Cinta itu Politis

posted on 16/01/2013

Selalu ada perbedaan atau ciri yang muncul ke permukaan ketika kamu sedang berurusan dengan cinta. Dari mulai jatuh cinta, berpaling, atau bahkan ketika putus cinta. Semuanya, mau tidak mau, sadar atau tidak disadari, memberikan efek atau pengaruh tertentu kepada kehidupanmu dan lingkunganmu.

Misalnya, ketika kamu sangat peduli dan sayang pada seseorang, kamu pasti akan terus menerus ingin tau tentang dia dari A sampai Z. Kamu ingin terus memperdalam ‘pengetahuanmu’ soal dia dan hal tersebut pasti mempengaruhi pola berpikirmu hingga kadang-kadang pola hidupmu. Kamu yang tadinya tidak suka olahraga, karena ‘seseorang’ itu menekuni olahraga, kamu jadi – paling tidak – baca artikel soal olahraga. Atau, yang tadinya kamu merasa musik Jazz adalah musik terbaik di dunia, karena ‘si dia’ suka jenis lain, kamu juga jadi tertarik untuk memperlebar telinga untuk mencoba menikmati musik lain. Serta masih banyak lagi.

Bagus ketika perubahan-perubahan tersebut memacumu ke arah positif – seperti misalnya menambah wawasanmu atau mengembangkan cara berpikirmu menjadi lebih terbuka dari sebelumnya. Namun ada kalanya, kekuatan ‘politis’ bernama cinta malah membawa kamu menjadi pribadi yang mundur. Misalnya, ketika kamu punya kekasih yang sangat posesif, dan kamu cinta padanya, maka atas nama cinta, kamu harus menuruti kemauannya dan menghindar dari pergaulan komunitas atau teman-temanmu. Ini dia sisi politisnya, karena perilakumu atau karaktermu di dalam ranah publik (yang bersinggungan dengan orang lain) mengalami perubahan.

Ketika kamu berkomitmen untuk menjalin hubungan percintaan dengan orang lain, ini juga merupakan tindakan yang politis. Ketika kamu berpikir, mempertimbangkan, dan memutuskan; semua hal itu adalah proses yang pasti dalam pelaksanaannya dipengaruhi atau mempengaruhi banyak hal yang mana ini dinamakan politis. Komitmen yang kamu dan pasanganmu sepakati dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari juga pasti membawa pengaruh (baik itu positif dan negatif) terhadap wahana kehidupan kalian yang lain.

Jangan lupa, karena cinta terjadi secara psikologis, maka cinta jelas-jelas adalah bagian dari pertumbuhan dan perkembanganmu sebagai manusia. Dan, karena manusia itu politis, maka politislah pula kehidupan percintaannya.

Remaja Indonesia, seperti apa nih gambaran bahwa cinta mempengaruhi kehidupanmu sehari-hari? Sharing disini, boleh lho 🙂

___

Sumber: Why We Love, Helen Fisher

 

 

 

 

related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − 4 =