sebuah keterikatan yang hangat dengan manusia lainnya. Perlindungan dan kenyamanan di dalam hubungan yang memastikan kehadiran kita sebagai manusia diinginkan dan memiliki arti di dunia.

Di sisi lain, Sahabat GueTau pernah sadar nggak kita semua memiliki sebuah kerinduan akan kebebasan di dalam dirinya? Kita semua ingin menunjukkan diri kita, memiliki identitas kita yang asli, dan terpenuhi semua hak kita. Semua manusia yang hidup dan sadar bahwa dirinya memiliki kehidupan ingin merasakan kebebasan untuk menjalani hidup sebagaimana yang diinginkan olehnya.

Di titik ini, akhirnya kita bisa melihat bahwa keduanya bisa menjadi bertentangan.

Nah lho? Terus mana nih yang harus Dahabat GueTau utamakan? Kebebasankah? Cintakah?

Beberapa orang teramat menginginkan cinta, hingga akhirnya tidak menghargai kebebasannya sendiri sebagai individu. Mereka menjadi begitu penurut, rela berkorban, dan bahkan hendak melakukan segalanya bagi orang yang mereka cintai. Kebebasan mereka diserahkan begitu saja agar mereka bisa terikat dalam hubungan yang menurut mereka membawa perlindungan, kenyamanan, dan rasa berharga agar mereka bisa merasakan kebahagiaan. Pada akhirnya, mereka justru terjebak di dalam perbudakan yang mereka inginkan dan ciptakan tanpa sadar. Tanpa kebebasan untuk menjadi dirinya, mereka akhirnya kehilangan jati diri. Jati diri yang hilang akan menyebabkan kebingungan lebih jauh untuk mengetahui kebahagiaan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Dari sini, kebahagiaan akan semakin menjauh bagi mereka yang menyerahkan kebebasan ke dalam cinta.
Sementara itu, banyak pula orang yang menginginkan cinta mutlak dari pasangannya, tanpa ada kebebasan sama sekali. Pernah dengar orang-orang posesif? Mereka adalah orang yang terlihat begitu menginginkan cinta dan memblokir semua kebebasan pasangannya. Tanpa sadar, akhirnya cinta seperti itu ternyata membawa lebih banyak kesengsaraan dan belenggu. Mereka hanya akan bisa merasakan keamanan dan kenyaman saat semua kebebasan pasangannya menjadi miliknya semata. Sayangnya, saat memasuki diri posesif ini, mereka bukan hanya menciptakan belenggu bagi orang lain tapi juga belenggu bagi dirinya sendiri. Mereka menjadi begitu khawatir, takut ditinggalkan, takut kehilangan kuasa dan cinta dari pasangannya. Mereka menjadi terlalu terobsesi dan terikat dalam fluktuasi negatif ini. Kebahagiaan yang menetap pun tak akan dirasakan oleh mereka.

Beberapa orang menganggap cinta adalah luka. Beberapa orang menganggap kebahagiaan hanya akan ada jika dirinya bebas tanpa ada cinta hadir di dalam kehidupannya. Ketakutan akan cinta membawa kembali trauma yang pernah dirasa ataupun ketakutan bahwa cinta hanya akan mengikat dirinya dan membatasi kehidupannya, akhirnya perlahan-lahan berusaha menekan salah satu aspek yang sesungguhnya juga mereka butuhkan. Mereka menjadi individualis, menolak sisi kebutuhan sosial tertinggi mereka, yaitu cinta. Sebisa mungkin akhirnya cinta ini dihindari dan melarikan diri kepada hal-hal lain yang ia bisa penuhi, berusaha menutup mata dari cinta dan mengisolasi hati darinya.

Pelarian diri dari cinta akhirnya akan menghilangkan kehangatan yang dibutuhkan oleh individu sebagai makhluk sosial. Semakin dingin, semakin meluas pula kesepian. Namun, apa yang telah ditinggalkan oleh seseorang tak mungkin dihilangkan begitu saja dengan mudah. Obsesi kepada pekerjaan, pemberontakan yang egoist dalam hubungan atau bahkan menghindari komitmen dalam hidup hanyalah bendungan yang sebisa mungkin dibangun untuk mencegah cinta masuk. Tapi semakin ditahan, semakin tertekan pula seseorang. Semakin ingin memberontak balik dari tekanan ini, semakin ingin berlari, semakin kuat tekanannya. Kesepian datang, disadari ataupun tidak, diterima ataupun ditolak kehadirannya, pada akhirnya, eksistensi kesepian yang menguat malah merusak kebahagiaan.

Cinta dan kebebasan, keduanya bertentangan tapi sama dibutuhkannya. Keduanya harus berada di dalam keseimbangan menuju kebahagiaan. Kita tak bisa memilih salah satu: kebebasan atau cinta. Cinta seharusnya membebaskan agar kita bisa bertumbuh kembang dengan positif. Kebebasan seharusnya juga mencintai agar kita tak tenggelam dalam tekanan kesepian. Inilah dilema eksistensi yang terus ada sepanjang hidup kita dan harus kita atasi untuk bisa berbahagia di dalam kehidupan. Be free, be lovely, be happy!

Love is union with somebody, or something, outside oneself, under the condition of retaining the separateness and integrity of one.

 –Erich Fromm-

___

Ditulis oleh Benny Prawira, Kontributor.

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 1 =